"Aku ga nembak kamu, aku hanya mau jujur dengan perasaanku saja" Kata Friska, raut wajahnya datar bukan karena dia tidak peduli dengan ungkapan hatinya tadi tapi karena dia tidak tahu harus senang atau sedih mendengar jawaban Adi tadi.
"Ya aku tahu karena aku juga ga nolak kamu kok, aku hanya jujur dengan perasaanku saja" Ucap Adi pelan. Semua yang terjadi terasa begitu cepat bagi Adi, Diawali dari celana dalam yang tertinggal, pertemuan yang tidak disangka sangka dengan Rahma, bertemu dengan sekelompok ibu ibu yang ternyata orang tua Dery dan juga hampir adu jotos dengan David, semua informasi dan kejadian itu seolah olah menyerang kehidupan Adi secara bertubi tubi, Adi tidak sempat berfikir lalu mencerna semua yang terjadi dengan fikiran dan hatinya.
"Setelah ini apa yang kamu lakukan Di ?, pergi begitu saja?, melakukan yang kamu suka? atau lari dari kenyataan?"Tanya Friska, pertanyaan Friska membuat Adi bingung, dalan hatinya dia tidak bisa berbohong kalau dia punya ketertarikan dengan Friska namun ketika dia mencoba merasakan lebih dalam, trauma akan cinta dengan Rosa dulu membuat dia tidak sanggup untuk menyentuh lagi "rasa" yang bernama cinta itu.
"Menunggu."Kata Adi pelan.
"Apa yang kamu tunggu ?"
"Menunggu hati ini sembuh dulu dari sakitnya" Kata Adi, tentu kata kata adi membuat Friska bingung, apa yang dilalui Adi hingga membuatnya terluka dan terlihat takut untuk mencinta lagi.
"Andai kamu tahu Adi, tidak mudah untuk aku mengatakan semua perasaan ini kepada kamu, aku butuh menarik nafas lebih dalam, mengangkat wajahku lebih tegak, membentengi hatiku lebih kuat agar tidak rapuh saat berkata jujur padamu"Friska terlihat begitu emosianal saat mengatakan kata kata itu.
"Maafkan aku Fris" Kata Adi, Mata Friska menyorot kearah Adi, mata itu penuh kekecewaan. dia ingin Adi berkata isi hati yang dia pendam bukan malah bimbang dan tidak tegas seperti ini dan hanya meinta maaf.
"Aku ga butuh maaf Adi, aku ga butuh itu" Friska mendekati Adi, dia memegang pundak adi lalu menarik dan mendorongnya secara bergantian, matanya kini diselimuti air mata. Adi hanya terdiam.
"Aku butuh pendapatmu, aku butuh kepastian apa yang kamu lakukan setelah ini agar aku bisa menata hati ini Adi" Friska memukul mukul dada Adi sambil terus menangis.
"Tidak semudah itu Friska, kamu sendiri tadi yang mengatakan kalau Dery, Rosa bahkan Mbak Rahma menatapku dengan pandangan yang sama denganmu, Aku juga harus memikirkan mereka juga dan juga yang terpenting aku harus berfikir untuk diriku sendiri, ini bukan perkara ya atau tidak, tapi jauh lebih besar dari itu"
"Aku memang belum tahu siapa kamu seutuhnya, tapi sekarang ada satu yang aku tahu Di, kamu tidak tegas dengan perasaanmu sendiri" Kata Friska, Friska memalingkan badan, lalu berjalan berlari meninggalkan Adi sendiri, Adi termenung dengan segala hal yang mengagantui fikirnanya.
***
Tidak ada yang lebih menyenangkan dari pada berguling guling di kasur Febri yang super empuk dan bersih, Adi selalu melakukan kebiasaan yang sama bila sedang dilandai kegalauan atau masalah.
"Bebeb Adi, masalah tak akan selesai bila difikirkan, tapi harus ada eksekusi yang nyata" Kata Febri menasihati Adi.
"Eksekusinya juga harus difikirkan dong Feb, kalau salah langkah lagi bukannya akan jadi masalah baru" Jawab Adi.
"Aku ada solusi yang tepat beb" Kata Febri.
"Apa ?" Kata Adi malas, karena dia yakin solusi ini adalah solusi yang gila.
"Lupakan Friska dan cewek cewek itu, lalu jalani hidup dengan aku beb, kita lawan semua cibiran tentang hubungan kita, kita lawan kehendak dunia, walau aku nanti terbakar di neraka dengan panas membara asal bersama kamu beb, aku rela!! " Febri berbicara sambil bergaya layaknya sedang membaca puisi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Celana Dalam Merah Muda
HumorCelana Dalam? Sebuah penemuan manusia yang kini mungkin berubah menjadi salah satu pusaka keramat yang identik dengan hal-hal yang tabu. Bagaimana jadinya bila seorang mahasiswa baru menemukan segempok celana dalam dalam bungkusan plastik yang t...
