41. Kalau mirip, berarti jodoh...

5.5K 309 25
                                    

Vina menguap lebar seraya merapikan bajunya di lemari pakaian. Tangan kanan Adi langsung menutup mulut adiknya agar semua organ mulutnya tidak terlihat. Gadis yang harusnya tampak lucu ini selalu terlihat urak-urakan di mata Adi. Adi tak berhenti geleng-geleng kapala melihat tingkah Vina.

"Hehe makasih kak," Vina senyum-senyum menghadap kakaknya. Adi memutuskan untuk mencubit kedua pipi Vina, bukannya protes Vina malah cengar-cengir menatap kakaknya.

"Sekali lagi kamu nguap selebar itu, semua debu di kamar ini bisa kesedot semua kemulutmu. Apa susahnya sih nutup pakai tangan, pamali tahu. Malu anak perawan tingkahnya kayak demit," ejek Adi namun Vina hanya menanggapi dengan senyum. Ejekan kakakknya selalu dianggap lucu oleh Vina. Adi tak habis fikir melihat Vina, hanya disuruh merapikan baju yang dia bawa saja seolah-olah sedang mengerjakan suatu yang sangat membosankan sampai mengantuk seperti ini.

"Kan ada kakak yang nutupin," Vina membela diri, tangan Adi langsung menoyor kepala Vina. "Kak bosen. Ayo jalan-jalan," pinta Vina tiba-tiba berubah cemberut. Adi memperhatikan jam tangannya. Ia terdiam sejenak untuk memikirkan agenda apa yang harusnya ia lakukan hari ini.

"Habis ini kakak ada janji sama temen kakak, setelah itu aku ajak kamu jalan-jalan sekalian traktir kakak makan. Oke?" ajak Adi. Vina mengangguk semangat. Vina langsung menambah kecepatan tangannya marapikan baju kedalam lemari. Adi memilih untuk tiduran di tempat tidur seraya menunggu adiknya beres-beres.

"Ayo berangkat kak!" teriak Vina semangat. Adi melihat Vina heran, belum satu menit ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur tiba-tiba adiknya sudah selesai beres-beres.

"Sudah selesai?" tanya Adi bingung. Vina mengangguk. Adi tidak langsung percaya kepada Adiknya. Ia lalu beranjak menuju lemari pakaian lalu membukanya. Semua pakaian Vina sudah terususun rapi. Ia lalu melihat sekeliling kamar. Koper Vina sudah terususn rapi di pojok ruangan. Barang-arang kecil seperti charger. powerbank dan barang-barang wanita lainnya sudah terususn rapi di atas meja. Adi kembali melihat adiknya, Vina hanya senyum-senyum melihat tingkah kakaknya.

"Vin? Kamu ga pernah kesamber gledek kan? Mungkin aja kamu punya kekutannya The Flash? Cepet banget beres-beresnya." Puji Adi kepada Vina.

"Kakak bisa aja. Ya udah ayo kita berangkat kak?" Vina bersemangat.

Adi masih terlihat heran. "Berangkat? Siapa bilang kakak ngajak kamu ketemu temen kakak. Kamu tunggu di sini. Nanti kalau udah selesai baru aku jemput kamu lagi." Jawab Adi. Vina langsung cemberut mendengar kakaknya. "Mana kunci mobil?" tangan Adi mengadah meminta kepada Vina.

Vina tidak beranjak. Ia hanya berdiri mematung. "Kakak enggak takut ninggalin Vina sendirian di sini. Kalau ada orang jahat gimana kak?" rengek Vina. "Tadi kakak takut ninggalin aku, sekarang kakak lepas aku begitu saja," Vina pura-pura menangis.

"Enggak perlu lebay deh Vin. Kalau mau ikut ya udah. Ayo ikut." Kata Adi langsung mengalah. Vina langsung berubah ceria seraya meloncat kegirangan.

"Belajar dari mana ngeluarin air mata buaya tadi?" sindir Adi kepada Adiknya. "Dasar, kalau ada maunya kelakuannya berubah baik." Adi kembali menoyor kepala adiknya.

"Mana kuncinya?"

"Bentar kak. Vina mau ganti baju dulu."

"Aduh ribet banget sih. Pakai baju yang kamu pake aja!" Adi terduduk kesal di pinggiran tempat tidur. "Cepat jangan lama-lama ganti bajunya." Adi kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.

"Terus kok kakak masih disini?"

"Ya kenapa? Ganti aja." Adi berbalik menghadap tembok.

"Kakak mah. Mana mungkin Vina ganti baju kakak masih di kamar. Emang kakak kira Vina masih kecil. Vina udah gede." Vina langsung mengambil bantal lalu memukul-mukul kepala kakaknya dengan keras.

Celana Dalam Merah MudaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang