7. Customer Service Empunya Pusaka

12K 681 9
                                    

 Adi terus gelundang-gelundung di atas tempat tidur. Sesekali dia menghela nafas panjang lalu melepasnya hingga terdengar seperti bunyi sebuah penyesalan. Kini dia tidur mengadah keatas lalu dengan sebuah bantal dia menutup seluruh wajahnya lalu berteriak dengan keras namun bantal menahan suara itu terdengar sampai luar kamar.

"Adi bisa diem ga sih?" Protes Febri.

"Ya udah kalau ngga mau rame, keluar aja dari kamar!" Jawab Adi kesal.

"Idah numpang tapi belagu! ini kamar aku Adi! " teriak Febri, Adi langsung celingak celinguk melihat sekeliling kamar, sesekali dia mengenendus endus udara di kamar itu ternyata bau strawberi.

"Oh iya ini kamar kamu," Adi cengengesan, 

" Ya iyalah, kamar aku yang super duper bersih ini dibandingin sama kamar kamu bagai surga sama neraka," kata Febri sombong. Adi tidak menggubris ocehan Febri dia hanya sibuk bergulang-guling di kasur dengan seprai bermotif polkadot dengan didominasi warna pink.

"Beb? Kamu kenapa seh uringan-uringan terus dari tadi?" Tanya Febri, Febri yang sedang duduk di meja belajar merasa terganggu oleh tingkah temennya yang tidak bisa diam dari tadi.

"Harusnya tadi aku minta nomor Mbak Rahma, kalau kayak ginikan usaha aku jadi sia-sia" kata Adi terdengar menyesal padahal sudah begitu dekat dengan si terduga pemilik celana dalam berenda, Fikir Adi.

"ihhhhh Adi, kok aku jadi merinding ngedenger kamu se agresif ini gara-gara cewek. Aku jadi was was sekarang apalagi kita cuma berdua di kamar ini. Adi jangan apa apain aku ya?" jerit Febri sembil menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi tubuhnya.

"Feb, please aku lagi ngga mau becanda, aku butuh solusi!" Ketus Adi, dia ngga tahan dengan tingkah gemulai kawannya itu.

"Kalau aku punya solusi buat kamu, kamu mau ngasih aku apa?" Kata Febri manja

"..." Adi terdiam, dia menatap Febri serius. Febri menatap tatapan itu dengan berkedip-kedip cepat seperti kodok kelilipan. Adi yang merasa ragu langsung memalingkan mukanya dan tak peduli dengan kata-kata Febri, ini cuman akal akalan Febri aja.

"Adi jangan cuekin aku, aku serius!" Kata Febri manja. Adi sempat merinding.

"Wajahmu ngga meyakinkan" Ketus Adi.

"Kalau aku becanda kamu boleh deh masukin sepatumu ke dalam kamarku." Tantang Febri, Adi mulai agak percaya karena sangat jarang Febri berani menantang hal-hal yang berkaitan dengan Kebersihan. Febri adalah mahluk yang super duper "Sesuatu banget" kalau masalah kebersihan, dilihat dari kamarnya yang super duper bersih, tidak ada satu benda pun benda atau debu yang berserakan. Wangi strawberi selalu memenuhi setiap partikel udara di kamar itu, ditambah pernik-pernik Febri yang full color, membuat kamar itu terlihat WOW banget. 

"Bener?" Adi mencoba memastikan sambil mengangkat kedua alisnya.

"Iya Bener" Kata Febri, Adi langsung menuju pintu kamar untuk mengambil sepatu.

"Adiiinataaaa kok kamu megang sepatu kotor itu seh?" kata Febri protes melihat Adi berencana mengambil sepatu diluar kamar Febri.

"kamu sendiri yang nyuruh"

"kan aku bilang kalau aku becanda ihhhhhh"

"Ohh aku kira kamu becanda"

"Huh dasar! Ini aku punya nomornya Mbak Rahma. Aku mintain di Mbak Ghea, aku ini ngerti kok kamu tuh demen sma mbak Rahma, aku temen yang pengertian kan?"

"Beneran? Mana? " Kata Adi ragu.

"Bener ini!" kata Febri memberikan lembaran kertas yang tergores tinta membentuk angka angka. Adi langsung mencoba meraih kertas itu namun Febri menarik kertas itu cepat untuk menghindari sergapan Adi.

Celana Dalam Merah MudaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang