47. Menikah Maudua

6K 284 22
                                        

~Cerita ini adalah lanjutan dari part 40 paragraf pertama , kejadian sebelum Adi dan Vina ke malang~

Adi merebahkan badannya di atas tempat tidur. Hari ini serasa sangat panjang baginya, banyak hal terjadi dari keributan di depan kampus sampai kejadian aneh di kontrakan Dery. Berapa bulan ini ia seolah-olah dihadapkan dengan sebuah masalah, dimana ia diposisikan selalu harus memilih. Memilih sesuatu yang bahkan belum tentu jadi miliknya. Hal yang berawal begitu indah kini malah membuatnya serba salah. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain merenung lalu memikirkan cara untuk menyelesaikan masalahnya satu persatu. Nada dering ponsel Adi memecah keheningan kamarnya. Dengan enggan ia mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan telfon itu.

"Hallo Mah, ada apa?" adi menjawab telfon dengan malas.

"Sayang..." suara Mama tampak ragu.

"Yah Ma," jawab Adi bingung.

"Kamu bisa pulang ke rumah besok pagi. Ada hal penting yang mama mau bicarakan."

"Masalah apa Ma?" Adi penasaran, tak biasanya mama menyuruhnya pulang mendadak seperti ini.

"Nanti Mama kasih tahu kamu kalau sudah disini," jawab Mama. Adi paham bahwa obrolan itu cukup serius sehingga ia tak perlu mengorek apa-apa lagi.

"Ya Mah. Adi pulang besok pagi.

"Kamu beneran bisa? Kamu pasti banyak kuliah kan?"

"Tidak apa-apa Ma. Aku bisa kok pulang besok pagi."

***

"Vina tidak setuju! Titik!" Vina berteriak dengan keras seolah meruntuhkan seisi ruang makan milik keluarga Adinata itu. Meja makan berbentuk persegi panjang itu tampak lebih ramai dari biasanya. Ada satu sosok laki-laki tinggi, berpakaian rapi dengan senyum yang manis. Wajahnya tampak tetap ramah walau ia telah mendengar penolakan yang keras dari Vina. Adi yang duduk berhadapan dengan laki-laki itu memasang wajah yang tenang. Sesekali ia melirik Vina yang ada di sebelahnya.

"Kakak! Bilang sama Mama kalau kita tidak setuju! Apalagi kita harus pindah rumah. Aku senang di sini Ma! Aku tidak mau kemana-mana!" Protes Vina seraya menghantamkan sendok ke meja makan. Ia bahkan sampai berdiri memprotes keinginan Mamanya.

Mama mereka tampak sedih, ia tahu bahwa hal ini mungkin terjadi. Laki-laki itu mencoba menenangkan Mama mereka.

"Kakak kenapa diam saja!"

"Aku setuju" jawab Adi tenang. Ia melirik Vina sambil tersenyum. Mata Vina sampai terbelalak mendengar jawaban Adi. Ia tidak menyangka kakaknya berkata semudah itu.

"Kakak? Kakak bercanda?" tanya Vina kesal. Bukanya hanya Vina, Mama Adi dan laki laki bernama Heri yang umurnya sama dengan Mama mereka juga kaget mendengar persetujuan Adi yang tampak tenang.

"Sayang?" panggil Mamanya. Ia takut kalau persetujuan itu bentuk kemarahan Adi.

"Aku benar-benar setuju Ma. Aku setuju, Om Heri." Jawab Adi tenang.

Vina tampak sangat marah. Seolah ia diserang oleh tiga orang sekalipun. Ia merasa tidak ada yang mengerti keresahannya. Pindah rumah bukanlah hal yang mudah baginya. "Apa kakak bodoh! Mama mau menikah lagi Kak? Apa kakak tuli? Apa Kakak tidak dengar? Apa segampang itu bagi Kakak menerima ini." kata Vina terdengar kasar. Adi menahan nafas. Ia mencoba mengatur emosi adiknya. "Selain itu kita harus pindah rumah. Ke Aceh? Ke tempat yang aku tidak tahu sama sekali. Kakak tidak memikirkan kesusahanku untuk beradaptasi di sana."lanjut Vina. Kini ia memukul meja makan hingga suara piring berdentangan.

"Lalu kapan kita akan mempedulikan kebahagiaan Mama?" tanya Adi pelan tanpa emosi.

"Mama bahagia dengan kita! Mama sudah bahagia!" teriak Vina.

Celana Dalam Merah MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang