"Aku harus menemuinya.'' kata Luna tanpa ekspresi sedikitpun.
Lea mengangguk dan sedikit mendorong punggung putrinya ke arah pintu.
Kepala Luna rasanya sangat sakit seperi mau pecah, tapi itu tak masalah untuk Luna. Karena bahkan itu tak sesakit saat melihat Orion terbaring lemah dikasurnya.
Tak ada seorangpun dikamar Rion. Zelya berjaga didepan pintu ruangan ini bersama Gildez.
Luna perlahan berjalan kearah Orion terbaring lemah. Ia tak bisa menahan tangisnya lagi. Air mata Luna terus saja jatuh saat melihat wajah Orion yang mulai sedikit membiru.
"Apa yang harus aku lakukan Rion?'' Luna menangis sambil menggenggam tangan Orion. "Aku tak ingin kehilanganmu.'' ia mengusap pelan pipi Orion.
"Aku akan lakukan apapun untuk menyelamatkanmu, Rion. Aku akan mengorbankan apapun untuk mrnyelamatkanmu! Sekalipun itu nyawaku..'' Luna terus menggenggam tangan Orion dan terus berbicara padanya.
Tiba-tiba Luna ingat perbincangannya dulu bersama Orion tentang orang terpilih.
"Lalu.. apa istimewanya 'orang terpilih' hingga diperebutkan dari abad ke abad?'' Tanya Luna heran.
"Bukan hanya karena mereka memiliki kemampuan istimewa saja, mereka juga memiliki hak istimewa.'' jawab Orion.
"Hak istimewa? Apa maksudmu?'' Luna kembali bertanya.
"Ya, mereka memiliki hak istimewa untuk mengorbankan sesuatu untuk meminta sesuatu. Contohnya, mereka bisa mengorbankan apapun yang berharga bagi mereka, sekalipun bentuknya berupa barang atau nyawa untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.''
"Hanya 'orang terpilih' saja yang bisa melakukannya?'' Luna ragu.
"Benar.''
***
Luna kembali kekamar Orion saat bulan purnama perak malam itu juga.
Hanya Luna dan Orion yang tahu tentang sihir ini. Jadi ia tak perlu khawatir, karena tak seorangpun curiga pada Luna saat tengah malam seperti ini ia masuk kekamar Orion.
Tak perlu mantra apapun untuk sihir pengorbanan ini, yang dibutuhkan hanyalah cahaya terang bulan untuk melakukan ritual ini.
Luna membuka jendela kamar Orion lebar-lebar, membiarkan cahaya bulan menerpa kamar Orion. Kemudian ia berlutut disamping kasur Orion dengan bermandikan cahaya perak bulan. Luna mulai menggenggam tangan Orion sambil berdoa dalam hati agar Orion kembali padanya seperti sedia kala.
Luna menarik napas dalam-dalam dan kembali menghembuskannya. Ia mulai memejamkan matanya dan berkonsetrasi memusatkan pikirannya pada satu tujuannya.
Luna tak perduli apapun itu yang akan diambil darinya, yang terpenting Orion tak boleh mati, itulah yang Luna pikirkan saat ini.
"Aku, Luna Reana...Akan mengorbankan salah satu hal berharga yang ada padaku..dan mempersembahkannya untuk menyembuhkan Orion Diorez sepenuhnya.'' Luna merasakan kekuatan sihir dan tenaganya terhisap sedikit demi sedikit. Luna mulai merasa pusing, ia berpegangan pada pinggir kasur Orion untuk menahan tubuhnya. Pandangannya juga mulai kabur.
"Ri...on..'' panggil Luna sebelum ia terjatuh dan tak sadarkan diri.
***
Gelap..
Luna tak bisa melihat apapun. Semuanya hitam.. tak ada cahaya sedikitpun.
Luna bisa mendengar suara seseorang samar-samar.
"...na..Luna...'' Panggil sebuah suara.
Siapa? Luna bertanya-tanya.
Tapi sesaat kemudian suara itu kembali menghilang..
KAMU SEDANG MEMBACA
Silver Moon (END)
Fantasía#1 in Fantasy (12-03-2017) Sebuah cermin menuntun seorang gadis bernama Luna ke dunia penuh keajaiban. Di sana, pangeran berambut perak yang terlahir di bulan perak telah menunggu sekian lamanya untuk membawanya pada takdir berbahaya. Orion, itulah...
