Semua berawal dari Febri, waktu itu matahari bersinar lebih terik dari biasanya. Musim kemarau memaksa daun-daun mengering lalu berterbangan hingga jatuh ke tanah. Angin yang bertiup sepoi-sepoi tak bisa menghibur kulit yang terasa digigit oleh teriknya sang mentari. Dua pemuda tengah mengobrol serius di atas motor, laju motor itu pelan membelah jalanan kota malang yang agak sepi karena aura panas yang memaksa orang-orang untuk tetap berlindung di dalam gedung gedung ber-AC, daripada mereka harus menantang panasnya pusat tata surya itu.
"Bangsa ini bukan kekurangan orang pintar tapi kekurangan orang yang moralnya benar, Beb!" kata Febri mengomel sendiri. Adi yang dibonceng bukannya fokus dengan omongan Febri malah fokus dengan panggilan yang Febri berikan kepada dirinya.
"Feb, kamu enggak risih manggil aku pake sebutan Beb, Beb" protes Adi. Belum genap sebulan mereka saling mengenal tapi kedekatan mereka berdua jangan ditanya lagi. Bagi Adi walaupun mereka besahabat dekat bukan berarti Febri bisa seenaknya memanggilnya dengan sebutan Beb, seolah-olah mereka berdua adalah dua pemuda yang sering berbagi ranjang. Walaupun sudah banyak yang mengira mereka demikian.
"Apa sih arti sebuah nama Beb. Ada masalah yang lebih penting Beb. Masalah moral bangsa! Moral rakyat indonesia " kata Febri kembali membahas hal yang bahkan Adi pun tidak paham sama sekali. Adi yang duduk di kursi belakang mau tidak mau harus mendengar celotehan Febri yang terbang terbawa angin dan menancap keras di telinga Adi.
"Kamu habis nonton Debat TVOne Feb? Kok tiba-tiba kamu jadi sok nasionalis gini dan rada-rada relijius" kata Adi bingung. Melihat Febri serius seperti ini membuat Adi membayangkan Dokter Boyke ikut debat capres.
"Kita memang harus jadi orang yang peduli, Beb. Sifat arogan, penipu, tak punya tata krama. Tiap hari kita selalu bertemu mahluk macam ini. Kita sebagai generasi muda harus betindak dari sekarang," kata Febri. Adi merinding, apa mungkin sahabatya ini kemasukan mahluk halus.
"Feb, kamu enggak kesurupan setan caleg gagal pemilu kan?" tanya Adi bingung.
"Aku serius Beb, ini masa depan bangsa. ini moral bangsa," jawab Febri. Kini Adi yakin sahabatnya itu memang benar-benar kesurupan. Febri masih mengomel-ngomel di jok depan motor sambil mengendarai dengan pelan. Sedangkan Adi langsung mengambil ponselnya dan berselancar dengan google dengan keyword Doa. Tak butuh waktu lama, Adi langsung diarahkan kesebuah website. Karena sedikit panik Adi langsung mengusap layar ponselnya sampai Adi menemukan tulisan arab yang berisi Doa. Adi tidak ingin menghabiskan waktu Adi langsung membaca doa itu.
"BISMILLAAHI ALLAAHUMMA JANNIBNASY-SYAITHAANA WAJANNIBISY-SYAITHAANA MAA RAZAQTANAA" kata Adi setengah bebisik.
"PANASSS!" teriak Febri. Adi terkejut. Dia tidak menyangka doanya berhasil. Masih belum puas Adi membaca doa itu lagi. Adi yakin hanya setan yang mempunyai kekuatan super yang bisa mengendalikan Febri yang sebenarnya sifatnya sudah setara dengan raja setan.
"BISMILLAAHI ALLAAHUMMA JANNIBNASY-SYAITHAANA WAJANNIBISY-SYAITHAANA MAA RAZAQTANAA" kata Adi membacanya lebih keras, namun kini Febri malah bersikap biasa saja.
"Sial, setannya udah bisa beradaptasi." Batin Adi. Adi mencoba mengucapkan doa itu sekali lagi dengan khusuk.
"Kamu kenapa sih Beb, bergumam enggak jelas gitu. Kamu ngomong apa?" tanya Febri bingung.
"Kamu enggak kepanasan lagi?" tanya Adi. Adi mencoba membaca doa itu didalam hati namun Febri masih terlihat biasa saja.
"Kamu udah enggak panas lagi?" tanya Adi karena belum mendapat jawaban dari Febri.
"Jalannya udah rindang Beb, ngapain kepanasan lagi." kata Febri melajukan motornya di jalan bandung kota malang yang penuh dengan pohon rindang di sisi kanan dan kiri jalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Celana Dalam Merah Muda
HumorCelana Dalam? Sebuah penemuan manusia yang kini mungkin berubah menjadi salah satu pusaka keramat yang identik dengan hal-hal yang tabu. Bagaimana jadinya bila seorang mahasiswa baru menemukan segempok celana dalam dalam bungkusan plastik yang t...
