16. Dia.. Dia.. Dia.. Kang Rujak

8.5K 511 6
                                    

Angin berhembus begitu kencang, daun daun yang kering mulai jatuh satu demi satu menapak tanah yang berdebu, kaki Adi melangkah ditemani mentari yang sudah tidak lagi terik menyengat kulit kulit yang telanjang menantang siang. Entah apa alasan yang akan dikatakan Adi nanti ketika akan bertemu dengan fFiska, namun untuk kali ini dia tidak ingin memendam rasa lagi, dia ingin bertemu, mungkin saja Adi akan mencoba mengucapkan maaf atau mungkin saja akan berterima kasih atas kejadian beberapa hari yang lalu. Adi belum memustuskan harus beralasana apa nanti disana.

Langkah Adi mulai berat saat mendapati dirinya sudah sangat dekat dengan kost gadis yang akan dia temui, hingga beberapa meter sebelum kakinya menapak didepan gerbang Kost Friska, Adi menhentikan langkah kakinya, dihirupnya nafasanya dalam dalam, entah kenapa jantungnya berdebar begitu kencang. Ketika Adi mencoba membaranikan diri, dia baru ingat dia belum membuat janji dengan Friska, sehingga mungkin saja Friska sedang tidak ada di kostnya.

Otaknya mulai berfikir, dia berencana menelfon friska menanyakan keberadaannya gadis itu. Dengan cukup gugup, Adi mencari kontak friska lalu menekan tombol panggil, "Nomor yang ada tuju tidak bisa dihubungi" begitulah suara yeng keluar dari ponsel Adi. Adi mencoba meng SMS Friska, tapi ternyata tidak terkirim.

"Sial !" Ketus Adi, modal keyakinan dan keberanian ternyata tidak berguna bila tidak diikuti oleh perencanaan yang jelas.

Adi berikir lagi untuk kesekian kalinya, dia kan mencoba menunggu friska 30 menit, mungkin saja dia sedang di kampus sehingga ponselnya lowbat lalu mati sehingga mungkin sebentar lagi dia akan pulang, atau mungkin saja dia sedang di kost dan lupa menyalakan ponselnya.

Kebetulan sekali didepan kost Friska ada pedagang rujak yang sedang menjajakan jualanya, Adi memutuskan untuk numpang duduk disana sambil memesan satu porsi rujak buah. Satu demi satu potongan buah bercampur bumbu pedas manis masuk kedalam mulut Adi. Sambil berbincang dengan pedagang rujak ,adi menikmati waktu waktu menunggunya, hingga akhirnya tangan Adi sudah menjamah porsi rujak yang kedua, sambil lanjut mengobrol santai dengan pedagang rujak.

"Makasih loh mas, sudah nemenin bapak disini hampir dua jam lebih, seneng juga kalau jualan ada temen ngobrol kayak gini" Kata Bapak penjual rujak.

"Aku udah dua jam pak disini" Adi kaget lalu langsung melihat jam di ponselnya, ternyata sudah 2 jam 20 menit dia duduk disana, adi mencoba mengubungu Friska lagi namun operator sok asik itu yang menjawab.

"Nunggu ceweknya ya Mas, Dari tadi bapak perhatikan lihat kost didepan terus ?"

"Eh enggak pak, bingung juga mau jelasin pak?" Kata adi bingung

"Ohh tunangan toh, bapak ngerti kok istilah tunangan tunangan gitu, tapi kalo bapak dulu ga ada tunangan tunangan , langsung lamar besoknya akad nikah, malamnya langsung.."

"Stop pak, sampai disana saja" kata adi tidak ingin mendengar kisah percintaan Bapak penjual rujak.

"Bapak kok mikirnya kejauhan pak, bukan pacar kok malah tunangan gimana sih pak" Kata Adi.

"Ya bapak kan hanya nebak, Masnya sih dari tadi nunggu tapi wajahnya anteng anteng aja, ga marah atau kesel, kayak ikhas banget gitu, kan bapak kira ada ehem ehem gituh" Kata penjual rujak itu.

Seorang Gadis keluar dari kost Friska, adi tidak memperhatikannya karena sibuk mengobrol dengan bapak penjual rujak.

"Pak Rujaknya satu, kayak biasa ya pak, Pedes" Kata gadis itu memesan rujak.

"Eh neng Rahma sendiri aja, tumben ga sama neng Friska"

"Friskanya masih kuliah pak, kalau saya seharian ga ada kuliah pak"

"Ini loh masa tanya neng rahma kalau sedang nyari penghuni kost didepan , neng rahma kost disana juga" kata Pak penjual rujak.

Rahma menoleh kearah Adi, adi yang sudah sadar dari awal Rahma berbicara mencoba untuk sembunyi, dia tidak tahu harus beralasan seperti apa bila rahma mendapatinya duduk berjam jam di depan kostnya, karena pasti bapak penjual rujak ini akan berbicara seenaknya.

Celana Dalam Merah MudaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang