Orang tidak akan kaget mendengar cerita seorang Isaac newton yang menemukan rumus gravitasi gara gara melihat apel yang jatuh dari pohon saat di duduk di bawahnya, karena newton adalah seorang ilmuan yang selalu bertanya tentang fenomena alam yang dilihatnya. Namun apa yang terjadi dengan Adi sekarang tentu akan membuat orang tercengang. Hanya karena sebuah celana dalam merah muda yang tertinggal di kursi terminal, kehidupan seorang Adi yang selalu diselimuti patah hati, kini harus berjibaku dengan perasaannya setelah ada empat wanita duduk bersamanya didalam kelas, apalagi momen itu diiringi suara bisikan bisikan gaib dari teman teman kelasnya yang mengutuk keberuntungan Adi.
"Rame ya" Kata Rahma, Rahma terlihat santai walau megetahui ada Friska dan dua wanita lain yang tidak dikenalnya disana.
"Mbak Rahma, lama ga katemu Febri kangen loh Mbak" Kata Febri ramah menyapa Rahma, Rahma hanya tersenyum melihat tingkah Febri.
Friska bertanya dalam hati kenpa Mbak Rahma mencari Adi, tak biasanya Mbak Rahma bersikap begitu berani mencari seorang cowok yang notabene adalah adik tingkatnya. Apakah Mbak Rahma menaruh hati kepada Adi, ribuan pertanyaan bergantayangan di kepala Friska, sehingga akhirnya Friska sadar tatapan Mbak Rahma kepada Adi sudah bisa mewakili isi hati Mbak kostnya itu.
"Mbak Rahma baru pulang kuliah" Tanya Friska penuh aroma basa basi, karena bagi Friska moment ini cukup akward.
"Ya, tadi habis bimbingan. Karena bimbingannya cepet jadi aku mampir kesini." Kata Rahma, walau sebenarnya butuh waktu lama untuk Rahma mencari jadwal kuliah Adi dan meyakinkan dirinya untuk menyapa Adi dikelas.
"Bagaimana kalau kenalan dulu" Kata Adi, Adi tidak terlalu paham dengan situasi ini. Namun hatinya merasa situasi ini membuatnya merinding.
"Ini Dery, ketua kelas aku, Ini Rosa teman sma aku dan sekarang satu juruasan dengan aku tapi beda kelas. Dery, Rosa ini Mbak Rahma, teman kost Friska" Kata Adi. Adi memang cukup polos, mungkin dalam hatinya sekarang Adi memilki rasa ketertarikan ke Friska, sehingga waktu itu dia rela menunggu Friska berjam berjam didepan kostnya. Namun Adi buta sehingga tak bisa merasakan tatapan Dery yang selalu tulus memandang dirinya, tatapan dery yang penuh kekaguman kepada Adi, . Adi juga buta dengan senyum Rosa yang merekah berbeda dari biasanya, senyuman bahagia yang menginginkan kisah kisah masa lalu itu bisa di ukir kembali bersama. Dan Adi juga buta dengan semangat Rahma yang melawan keraguannya, mencoba menantang dirinya sendiri, membuang rasa malunya, membuang egonya demi berusaha menyapa seorang yang mulai membuatnya nyaman.
"Ayo berangkat Di, takut kesorean" Kata Friska, Adi melihat Friska bingung.
"Eh Apa, berangkat ?" Adi balik bertanya.
"Kita kan mau nonton, Filmnya bentar lagi nih, berangkat sekarang aja yuk" Kata Friska, Adi melonggo bingung karena merasa tidak pernah membuat janji dengan Friska.
"Ayo berangkat" Kata Friska langsung menarik tangan Adi, walau bingung Adi tetap tidak melawan tarikan Friska dan ikut kearah friska menariknya.
"Aku duluan ya, semua" Kata Adi menyapa yang lain, dia merasa tidak enak dengan Rahma yang baru saja datang menghampirinya kekelas, apalagi makanan dari Rosa belum habis dia makan.
Adi lenyap berasama Friska dari balik pintu kelas itu.
"Show is Over" Kata Febri, otak Febri yang biasanya penuh dengan kata kata yang bisa mencairkan suasana kini membeku dan tak tahu harus berkata apa, dia pelan pelan beranjak pergi dari ketiga gadis yang di tinggal Adi.
Ketiga gadis itu terdiam, satu persatu mereka beranjak dari sana, Dery kembali berkumpul bersama temannya, Rosa dan Rahma satu persatu keluar dari kelas itu, tanpa ada perbincangan tanpa ada kata kata, situasi yang benar benar aneh bagi mereka bertiga.
***
"Friska ? sebenarnya ada apa ? aku tidak ingat kalau aku pernah mengajakmu nonton" Tanya Adi setelah mereka berdua sampai di halaman gedung Fisip.
" Apa kamu tidak sadar dengan situasi tadi" Kata Friska.
"Situasi apa ?" Dengan tampang polosnya, Adi benar benar gagal paham dengan sikap Friska.
"aku mungkin memang kadang lola, tapi kalau untuk mengetahui perasaan dari cewek cewek tadi, aku tidak perlu banyak berfikir" Kata Friska.
"Maksud kamu ?" tanya Adi lagi.
"Ya tuhan Adi, apa hati kamu udah beku, ga bisa merasakan perasaan mereka" Friska menatap Adi dengan tatapan heran, Pemuda yang dia tarik dari kerumunan gadis gadis yang mengaguminya itu belum peka sama sekali.
"............"
"Mereka Suka sama kamu Di, Dery, Rosa, Mbak Rahma, coba kamu lihat cara mereka menatap kamu" Ujar Friska sedkit emosi
"Mana mungkin? Mereka hanya.." Adi tak bisa melanjutkan kata katanya, setelah dia berfikir lebih seksama, akhirnya dia merasa ada yang aneh dengan Rosa dan Mbak Rahma yang tiba tiba menemuinya.
"Tapi kenapa kamu menarik aku keluar, aku tidak enak meninggalkan Mbak rahma yang baru datang, Makanan Dari Rosa juga belum habis" Kata Adi, Adi belum menemukan alasan kenapa Friska mengajaknya kabur dari kelasnya.
"Karena hati ini perih melihat kamu dikerumuni banyak cewek seperti tadi" Ujuar Friska jujur, dia menatap adi penuh keyakinan. Mendengar kata kata Friska nafas Adi terasa terhenti, jantungnya mulai berdetak dengan Ritme yang cepat, walau terasa aneh namun ada rasa lega dalam hatinya saat mendengar kata kata Friska tadi.
"Maksud kamu" tanya Adi, mencoba memastikan kembali.
"Apa kamu tidak merasakan hal yang sama Di, hati yang berdebar debar lebih keras dari biasanya, senyum yang tiba tiba keluar saat mengingat kembali pertemuan itu, atau waktu yang kamu habiskan berjam jam hanya untuk menunguku didepan kost, apa semua itu tidak memiliki alasan?" Friska meminta kepastian.
"Karena mungkin" Kata Adi Ragu.
"Mungkin apa ?"
"Karena mungkin aku mulai ada rasa suka kepada kamu" Kata kata itu seolah olah keluar begitu saja, kata kata yang tidak terencana di kepalanya namun terpahat dihatinya.
"Perasaan kita sama" Kata Friska tersenyum, Baru saja hati Adi terasa begitu bahagia tiba tiba kenangan masa lalunya kembali terlintas di kepalanya, Ingatan tentang Rosa, tentang patah hatinya, dengan janji janji manis yang akhirnya berbuah petaka, tentang cinta yang selalu berakhir luka.
"Apa jatuh cinta selalu terasa mengerikan seperti ini" tanya Adi
"Maksud kamu?"Tanya Friska melihat Adi yang tiba tiba berubah pucat.
"Rasanya sangat tidak menyenangkan" Kata Adi, Dadanya terasa sesak. Dosa Rosa yang kemarin menguap seolah berkumpul kembali dan menkristal keras dalam dadanya.
"Karena mungkin kita belum mencobanya, mencoba untuk saling jujur dengan perasaan masing masing, aku tahu cinta selalu datang tiba tiba", Mungkin kamu pernah berfikir sama denganku, hanya dari sebuah celana dalamku yang tertinggal, dari sanalah kita kenal, berawal dari kesalahpahaman sehingga jujur aku merasa ada ketertarikan yang lebih kepadamu" Kata Friska, entah kekutan apa yang merasuki dirinya sehingga dia begitu jujur berbicara kepada Adi.
"Ya, aku juga merasakan hal yang sama" Kata Adi.
"Bahkan celana dalam itu aku pakai sekarang " Kata Friska Jujur.
"Kamu pakai itu, sekarang" Kata Adi yang spontan memandang kearah celana dalam itu bersemayam.
"Kamu jangan bayangin yang enggak enggak" Kata Friska
"Oh ok ok, maaf, aku masih cowok normal'
"Normal dan mesum beda loh" Friska tersenyum.
Sejenak Adi bisa melupakan kisah cinta kelamnya yang dulu gara gara ucapan berani Friska tentang celana dalamnya, tapi pelan pelan kenangan kenangan pahit kisah percintaannya mulai menyelimuti hatinya, Adi sadar, hatinya masih belum sembuh oleh luka yang di buat Rosa.
"Aku belum siap jatuh cinta lagi" Ucap Adi pelan sambil menatap kerah Friska dengan tatapan getir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Celana Dalam Merah Muda
HumorCelana Dalam? Sebuah penemuan manusia yang kini mungkin berubah menjadi salah satu pusaka keramat yang identik dengan hal-hal yang tabu. Bagaimana jadinya bila seorang mahasiswa baru menemukan segempok celana dalam dalam bungkusan plastik yang t...
