Rahma tampak bingung di dalam kamar kosannya, berapa kali ia memukul-mukulnya bantalnya kearah ghea yang sedang duduk di atas kasur sedangkan Rahma berbaring sambil menutup wajahnya dengan selimut.
"Coba aja, kalau kamu tidak mencoba maka hatimu tak akan bisa terbuka," nasihat Ghea. Rahma tidak menjawab. Ia bahkan belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau ia menuruti kata-kata Ghea.
"Kak Pandu cowok baik kok, Ia juga sudah bekerja, ia dapat beasiswa S2 kan dari kantornya," lanjut Ghea. Rahma tak bisa menyangkal. Pandu adalah seniornya di pascasarjana, berapa minggu ini ia sering terlihat mencoba mendekati Rahma bahkan ikut bergabung saat Rahma dan teman-temannya saat sedang mengerjakan tugas. Ia bahkan sering ikut membantu mengerjakan tugas mereka. Dari pertama kali melihatnya, Rahma bisa merasakan bahwa pandu adalah mahasiswa yang pintar. Ia juga selalu ramah dengan orang lain. Namun entah kenapa Rahma masih tidak nyaman dekat dengan pria itu, seolah hatinya memang tidak lagi bisa menerima perhatian dari seorang pria.
"Bagaimana Ma?" tanya Ghea.
"Aku tahu Kak Pandu cowok yang baik, tapi..."
"Tapi apa lagi?" protes Ghea.
"Tapi aku takut malah nanti berbuat yang aneh-aneh," jawab Rahma seraya keluar dari selimutnya dengan memasang wajah muram. Matanya tampak ragu saat membahas Pandu.
"Aneh-aneh gimana sih?" tanya Ghea.
"Kamu tahu sendiri aku tidak nyaman dekat pria, kalau aku bertindak berlebihan gimana?" Rahma merasa khawatir. Namun Ghea tampak tersenyum. Ia merasa Rahma sudah mulai memikirkan dampak dari sikapnya. Dulu ia sangat cuek dengan tanggapan pria tentangnya. Mungkin sekarang sedikit ada kemajuan, fikir Ghea.
"Adi?" tanya Ghea basa-basi.
"Sudah aku bilangkan dia itu berbeda," jawab Rahma.
"Sejak pertama bertemu?" Ghea malah penasaran.
"Yah sejak pertama bertemu!" jawab Rahma yakin.
"Kamu yakin gak di pelet sama si Adi?" goda Ghea.
Rahma langsung mengayunkan bantalnya kearah Ghea. Dukkk!!..
"Aduh sakit," jerit Ghea.
"Biarin! Adi bukan orang seperti itu tahu!" kata Rahma.
"Kamu kok lucu sih Ma? Aku lihat kamu sekarang sering bersikap manis bahkan ngambek-ngambek manja gitu. Kok bisa ya. Mana Rahma yang dingin dulu," Goda Ghea. Wajah Rahma langsung memerah. Apakah ia seperti itu? Rahma tidak merasakan perubahan dalam dirinya. Tapi... Sekarang ia memang sering bingung masalah baju yang ia kenakan. Ia juga kadang takut dengan pendapat orang lain saat melihatnya. Bahkan ia sering ngambek kepada sahabat-sahabatnya. Apa aku semakin kekanak-kanakan, batin Rahma.
"Kamu gak suka ya Ghe?" tanya Rahma murung.
"Malah sebaliknya. Aku lebih suka Rahma yang sekarang. Kamu terlihat lebih jujur. Kamu tidak menyembunyikan perasaanmu lagi seperti dulu. Kamu lebih berani mengutarakan apa yang ada dalam hatimu." Jawab Ghea.
Adi! Itulah yang ada difikirkan Rahma sekarang. Mungkin sejak ia jujur dengan perasaannya kepada Adi, ia kini lebih berani menunjukan apa yang ada dalam dirinya. Kenapa sejak ia pergi malah aku semakin ingin bertemu dengannya, batin Rahma. Aku harap kita ketemu lagi, Di!
"Dicoba ya Ma, hubungi dia sekarang. Bilang kalau kamu bisa pergi malam ini" kata Ghea.
"Lebih baik aku di kosan aja," jawab Rahma kembali bersembunyi di balik selimut.
"Kali ini aja kalau gagal aku gak akan maksa kamu lagi," Ghea mencoba bertaruh. Ia cukup yakin Pandu bisa membuat Rahma nyaman.
"Bener?" jawa Rahma.
KAMU SEDANG MEMBACA
Celana Dalam Merah Muda
HumorCelana Dalam? Sebuah penemuan manusia yang kini mungkin berubah menjadi salah satu pusaka keramat yang identik dengan hal-hal yang tabu. Bagaimana jadinya bila seorang mahasiswa baru menemukan segempok celana dalam dalam bungkusan plastik yang t...
