Special part - Orion's point of view

57.1K 4.9K 39
                                        

Aku terus memperhatikannya. Aku terus melihat wajahnya..
Setiap kali bersamanya aku tak bisa mengalihkan perhatianku darinya.

"Belum mau masuk?'' tanyaku padanya.

Ia menggeleng pelan dan masih tetap memejamkan matanya sambil merasakan angin malam yg berhembus pelan membelai wajahnya.

"Rion.'' panggilnya pelan.

"Hmm?'' jawabku sambil tersenyum memperhatikan wajahnya.

"Dingin.'' keluhnya.

Aku tersenyum kecil karena tak menyangka ia akan mengatakannya. Kelakuan Luna memang tak pernah bisa tertebak, bahkan oleh diriku sekalipun.

"Makanya, ayo masuk kedalam.'' kataku menggenggam tangannya yang dingin.

"Nggak mau.'' Luna menggeleng pelan lalu tangannya terulur dan meraba-raba ke arahku.

Luna menarik ujung bajuku tanda agar aku mendekat kearahnya.

Luna tersenyum dan perlahan mengulurkan tangannya kearahku dan meraba wajahku.

"Wah, kau tersenyum.'' katanya ikut tersenyum.

"Peluk.'' Luna merentangkan kedua tangannya ke arahku yang duduk disampingnya.

Aku terdiam sesaat. Kaget mendengar permintaannya.

"Kenapa? Nggak mau?'' Luna mengerutkan alisnya dengan wajah bingung.

Aku langsung menarik badannya mendekat kearahku dan memeluknya erat.

"Tentu saja mau.'' kataku membelai rambut panjangnya perlahan. "Kau kan istriku.''

"Benar. Aku bahkan tak menyangka kita sudah menikah. Semuanya seperti mimpi.'' Katanya datar.

"Ini bukan mimpi.'' kataku mencubit pelan kedua pipinya yang tembam. "Ini bahkan sudah dua bulan sejak kita menikah.''

Aku menarik kepalanya agar bersandar di dadaku.

Aku sangat bahagia bisa terus berada disampingnya.

Setiap kali aku melihat wajahnya aku sangat bahagia, dan diwaktu yang bersamaan hatiku sakit.

Setiap kali aku teringat kalau ia kehilangan kedua matanya karena diriku, aku ingin meneteskan air mata.

Aku sangat merasa bersalah padanya. Karena itu.. aku akan melakukan apapun untuknya agar dapat terus berada disisinya.

"Ah, disini sangat dingin. Ayo masuk kedalam.'' Aku menunduk dan menatapnya.

Ah ia tertidur..
Spontan aku langsung tersenyum.

Dengan hati-hati aku mengangkatnya perlahan dan menggendongnya masuk ke dalam istana.

Larut malam seperti ini cuacanya sangatlah dingin, tapi aku tak tahu entah kenapa Luna suka sekali duduk di taman pada waktu seperti ini.

Sebelumnya aku sudah berpesan pada Elsy untuk merapihkan tempat tidur kami sebelum kami kembali.

Aku menidurkannya perlahan dikasur lalu menyelimutinya, dan tentu saja aku juga ikut masuk keselimut dan tidur disebelahnya.

Lagi-lagi aku tersenyum melihat wajah polosnya saat sedang tidur.

Aku memeluknya sambil mencoba memejamkan mata sambil berharap, aku bisa melakukan hal ini setiap hari bersamanya di sisa hidupku.

***

Aku membuka mata saat matahari sudah tinggi. Cahayanya mengusikku dan membuatku terbangun

Hal yang pertama kali aku lakukan adalah tersenyum, mengingat kalau aku sudah resmi menjadi suami dari orang yang paling aku cintai.

Aku menoleh kearah tempat Luna tertidur dan terkejut karena ia tak ada disana.

Aku mencoba mengumpulkan kekuatanku lalu duduk dikasur sambil mencoba sadar sepenuhnya dari rasa kantuk.

Setelah beberapa menit, aku berjalan kearah jendela yang sudah terbuka dan menengadahkan kepalaku mencari Luna lewat jendela.

Ah.. benar dugaanku. Ia duduk dibawah pohon bersama Elsy dan Ersy.

Aku menghampirinya dengan cepat.

Saat aku sampai Elsy dan Ersy membungkuk kearahku.

Luna hanya diam sambil terus menyender di pohon.

Tanpa sadar aku mengangkat sudut bibirku sedikit tanpa terlihat oleh Elsy dan Ersy.

Ya. Seperti itulah aku..

Aku tak pernah sekalipun tersenyum didepan orang selain Luna.

Aku tak akan membiarkan siapapun melihat ekspresi wajahku, kecuali Luna seorang. Bahkan ayahanda sekalipun.

Aku menatap kearah Elsy dan Ersy dengan datar dan memberi mereka kode untuk pergi meninggalkan kami.

"Kau sedang apa?'' Bisikku ditelinganya.

Luna langsung membuka matanya dengan ekspresi marah.

"Rion! Kebiasaanmu membuatku kesal. Jangan muncul tiba-tiba begitu kalau tak ingin membuatku jantungan!'' katanya kesal.

Aku tertawa lalu mengusap lembut kepalanya. Mendengarku tertawa ia ikut tersenyum. Selalu seperti itu.

Aku menarik tangannya dan membimbingnya agar duduk di depanku. Aku memeluknya dari belakang perlahan.

"Apa yang ingin kau lakukan hari ini?'' tanyaku.

"Hmmm... beri aku waktu untuk berfikir.''

Belum sempat Luna memberikan jawabannya padaku, Zelya datang dan menghampiri kami dengan tergesa-gesa.

"Pangeran! Putri! Dokter Leto dan Lea sudah kembali!'' katanya cepat.

Aku langsung mengajak Luna berdiri dan menuntunnya keruang pertemuan tempat mereka biasa berdiskusi.

"Bagaimana? Kalian menemukan cara agar matanya bisa kembali?'' tanyaku langsung saat berada dihadapan kedua mertuaku.

Dokter Leto dan Lea menatapku dengan ragu.

Aku berdoa dalam hati agar kabar baik yang kami terima, aku tak ingin membuat Luna kecewa.

Silver Moon (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang