Berbeda, jauh sangat berbeda dibanding saat pertama kalinya Adi bertemu dengan Mbak Rahma, bagi seorang normal lelaki yang mengetahui bahwa Rahma mungkin memiliki perasaan kepadanya tentu sikap Adi ga mungkin bisa sama, mungkin karena panik atau grogi fikiran Adi terus berkembang kemana mana, mungkin dulu fikirannya hanya bagaimana cara mengembalikan celana dalam pusaka itu. kini Adi memandang Rahma sebagai wanita seutuhnya, wanita yang jauh lebih tua darinya, wanita yang sebentar lagi lulus kuliah lalu mungkin akan menikah, wanita yang memiliki tubuh yang padat berisi dibandingkan dengan wanita lainnya.
"Kamu capek Di?" tanya Rahma lembut.
"Eh eh iya Mbak, tadi karena takut telat aku lari larian" kata Adi sambil mencoba mengatur nafasnya agar kembali normal.
"Minum dulu aja, ini minum minuman Mbak aja dulu kalau beli dulu pasti lama antriannya panjang" kata Rahma menyodorkan minumannya.
"Enggak Apa apa mbak" tanya Adi.
"Enggak Apa apa kok" kata Mbak Rahma tersenyum, Adi lalu mengambil minuman Mbak Rahma dan meminumnya.
"Aku ciuman secara ga langsung dengam Mbak Rahma" tiba tiba kata kata itu terlintas didalam fikiran Adi, Pletaaakkk. Adi langsung memukul kepalanya sendiri mencoba menghapus kata kata itu dari kepalanya.
Sial kenapa kata kata itu keluar dikapalaku, aku ini bukan anak alay yang penuh imajinasi liar seperti itu, kenapa fikiran kekanak kanakan itu bisa ada dalam otakku, apa mungkin karena capek jadi peredaran darah ke otakku jadi menipis karena darah lebih memilih menyebarkan kandungan oksigen ke otot otok motorikku agar tidak lemas sehingga IQ ku jadi lemah seperti ini. Bagitulah suara batin Adi berdebat sendiri.
"Kamu kenapa Di, kok kepalamu dipukul pukulin begitu?" tanya Mbak Rahma Heran, dia melihat Adi dengan tatapan heran. Wajah Rahma begitu luar biasa, wajah yang kalem dengan senyuman yang indah dan tatapan yang menghangatkan suasana membuat wajah Adi langsung memerah, kini darahmya mengumpul di wajahnya namun belum sampai pada otaknya.
Ciuman Mbak" kata Adi spontan, What The Hell, aku bilang apa umpat Adi dalam hati.
"Ciuman ? Siapa?" kata Mbak Rahma bingung sambil melihat kesekelilingnya mencari hal yang Adi sebutkan tadi.
"Eh ah EH" kata Adi gagap, dia tak sadar kata kata itu bisa keluar dari mulutnya.
"Kamu ga apa apa Adi" tanya Mbak Rahma tertawa kecil melihat Adi yang begitu gugup.
"Maaf Mbak aku masih belum fokus" Adi mencoba jujur dengan keadaannya.
"Ya udah Adi kamu nafas dulu biar tenang, kamu sih kenapa harus lari larian pelan pelan aja loh ga apa apa, Mbak nunggu agak lama dikit juga ga apa apa kok" kata Rahma ramah, lagi lagi adi tak sanggup melihat wajah Rahma, kenapa dia begitu grogi melihat wajah gadis itu, Adi belum bisa menemukan alasannya.
"Jadi Ada apa nih?" kata Rahma bertanya, Rahma sekarang cukup penasaran kenapa Adi sampai menyuruhnya ketemu dengan mendadak seperti ini.
"Anu ehh Anu" Di perjalan tadi Adi lupa memikirkan alasan yang tepat untuk menutupi kebohongan Febri.
"Kamu lagi ada masalah kah ?" tanya Rahma, nada Rahma semakin penuh tanya.
"Ya mbak Eh Ga mbak, anu" Merasa Rahma bertanya begitu intens Adi semakin gugup dan tak bisa berfikir lebih jauh lagi, imajinasinya seperti digembok dan tak bisa menari nari untuk membuat cerita yang tepat.
"Kamu butuh bantuan aku, aku pasti akan bantu kok kalau itu memang tujuanmu Di" kata Rahma lagi lagi dengan senyum indahnya, Adi merasa tak bisa berbuat apa apa, berbohong malah akan membuatnya semakin berasalah, Rahma terlihat begitu antusias dengan apa yang dia katakan jadi mungkin seharusnya Adi jujur dengan kejadian yang sebenarnya.
"Ini semua ulah Febri Mbak, dia membajak ponselku dan menulis pesan ke Mbak agar kita ketemu disini, jadi begitulah" kata Adi mencoba menjelaskan, hatinya agak lega setelah jujur kepada Rahma.
"Ohh" Kata Rahma singkat, Rahma ingin berkata lebih panjang untuk menyembunyikan kekecewaannya tapi dia tidak bisa menahan lidahnya dan kata kata Oh saja yang keluar, ingin sekali dia pura pura tertawa seperti berkata Febri jahil ya, atau Febri emang selalu bikin kejutan atau hal hal yang terdengar asik lainnya tapi malah Rahma tetap tak bisa.
"Maaf mbak" Adi benar benar merasa bersalah.
"Ga apa apa kok Adi" kata Rahma dengan berat hati, dia mencoba menyembunyikan kekecewaannya tapi tetap masih terdengar dari setiap kata yang dia ucapkan.
"Aku tahu Mbak kecewa"kata Adi menatap wajah Rahma, ini pertama kalina Adi menatap wajah Rahma dengan begitu serius, rasa Grogi tadi berubah menjadi rasa bersalah, Adi tak tega wajah cantik itu murung seperti itu.
"Ga kok Di, aku ga apa apa kamu ga perlu minta maaf" kata Rahma mencoba memalingkan wajahnya.
"Tapi aku harus minta maaf Mbak, aku tahu mbak tidak suka dengan ini semua" kata Adi.
"Aku ga kecewa kok, aku ga apa apa kok Di , santai aja" kata Rahma pelan.
"Aku tahu Mbak kenapa kenapa" todong Adi. Adi merasakan perasaan Rahma.
"Kenapa aku harus kenapa kenapa Di?" kata Rahma dengan suara agak meninggi.
"Aku minta maaf Mbak" kata Adi lagi.
"Kamu tidak perlu bicara begitu lagi, kenapa kamu terus meminta maaf" kata Rahma, Rahma masih kecewa namun masih mencoba menyembunyikannya.
"Karena aku juga akan merasakan hal yang sama kalau itu terjadi denganku, terlepas ini adalah ulah Febri tapi aku harus jujur mengatakan bahwa aku tidak menyesal datang kesini Mbak" kata Adi mencoba jujur dengan dirinya sendiri, kata kata itu keluar tanpa dia fikirkan. spontan dari hatinya.
"Maksud kamu?" kata Rahma yang masih kaget dengan kata kata Adi tadi.
"Intinya, Semoga Mbak ga merasa kecewa dengan kebohongan Febri, dan menganggap bahwa sebenarnya aku yang mengundang Mbak untuk bertemu disini" kata Adi.
Pemuda itu sedang mengusap usap hati Rahma yang perih karena kenyataan tadi, apakah ini hanya omong kosong Adi untuk menutup kebohongan tadi, tapi cara Adi cukup efektif, hati Rahma pelan pelan terasa nyaman dan rasa kecewa tadi kini mulai hilang.
"Apa undangan aku sudah bisa ditermia mbak?" tanya Adi kepada Rahma yang masih belum menjawab.
"Terus kalau aku terima undanganmu ini, terus tujuan kita bertemu apa?" tanya Rahma.
"Membuat Mbak lupa kalau ini semua adalah ulah Febri, dan menganggap bahwa ini adalah ajakan aku pribadi" kata Adi berdiri lalu menyodorkan tangannya Ke Rahma.
"Kita mau ngapain Di" kata Rahma Bingung.
"Rahasia" Adi lalu memegang tangan Rahma lalu menariknya sehingg Rahma berdiri dari duduknya.
"Di ?"
"Mbak ikutin aku aja, aku rasa ini akan menyenangkan" Adi tersenyum.
NB : Selain saya publish di Wattpad, tulisan ini saya publish juga di SFTH Kaskus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Celana Dalam Merah Muda
HumorCelana Dalam? Sebuah penemuan manusia yang kini mungkin berubah menjadi salah satu pusaka keramat yang identik dengan hal-hal yang tabu. Bagaimana jadinya bila seorang mahasiswa baru menemukan segempok celana dalam dalam bungkusan plastik yang t...
