Chapter 19 - Leave from Gerwish

53.7K 4.9K 132
                                        

"Pangeran.. kau benar-benar yakin dengan keputusanmu?'' Tanya Leto khawatir.

"Tenanglah dokter Leto, aku bisa berkunjung sesekali kemari.''
Kata Orion dengan tenang.
"Dimana Luna?''

"Ia sedang menghadap raja, sebentar lagi ia akan kemari.'' Lea tersenyum lembut.

Brakk! Seseorang masuk keruang tempat mereka berdiskusi dengan tergesa-gesa.

Orion, Leto, Lea, serta Elsy menoleh kearah pintu. Seseorang masuk dengan tergesa-gesa dan langsung menunduk dihadapan Orion.

"Ada apa Zelya?'' Orion bertanya.

"Aku.. aku akan ikut bersama kalian pangeran! Bolehkah? Tak ada gunanya aku disini kalau pangeran tidak ada, aku adalah pengawal pangeran.'' Zelya berlutut dihadapan Orion.

Orion diam tak merespon .
Seseorang berbicara menggantikan Orion, ''Bicara apa kau Zelya? Tentu saja kau ikut! Kalau kau tak ikut siapa lagi yang akan melindungi pangeran dan putri?''

Zelya menoleh kearah Leto sambil tersenyum. Leto pun balas tersenyum.

Zelya berdiri dan menunduk sedikit kearah Leto. "Terima kasih dokter! Aku selalu menyukaimu! Kau yang terbaik!'' Zelya tersenyum lebar tanpa beban.

"Kau senang?'' Orion menyindir Zelya.

"Pangeran.'' Zelya terus tersenyum. Ia tak bisa berhenti tersenyum.

***

"Ambilah ini.'' Azka memberikan sebuah permata berwarna biru laut sebesar batu kerikil dan meletakkannya diatas telapak tangan Luna.

"Apa ini, yang mulia?'' Luna bertanya sambil menggenggam benda itu.

"Simpanlah ini baik-baik. Suatu saat kau akan membutuhkannya.'' Azka menepuk pundak Luna pelan.

"Terima kasih, yang mulia.'' Jawab Luna tak mengerti.

"Baik-baik lah disana. Pastikan suamimu tak mengacau disana. Ia tak tahu banyak tentang dunia sana.'' Azka memperingati.

Luna mengangguk pasti dan tersenyum. "Terima kasih karena telah mengijinkan kami yang mulia.''

***
"Putri..'' Ersy merengek. Ersy memang sudah Luna anggap seperti adik sendiri, sama seperti Elsy adik kembar perempuan Ersy.

"Hmm?'' jawab Luna sambil menggandeng tangan Ersy sebagai penunjuk jalannya.

"Bolehkah aku mengunjungimu sesekali?'' tanyanya khawatir.

Luna tersenyum, ''kenapa tidak?''

"Aku pasti akan merindukan putri.''

Luna meraba wajah Ersy kemudian memegang kepalanya lembut dan menepuk-menepuknya seperti seorang kakak yang menenangkan adiknya.

"Tenanglah, kau bisa mengunjungi kami kapan saja.'' Luna tersenyum.

Ersy terlihat sangat senang mendengar jawaban Luna.

"Ah, sepertinya pangeran sudah menunggumu putri.'' Ersy berbisik pada Luna.

Luna tersenyum.

"Sudah selesai?'' Rion mengambil alih tangan Luna dari Ersy.

Luna mengangguk sedikit.

Setelah itu Lea, Leto, Ersy, Elsy, Gildez, dan juga Ares mengantar Luna, Orion serta Zelya ke ruang ritual cermin untuk teleportasi ke bumi.

Tunggu....

Ares?!

"Sejak kapan kau disini?'' kata Orion tak suka. Ekspresinya kentara sekali kalau ia terganggu oleh keberadaan Ares.

Silver Moon (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang