42. Pertarungan terakhir (Bagian 1)

4.9K 279 12
                                        

Adi dan Vina melangkah menuju gazebo tempat Rahma dan Friska berada. Gadis muda itu dengan mesra menggandeng tangan kakaknya seolah tak ingin dua gadis yang tidak ia kenal itu mengambil dan melukai kakaknya seperti dulu. Melihat situasi itu Rahma dan Friska semakin canggung, sesekali mereka saling memandang dalam bisu. Namun Friska tetap yakin untuk menjodohkan kembali Rahma dengan Adi.

"Friska, Mbak Rahma. Maaf telat. Susah banget cari tempat parkir di kampus" Sapa Adi seraya duduk di salah satu bangku kosong di hadapan Rahma dan Friska. Vina sama sekali tidak melepas tangannya, ia terus mendekap lengan kakaknya dengan erat sambil memandangi Friska dan Rahma dengan pandangan tidak ramah, seolah ia sedang melihat penjahat yang ingin ia tangkap.

"Oh ga apa-apa kok Di. Kami juga baru dateng," jawab Friska. "Ya kan Mbak Rahma?" sahut Friska kembali. Rahma mengangguk walau sebenarnya mereka berdua sudah cukup lama di sana.

"Kalau lama juga enggak apa-apa, kenapa sih mesti bohong hanya untuk membuat suasana nyaman. Kenyamanan yang penuh kebohongan itu tidak akan berlangsung lama," sindir Vina. Adi kaget m/'endengar ucapan adiknya, ia tidak menyangka Vina bisa berkata seperti itu. Namun dari ucapan Vina, Rahmalah yang merasa paling disindir. Ucapan seorang gadis yang jauh lebih muda darinya itu memang benar adanya. Rahma merasa tertekan, ia merasa minder dengan gadis manis yang sejak tadi memandangnya dengan sinis.

Friska merasakan ketidaknyamanan dalam obrolan itu sehingga ia cepat berfikir agar suasana kembali cair. "Kamu pasti lagi sibuk banget ya Di? Kamu yang janji mau nemuin aku malah aku yang sms kamu duluan." Friska segera mengalihkan pembicaraan agar lebih nyaman.

"Maaf banget Fris. Berapa hari belakangan ini aku bener-bener sibuk jadi aku masih belum bisa membuat janji. Tapi terima kasih udah inisiatif untuk menemuiku duluan." Jawab Adi. Vina tersenyum kecut dan Rahma mmutuskan untuk menghindari pandangan sinis Vina.

"So? Kamu sama siapa? Kami tidak dikenalin?" ujar Friska.

"Oh ya. Maaf maaf. Ini Vina, ad..."

"Pacar Adi. Ya kan sayang?" sambar Vina sambil mencubit paha kakaknya. Adi hanya bisa meringis menahan sakit. Ia melihat Vina bingung namun Vina malah melotot kepada Adi agar ia mengiyakan identitas palsunya tadi. Adi menghela nafas, ia memutuskan untuk mengangguk menyetujui ucapan adiknya yang sedang rewel itu. Ia paham adiknya merasa tidak suka dengan keberadaan Friska dan Rahma.

"Aku baru tahu kamu udah punya pacar?" kata Friska pelan. Seolah masih tidak percaya dengan yang ia dengar.

"Emang kenapa? Kalau Adi-ku belum punya pacar, kakak mau deketin Adi gitu?" samber Vina sinis.

"Vin!" Adi memperingati Adiknya. Sekarang adiknya malah memanggilnya tanpa embel-embel kak. Akting adiknya memang totalitas walau agak kurang ajar.

"Kenapa sih Sayang? Vina kan ngomong kenyataan. Apa salahnya bertanya?"

"Tapi yang kamu ucapkan itu tidak sopan," Bukannya merasa bersalah Vina malah melihat Friska dan Rahma bergantian dengan tatapan sinis. Adi hanya bisa menggaruk-garukkan keningnya bingung. Dia ingin menjelaskan kepada Rahma dan Friska namun ia bingung memulai dari mana.

Rahma tiba-tiba bangkit dari duduknya. Gadis itu bahkan sudah mengalungkan tasnya. "Di, aku pulang duluan ya. Aku ada tugas." Ujar Rahma pelan. Suara Rahma terdengar bergetar. Adi tahu Rahma berbohong. Tugas? Bagaimana mungkin mahasiswa yang akan segera wisuda masih punya tugas. Adi merasa sangat bersalah, saat Rahma akan pergi Adi langsung menarik tangan Rahma agar gadis itu tetap di posisinya. Rahma kaget namun ia tak menolak genggaman tangan Adi. Ia membiarkan tangan lembutnya digenggam erat oleh pemuda yang ia sukai. Rahma hanya mematung, jantungnya berdetak sangat kencang.

Celana Dalam Merah MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang