14. Antara Abah, Fatamorgana Dan Oasis

10.6K 521 12
                                        

"Kapan nih mau ngelamar anak saya nak Gunawan" tanya seorang bapak tua berpeci putih, nampak keriput sudah menutupi setiap lekuk wajahnya.

"Secepatnya Abah, Gunawan cari modal dulu, doain abah biar Gunawan rezekinya lancar" Kata pemuda gagah itu, senyum pemuda itu mengingatkan Sang bapak tua dengan masa mudanya, sebuah senyuman kepercayaan diri yang besar, sehingga bapak tua itu yakin, pemuda ini adalah orang yang tepat untuk anak gadisnya.

"Maaf lama Mas, Abah" nampak seorang gadis muda dengan pakaian tertutup serta kain menutupi rambutnya nan indah, gadis itu keluar dengan membawa minuman hangat dan makanan ringan lalu dengan tangannya yang cekatan dihidangkannya makanan itu di meja.

"Tadi Echa beli gula dulu di warung " kata Echa lalu memeluk nampan di dadanya lalu duduk di dekat Abahnya.

"Loh masak tamu di kasih tau kalau gula di rumah habis, piye toh nduk " Kata abah memandang putrinya senyum.

"Maaf abah, Echa ga sadar" Kata echa menundukan wajahnya malu terlihat pipinya memerah.

"Ga apa apa kok adinda, secepatnya Mas akan berusaha agar Mas tidak lagi jadi tamu di rumah ini, tapi berubah menjadi bagian dari rumah ini" Kata Gunawan.

Kata kata itu membuat Echa bagaikan terbang melayang ke langit, Hanya pemuda hebat yang berani bertutur kata penuh cinta didepan orang tua sang gadis, keberanian yang tidak dimiliki oleh semua Pria. Kebanyakan pria diluar sana berbicara cinta sebatas kebutuhan isi celana dan saat diminta untuk mengikat sang gadis dalam tali suci, mulutnya Kelu dan hanya mengingau Nanti Nanti dan Nanti.

"Apa tidak apa apa Echa nanti saya bawa keluar kota setelah menikah abah, apa abah tidak keberatan" Gunawan terlihat serius dengan pembicaraan ini.

"Ketika menikah nanti, Echa tidak mengabdi untuk abah lagi tapi untuk kamu suaminya, di rumah masih ada Lastri yang jaga abah" Kata pria tua itu dengan senyum yang ikhlas.

"Abah" Kata echa memeluk abahnya, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang halus.

"Nak, malu dong nangis didepan Gunawan, calon suamimu"

"Ga apa apa kan Mas gunawan kalau Echa nangis" Tanya echa.

"Tidak apa apa adinda, Mas senang dinda begitu menyayangi Abah" Kata gunawan begitu kagum dengan Abah yang merawat anak Gadisnya hingga menjadi gadis yang baik, Hatinya tergetar dengan ketulusan sang Abah sehinng dia begitu menghormati ayah dari kekasihnya itu

"Bagaimana lagi, Sejak kecil abah sendiri yang membesarkan Echa sejak istri Abah meninggal" Kata Abah.

"Saya janji Bah, Saya ga akan memisahkan Abah dengan Echa, Kami akan merawat abah.


***

Sehingga suatu waktu.

"Adinda Abah ada" Tanya gunawan yang duduk di kursi tamu, di temani adinda yang duduk didepannya di batasi sebuah meja.

"Mas mau cari abah ?" Tanpa menjawab. Echa balik bertanya.

"Iya, Mas mau ngomong sesuatu sama Abah, mau nepati janji Mas Gunawan" Kata Gunawan yakin, Wajah Echa langsung memerah karena dia yakin Gunawan akan melamar dirinya ke Abah.

"Abah pergi sama Lastri kerumah Uwak di kampung, nanti malam baru pulang Mas" Kata adinda.

"Mas tadi lupa ngabarin dulu sebelum kesini , kalau gitu Mas pulang dulu ya dinda" Kata Mas Gunawan.

"Kok langsung pulang Mas" Kata Echa kecewa.

"Mas Ga enak dinda, kalau dirumah tidak ada siapa siapa ?" Kata Gunawan."Kan ada Echa Mas" Kata Echa sedih

Celana Dalam Merah MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang