Kubuat khusus untuk kalian yang shipper Artan alias Ares Intan...
***
"Kak Ares?" Intan masuk kekamarnya yang tak terkunci. Orion dan Luna telah mengantarnya ke Davor dengan sihir teleportasi.
Sekali lagi ia mencoba memanggil Ares. "Kak Ares dimana?" ia perlahan berjalan menelusuri kamarnya, tapi ia tak menemukan sosok yang ia cari dan akhirnya memilih untuk duduk dikasur dan menunggunya.
Cklek!
Seseorang keluar dari kamar mandi, membuat gadis itu langsung menoleh kearah suara. "Kak Ares!" Intan langsung ternganga kaget melihat Ares yang keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang melingkari pingganya serta rambut coklat keemasannya yang basah.
Dengan cepat Intan langsung menyambar handphone ditasnya, kemudian langsung mengambil pemandangan di depannya dengan kamera handphonenya, membuat Ares bengong tak tahu harus bereaksi dan berbuat apa.
Intan terus mengambil gambar Ares dengan berbagai angle, sambil tersenyum lebar, "Hal seperti ini harus dimanfaatin kak! Rejeki nomplok ini namanya." matanya berbinar-binar saat melihat abs Ares.
Ares terkekeh geli, "Sudah puas?
Intan menggeleng, tapi Ares langsung menangkap tubuh mungilnya agar diam menatap ke arahnya. "Sudah cukup! Sekarang, aku ganti baju dulu. Kau harus tunggu diluar ya." Ares mendorong lembut punggung Intan dan mengantarnya keluar kamar.
Setelah lebih dari sepuluh menit barulah Ares kembali membuka pintunya, dan memperbolehkan gadis itu kembali masuk ke kamarnya. "Siapa yang mengantarmu kemari? Zelya?"
Intan menggeleng cepat, "Kak Luna dan Kak Orion." Ia memandang Ares dengan ekspresi yang sulit diartikan, "Kakak lagi banyak masalah ya."
Ares menatapnya tersenyum, "Dasar anak kecil sok tahu!"
"Ck! Jangan panggil aku anak kecil kak. Aku ini udah kerja! Umurku bahkan udah 27 tahun!" bantah Intan kesal karena Ares tak pernah menganggapnya sebagai wanita.
Ares ikut duduk disofa, tepat disamping Intan lalu bersandar dipundaknya.
"Eh?" Intan kaget sekaligus heran, tak biasanya Ares bertingkah seperti ini. Ares yang selalu dikejar-kejarnya selama sembilan tahun terakhir sejak mereka bertemu dipernikahan kakaknya itu tak pernah sekalipun menanggapi perasaannya. Intan tahu, Ares selalu menganggapnya seperti adik.
"Haruskah aku pergi dari sini dan tinggal di duniamu?"
Intan kaget, tapi ia lalu mengusap pelan kepala Ares, "Ada apa? Kakak bertengkar lagi dengan saudaramu?"
Ares menggeleng, "Kami tak bertengkar, mereka membenciku."
"Kalau kakak tak merasa ada salah, jangan takut. Biar saja mereka membenci kakak, yang penting kakak tak balas membenci mereka. Kalau kakak juga balas membenci mereka, maka kebencian itu tak akan ada habisnya, itu artinya kakak sama saja dengan mereka."
Ares mengegakkan tubuhnya lalu menatap Indri dengan heran, "Kamu dapat kata-kata itu dari mana? Nyontek dari buku ya?"
Intan tersenyum hambar, malas meladeni laki-laki yang tak pernah serius jika berbicara dengannya. Tiba-tiba suatu ide terlintas begitu saja dikepalanya. "Kak, aku kesini mau ngasih tahu sesuatu. Ini terakhir kalinya aku kesini."
"Kenapa begitu?" Ares menatapnya serius.
"Aku lelah tak pernah dianggap sebagai perempuan, aku tahu kak Ares cuma menganggapku seperti adik. Karena itu aku menyerah, percuma mengejar-ngejar seseorang yang bahkan sudah tau bagaimana perasaan aku, tapi sama sekali tak perduli pada perasaanku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Silver Moon (END)
Fantasy#1 in Fantasy (12-03-2017) Sebuah cermin menuntun seorang gadis bernama Luna ke dunia penuh keajaiban. Di sana, pangeran berambut perak yang terlahir di bulan perak telah menunggu sekian lamanya untuk membawanya pada takdir berbahaya. Orion, itulah...
