Tangan Ares terulur ketembok dibelakang Luna. Saat ini posisi Luna terkurung diantara lengan Ares.
"Tolong, hentikan Ares.'' Luna menatap Ares was-was dan sedikit gemetar.
Ares semakin mendekat dan mencengkram bahu Luna lalu memeluk Luna dengan kasar.
Luna memberontak kuat-kuat tapi percuma. Tenaga Ares lebih kuat, Luna memejamkan matanya sambil gemetaran.
Tangan Ares membelai kepala Luna dengan pelan. Luna benar-benar ketakutan, wajahnya sangat pucat dan juga badannya gemetar.
Ares tahu akan hal itu, tapi Ares malah semakin marah dan menarik Luna dan mendorongnya kuat-kuat. Luna yang tak menyangka Ares akan mendorongnya sebegitu kuat hingga Luna menabrak meja kecil yang diatasnya ada sebuah vas bunga disebelah kasurnya. Vas bunga itu jatuh dan pecah mengenai lengan Luna.
Luna merasakan perih di lengan kanannya yang terkena pecahan vas itu. Darah mengalir dilengan kanannya dengan deras. Luna merasakan sakit yang teramat sangat dilengannya, rupanya pecahan vas itu mengenai pergelangan tangannya juga.
Tubuh Luna mulai lemas, dan kesadarannya mulai hilang.
Haha, konyol sekali. Apa aku akan mati karena terkena vas itu? Ares brengsek! Aku tak akan memaafkannya kalau sampai aku mati konyol seperti ini. Itulah yang dipikirkan Luna sesaat sebelum ia pingsan.
Luna masih bisa melihat wajah Ares yang panik dan berteriak-teriak memanggil namanya.
"Luna! Luna! Maafkan aku! Aku tak bermaksud melukaimu! Luna!'' Ares mengguncang-guncang tubuh Luna dengan kalap.
Ares berteriak-teriak seperti orang gila memanggil-manggil Luna.
"Vizy! Vizy! Panggil tabib sekarang!'' Ares berteriak pada gadis pelayan yang baru sampai dipintu kamar Luna.
"Baik pangeran.'' Kata Vizy langsung berlari meninggalkan tuannya.
Ares sangat ketakutan lalu menggendong Luna perlahan ke atas kasur.
Luna diam dan sama sekali tak bergerak. Ares memegangi Luka di pergelangan tangan Luna agar darah tak terus merembes keluar. Tapi percuma, rupanya luka itu cukup dalam dan lebar, ada pecahan vas yang menancap dalam dipergelangan tangan Luna.
Ares sama sekali tak berani menyentuh pecahan yang menancap dipergelangan tangan Luna.
Luka itu tepat disebelah nadi Luna, kalau sampai vas itu bergerak kesamping sedikit lagi, maka nyawa Luna benar-benar akan dalam bahaya. Ares tahu itu, karena itu wajahnya berubah menjadi pucat dan ia sangat menyesali perbuatan bodohnya itu.
Ares hanya kesal dan berniat memberi Luna pelajaran sedikit, tapi ia malah melukainya sampai seperti ini.
Ares panik dan menjambak rambutnya kuat-kuat tak tahu harus berbuat apa.
Setelah tabib datang, Ares hanya diam dan terus duduk disamping Luna yang terbaring dikasur.
"Ia akan baik-baik saja pangeran, ia pingsan karena kaget. Pendarahannya juga sudah berhenti, untunglah pecahan vas itu tak mengenai nadinya.'' Setelah itu tabib laki-laki itu pergi meninggalkan Ares yang melamun.
"Pa..pangeran. Sebaiknya kau istirahat. Ini sudah sangat larut. Biar aku yang menjaganya.'' Vizy menawarkan diri.
"Tak perlu, aku akan tetap disini.''
KAMU SEDANG MEMBACA
Silver Moon (END)
Fantasi#1 in Fantasy (12-03-2017) Sebuah cermin menuntun seorang gadis bernama Luna ke dunia penuh keajaiban. Di sana, pangeran berambut perak yang terlahir di bulan perak telah menunggu sekian lamanya untuk membawanya pada takdir berbahaya. Orion, itulah...
