"Setelah aku merobek mulutmu dengan pisau ini! Kamu hanya akan bisa menangis seperti bayi! Bocah tengik!" kata preman pertama
"Ok, silahkan kalian maju berdua. Jangan segan segan!" jawab Febri dengan wajah menantang.
"Tolong jangaannnn!" teriak Windi. Windi panik saat melihat kathleen akan dipukuli oleh Reno. Febri yang kaget mendengar teriakan Windi, langsung menoleh kearah Kathleen. Konsentrasi Febri hilang, kesempatan ini langsung dimanfaatkan oleh Preman pertama dengan mendorong pisaunya mengarah ke perut Febri. Febri yang sedang lengah tidak bisa berbuat apa -pa. Jarak pisau dan perutnya sudah terlalu dekat sehingga bila dia menghindar maka akan merobek perutnya dengan seketika.
Febri menutup mata. Ia menguatkan otot perutnya sampai sekeras baja saat mata pisau itu menyentuh kulitnya. Dengan ajaib pisau itu langsung bengkok. Perampok pertama langsung melotot tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, perampok kedua juga melakukan hal yang sama. Dia mencoba menusuk perut Febri dengan pisau yang dipegangnnya dan lagi lagi pisau itu bengkok.
"Kok bisa gitu, Mas Cantik" kata gadis bejilbab itu tersenyum. Febri menghentikan ceritanya, dia lalu langsung menatap lembut kearah gadis manis berjilbab di depannya.
"Bisa dong. Aku ini kan punya ilmu kebal. Tahan dari semua bentuk tusukan, kecuali... " Tiba tiba gadis berjilbab itu menusuk perut Febri dengan jarinya.
"Awwww" teriak Febri dengan suara cempreng namun sedikit mendayu, gadis berjilbab itu langsung tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya.
"Kecuali tusukan jarimu itu, jangan menggelitiku tiba-tiba seperti tadi Halimah. Mas kan jadi khilaf gitu teriaknya," kata Febri cemberut.
"Enggak apa-apa Mas Cantik, Halimah menerima Mas Cantik apa adanya" kata Gadis itu dengan senyum khasnya yang manis. Febri tersenyum senang mendengar ucapan Halimah, tapi dalam hati kecilnya dia ingin berubah menjadi pemuda yang gentle dan macho demi gadis yang dia cintai.
Halimah tiba-tiba terlihat cemberut, Febri yang cukup peka langsung bertanya pada Halimah.
"Kamu kenapa Imah?" tanya Febri.
"Halimah sedih kalo Mas Cantik berkhayal seperti tadi. Kasian Kathleen dan Lady malah jadi korban penculikan, mereka kan sahabat Mas Cantik. Halimah sedih kalo Mas Cantik berantem sama sahabat Mas Cantik," kata Gadis manis itu. Febri menggigit jarinya, apa yang dikatakan Halimah memang benar adanya. Walau kadang Lady dan Kathleen menyebalkan tapi mereka adalah gadis gadis yang baik.
"Mas cantik kok gantian murung sih? Maafin Halimah kalau Halimah salah ngomong," kata gadis manis itu. Febri langsung merubah raut mukanya menjadi gembira, bahkan terlihat seperti orang kesurupan.
"Eh... Ga kok Hilamah. Masmu ini ga murung loh. Masmu ini selalu bahagia di depan Neng Halimah" kata Febri kembali heboh.
"Aku seneng deh kalo Mas Cantik ceria kayak gini" lanjut Halimah sambil tersenyum.
"Mas Cantik" panggil Halimah lagi.
"Ya Neng" jawab Febri.
"Halimah ga suka gaya mas cantik di cerita mas tadi. Mas Cantik terlihat kasar, aku lebih suka Mas Cantik yang begini. Apa adanya tidak di buat-buat" kata Halimah jujur.
"Kan dicerita Mas tadi. Mas lebih normal, Mas lebih cowok" kata Febri membela diri.
"Mas cantik yang sekarang juga cowok, mas cantik yang sekarang juga normal." Kata Halimah mengebu gebu.
"Itukan kata Neng Halimah, tapi kata orang orang enggak, Neng" kata Febri murung.
"Mas Cantik itu suka sama Halimah kan? Sayang sama Halimahkan" tanya Halimah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Celana Dalam Merah Muda
HumorCelana Dalam? Sebuah penemuan manusia yang kini mungkin berubah menjadi salah satu pusaka keramat yang identik dengan hal-hal yang tabu. Bagaimana jadinya bila seorang mahasiswa baru menemukan segempok celana dalam dalam bungkusan plastik yang t...
