53. Celana dalam merah muda (Finale)

8.4K 386 121
                                        


Pesan :

Aku tunggu di tempat pertama kali kita bertemuSekarang!!!

Adi meloncat kaget saat menerima pesan ini. Ia sudah tiga kali mencocokkan jam di ponsel dan jam dinding kamarnya namun ia tetap belum yakin bahwa pesan itu datang pukul satu malam seperti ini. Tak banyak berfikir Adi langsung memakai celana panjang lalu mengambil jaket yang tergantung di dalam lemarinya. Ia bergegas pergi menuju tempat yang ditujukan oleh si pengirim SMS. Beruntung kali ia masih membawa mobil ibunya jadi ia tidak perlu menumpang taksi seperti dulu.

Jalanan kota malang di malam hari sangat lengang. Hanya ada penjual nasi goreng yang masih menjajakan dagangannya bercahayakan lampu petromaks. Udara dingin malang tak terlalu berasa saat di dalam mobil namun ia tak bisa membayangkan seorang gadis jam satu malam menunggu sendiri di kampus. Adi segera memarkirkan mobilnya di luar kampus dikarenakan semua gerbang kampus telah di tutup. Walau gerbang itu adalah rute paling dekat namun tetap saja butuh beberapa menit untuk sampai tempat gadis itu berada. Adi berlari bercahayakan ponselnya. Ia tak peduli akan gelap, ia mengandalkan nalurinya agar bisa cepat sampai di sana.

Dari kejauhan akhirnya Adi menemukan sosok yang ia cari. Friska gadis yang dulu pernah membuatnya datang malam-malam di tempat yang sama namun tidak semalam ini. Adi bergegas menuju tempat Friska. Beruntung sepanjang jalan Adi tidak bertemu dengan satpam kampus. Bisa-bisa ia dikira penjahat yang berniat mencuri di kampus.

"Kamu tahu ini sudah jam berapa?" kalimat pertama Adi saat bertemu dengan Friska. Friska menatap Adi terdiam. Adi membuka jaketnya lalu menyelimutkannya di badan Friska yang hanya menggunakan piyama tipis. "Bagaimana kalau terjadi apa-apa denganmu Fris? Bahaya seorang cewek sendiri tengah malam apalagi di tempat sepi seperti ini. Ayo aku antar kamu pulang," kata Adi menarik tangan Friska namun gadis itu menolak.

"Jangan pergi," kata Friska dengan suara bergetar.

"Tidak, aku tidak pergi. Aku akan menemani kamu pulang. Kita pergi sama-sama," jawab Adi seraya menarik tangan Friska kembali namun lagi-lagi Friska menolak.

"Jangan pergi ke Aceh! Kamu harus tetap disini!" teriak Friska di tengah keheningan kampus. Adi langsung menaruh jarinya di mulut untuk menyuruh Friska diam.

"Suaramu terlalu keras Fris,"

"Jangan pergi," suara Friska memelan. Friska telihat kedinginan.

"Ya aku tidak akan pergi," jawab Adi agar Friska bisa lebih tenang. Friska menatap Adi tidak percaya. "Tangan kamu dingin sekali," kata Adi setelah memegang tangan gadis itu untuk mengecek kondisi Friska. Ia segera menutup resleting jaket yang dikenakan Friska lalu menutup kepala gadis itu dengan tudung jaket. "Ayo kita pergi dari sini," ajak Adi. Friska mengangguk.

Baru saja mereka akan pergi dari tempat itu tiba-tiba suara langkah dan lampu senter berkilatan di gelapnya kampus. Adi langsung menarik Friska untuk bersembunyi di balik kolong meja gazebo. Persis seperi saat pertama mereka bertemu dulu.

"Ada satpam," kata Adi seraya bersembunyi. Mereka duduk berimpitan di kolong meja yang kecil, tangan Adi berada di atas kepala Friska guna melindungi agar kepala Friska tidak terbentur oleh meja. "Kau tidak apa-apa? Apa aku menarimu terlalu keras?" tanya Adi. Friska menggelangkan kepalanya. Gadis itu lalu dengan pelan menyandarkan kepalanya di pundak Adi. Mereka menunggu samapi suara langkah kaki itu tak terdengar lagi.

"Aku marah sama kamu!?" protes Friska saat suasana sudah kembali hening.

"Aku minta maaf," jawab Adi.

"Dengarkan aku. Kau tidak perlu ikut bicara. Ini hukuman bagi kamu," balas Friska. Adi mengangguk.

"Aku marah karena kau tidak segera memberitahuku kepergianmu! Aku marah karena kau tak berusaha menjelaskan kesalahpahaman kita. Aku marah karena karena aku sempat berfikir untuk melepasmu lalu merelakanmu bersama Mbak Rahma," kata Friska. Gadis itu mulai menangis. Adi kaget dengan ucapan Friska. Merelakan dirinya dengan Mbak Rahma? Berarti kedua gadis itu selama ini saling mengetahui perasaan masing-masing. Jantung Adi kontan berdetak dengan keras.

Celana Dalam Merah MudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang