Dua jam berlalu, Adi akhirnya bisa duduk santai di bus ekonomi ber-AC itu. Adi duduk di dekat jendela. Di samping Adi duduk seorang pemuda yang seumurannya dengannya, bus itu tampak penuh bahkan banyak penumpang berdiri karena kehabisan tempat duduk. Agak susah untuk berbuat baik di dalam bus ekonomi seperti ini, walaupun Adi mendapati bapak-bapak yang sudah tua tidak dapat tempat duduk dan harus berdiri sambil berdesakan. Dengan kondisi bus yang padat tak memungkinkan untuk menukar tempat duduk, bisa-bisa malah berakibat penumpang lain tergencet.
Dibandingkan rasa capeknya saat ini, Adi merasa lebih capek untuk menutup rasa malunya di terminal tadi. Dia masih terbayang bagaimana tangannya dengan indah melambai lambaikan pusaka merah muda itu di depan puluhan bahkan ratusan pasang mata di terminal tadi.
Untung saja tidak ada anggota ormas anarkis di sana. Bisa-bisa Adi dituduh melakukan tindakan pemberontakan terhadap kedaulatan NKRI karena sudah mengibarkan bendera merah muda berbentuk segitiga berenda di tengah tengah ratusan orang.
Tangan Adi masih memegang kantong plastik hitam berisi pusaka merah muda berenda. Awalnya dia berfikir untuk membuangnya tapi hati kecilnya mengatakan dia harus mengembalikannya walau tidak sekarang, tapi nanti setelah dia kembali ke kota Malang karena Adi akan mudik untuk tiga sampai lima hari kedepan.
Awalnya Adi berfikir untuk menaruh bungkusan itu kedalam tas ranselnya, namun Imajinasinya mulai merusak niatnya itu. "Tas ranselku bisa ternoda,"batin Adi. "Lipstik dan bedak saja tidak pernah masuk ke tas ini, sekarang tas ini harus aku nodai dengan memasukkan pusaka keramat ini, aku enggak sanggup!"batin Adi. Ia berdebat dengan imajinasinya yang mulai berlebihan.
Srekkk Duk Cesss bungkusan itu jatuh ke lantai bus karena Adi terlalu khusuk menghayal yang aneh-aneh. Tiba tiba dengan sigap pemuda di samping Adi bermaksud baik untuk membantu Adi mengambil barangnya yang jatuh. Entah karena ikatannya kurang kuat atau ikatan kresek itu sedikit terbuka sehingga isi dari kresek itu bisa terlihat jelas.
"Lucu ya mas," kata mahasiswa itu sambil mengembalikan bungkusan itu ke Adi, pemuda itu sepertinya sudah tahu isi dari tas kresek itu.
"Ahh ehh Iya," kata Adi gugup tapi malah mengiyakan perkataan pemuda tadi. Adi berharap obrolan ini sampai disini saja, dia tidak bisa membayangkan bila ada dua orang cowok berbincang mengenai celana dalam merah muda sambil memuji keimutan dari pusaka keramat itu.
"Boleh liat enggak mas? Kayaknya model modelnya lucu deh mas. Mas jualan ya?" lanjut pemuda itu, entah bermaksud sok akrab guna memperteguh slogan Rakyat Indonesia yang katanya masyarakat yang ramah dan baik atau memang mahasiswa itu doyan hal-hal begituan. Adi bingung harus merespon seperti apa keramahan pemuda di sampingnya namun apapun alasannya Adi tidak mau terjebak di oborolan tentang pelindung selangkangan itu.
Adi berfikir sejenak bagaimana cara menolak keinginan mahasiswa sok akrab itu dengan sopan namun mahasiswa yang kebanyakan gaul itu malah berimprovisasi dengan mengambil sendiri pusaka merah muda itu dari kantong kresek yang dipegang Adi. Dielusnya pusaka itu sambil berkata."Kainnya bagus mas." Adi hanya terdiam mematung bingung harus menanggapi apa.
Adi sudah mulai gila. Apalagi sudah ada beberapa pasang mata yang mulai memandang interaksi dua pemuda yang sedang bermain dengan pusaka keramat milik perempuan yang tidak seharusnya digenggam manusia berbatang seperti Adi dan pemuda sok akrab itu. Kini mahasiswa sok akrab itu merentangkan pusaka merah muda yang dia pegang. Rasanya Adi ingin mengambil alih pusaka itu lalu menaruhnya ke singgasanannya di kresek hitam yang dia pegang tapi dia tidak ingin membuat suasana semakin tidak enak.
"Ini ukurannya S ya mas? Ini buat yang bokong kecil," tawa mahasiswa itu sok asik. Adi malah melihatnya seperti mahasiswa cabul.
"Anak saya sering beli yang model begini. Adik jualan ya? Kalau masih ada, bapak boleh lihat model modelnya?" tiba tiba seorang bapak-bapak yang kira kira berumur 50 tahunan yang dari tadi berdiri di bus ikut nimbrung diobrolan persempakan yang hina itu. Kenapa masyarakat indonesia menjadi tiba-tiba begitu ramah dan mudah akrab dikondisi seperti ini, batin Adi kesal.
"Kalo model begini berapa dik ?" tanya bapak itu lagi. Padahal Adi masih belum mengiyakan pertanyaan bapak sebelumnya.
"Oh ini cuman contoh contoh aja pak, nggak dijual. Jadi ini buat model kalo ada yang mesen secara grosir," jawab Adi bohong. Adi tiba-tiba berevolusi menjadi pengusaha sempak grosiran.
"Wah enterprenuer muda ya mas ini," Kata mahasiswa yang dari tadi diam sambil membolak balikan pusaka merah muda yang sama sekali tidak di lepas dari genggamannya.
"Buat selingan aja. Selain ini, ada tas baju sama sepatu juga kok pak," jawab Adi melanjutkan kebohongannya. "Ada jilbab, mukena, sarung , sejadah juga ada" lanjut Adi. Dia mencoba menyelamatkan dirinya dari cap pengusaha sempak, setidaknya ada barang yang lebih relijius yang dijualnya.
"Berarti ga bisa beli bijian ya dik?" Bapak itu terlihat kecewa. "Padahal anak saya pasti seneng kalo bapak beliin model ini." Adi hanya terdiam mendengar kekecewaan bapak itu. Antara percaya tidak percaya,.
"Ini bahannya bagus, lembut juga," ucap seorang ibu. Adi menoleh, dari mana asalnya? Tiba tiba sekarang seorang ibu-ibu yang duduk di kursi sisi lain sedang mengusap-usap pusaka merah muda itu. Adi tercengang sejak kapan pusaka itu berestafet kesana.
"Kalo murah, Ibu mau pesen buat dijual di toko ibu. Ini kualitasnya bagus banget," Lanjut ibu itu.
"CUKUPPPPPPPPPPP MEMBAHAS PERSEMPAKAN INIIIIIII !!!!!" JERITTT ADI DALAM HATI !!
Bersambung : Part 3. Pedagang Asli dan Pedagang Palsu
Jangan Lupa Voment...
Salam!!! SEMPAKERSSSSS !!!!
[NB : Tulisan ini sedang saya perbaiki bertahap, maaf bila ada typo atau penulisan yang kurang tepat ]
KAMU SEDANG MEMBACA
Celana Dalam Merah Muda
HumorCelana Dalam? Sebuah penemuan manusia yang kini mungkin berubah menjadi salah satu pusaka keramat yang identik dengan hal-hal yang tabu. Bagaimana jadinya bila seorang mahasiswa baru menemukan segempok celana dalam dalam bungkusan plastik yang t...
