Luna memejamkan matanya selama teleport. Orion mendekapnya erat, takut gadis itu akan pergi lagi.
"Kita sampai.'' Orion berbisik pelan.
Luna perlahan membuka matanya dan menatap Orion horor. Ia masih belum terbiasa dengan sihir.
Luna kemudian menatap sekeliling dan menyadari kalau ini adalah kamarnya.
"Luna?'' Suara seseorang mengagetkannya.
"Papa? Mama?'' Ia menoleh kearah suara dan kaget karena melihat banyak orang disana.
Mama dan papanya, Raja, Ersy, Elsy, Zelya dan bahkan para petinggi kerajaan.
Luna membungkuk sopan dan tersenyum kearah Raja yang tak lain adalah ayahanda Orion.
Luna menghampiri kedua orang tuanya lalu memeluknya.
"Syukurlah kau baik-baik saja.'' Leto menepuk pelan kepala putrinya itu.
"Apanya yang baik-baik saja pa. Kau tak melihat tangannya?!'' Mama berteriak marah.
"Ah, ini hanya luka kecil ma, jangan khawatir.'' Luna tersenyum hangat.
Deg!! Deg!!
Kepala Luna tiba-tiba seperti berputar, debaran jantungnya menjadi aneh. Kepalanya seperti terhantam benda keras, dan ia merasakan sakit luar biasa di dada dan kepalanya.
Wajah Luna memucat.
Brukk!
Orion melotot kaget melihat Luna jatuh tepat didepan kedua orangtuanya.
"Luna?!" Lea berteriak panik melihat putrinya jatuh sambil memegangi kepalanya.
"Akhhh! Sa..kit.'' Rintih Luna.
"Putri?!'' Ersy dan Elsy juga tak kalah paniknya.
Orion bergegas menghampirinya dan langsung memeluknya.
"Kalian semua keluar sekarang!'' Orion berteriak kalap.
"Tapi..'' Lea menatap Orion tak percaya.
"Tak ada waktu lagi, keluarlah dari ruangan ini. Aku akan memasang penghalang sihir diruangan ini!'' Orion kembali berteriak.
Leto terpaksa menarik Lea agar keluar dari ruangan, tapi Lea tetap tak membiarkan suaminya menariknya.
"Kumohon Lea, percayalah pada Pangeran.'' Bujuk Leto lembut.
Akhirnya Lea mengangguk dan mengikuti Leto.
Deg! Deg! Luna terus merintih memegangi kepalanya, dadanya juga sakit bukan main. Ia mulai susah bernapas.
Kepalanya sangat sakit dan terasa panas seperti mau pecah.
Sementara itu, Orion membuat penghalang sihir diseluruh ruangan agar sihir apapun tak bisa terserap oleh Luna.
"Luna?!'' Panggil Orion cemas.
"O..rion. ke..kenapa? Sakit..sakit..'' Rintih Luna terus menjambak rambutnya.
"Tenanglah Luna. Aku akan menjagamu.'' Orion lalu memeluk Luna erat dan membaca sebuah mantra.
Sinar merah bulan purnama menyinari kamar Luna.
Berbagai kenangan dan ingatan muncul dikepala Luna. Kalung kubus perak yang dipakai Luna pun bersinar terang.
"Luna, tenanglah. Aku selalu bersamamu..'' Orion berbisik pada Luna yang berteriak dan memberontak dalam pelukannya.
Luna mencengkeram lengan Orion sambil berteriak kesakitan.
"Aaaaaah, O...rion.. sakit.. aakkkhh!'' Ia kembali menjerit dan memberontak dipelukan Orion.
KAMU SEDANG MEMBACA
Silver Moon (END)
Fantasy#1 in Fantasy (12-03-2017) Sebuah cermin menuntun seorang gadis bernama Luna ke dunia penuh keajaiban. Di sana, pangeran berambut perak yang terlahir di bulan perak telah menunggu sekian lamanya untuk membawanya pada takdir berbahaya. Orion, itulah...
