Take Care of You

7.5K 706 15
                                        


Lengan Bastian hanya dislokasi ringan. Itu yang dikatakan oleh dokter. Tentang lelaki itu yang pingsan, itu karena ia kelelahan setelah berpergian jauh. Itu juga yang dikatakan dokter.

Padahal hanya membutuhkan waktu 12 jam penerbangan dari Jakarta ke Brisbane.

Lelaki ini begitu manja, pikir Bintang.

Kini Bintang mau tidak mau, sudi tidak sudi harus menjaga Bastian. Bagaimanapun lelaki itu sudah mencelakakan tubuhnya demi menyelamatkan dirinya.

Malam itu menunjukkan pukul 9 waktu setempat. Rasa lapar kembali menghinggapi perut Bintang. Karena terlalu malas untuk memasak, Bintang memutuskan untuk pesan antar.

"I'd like to order..." Bintang menyebutkan beberapa menu yang akan ia pesan. "Please deliver it to Staff House RD, St Lucia, Brisbane Park 1016—sorry I mean 1015. Okay, thank you."

Bintang hampir saja salah menyebutkan unit ke mana pesanan akan diantar.

Belum berapa lama ia meninggalkan temaptnya, Bintang sudah merindukan unit apartemennya.

***

Membutuhkan waktu 30 menit untuk pesanannya sampai di tujuan. Suara ribut Bintang dengan pesan antar membuat Bastian terbangun dari tidurnya. Ia tidak sadar akan kondisinya langsung menegakkan badan yang dibarengi dengan rasa sakit.

Suara kesakitan yang dikeluarkan Bastian cukup mencuri perhatian Bintang membuatnya  langsung beranjak ke kamar Bastian.

"Lo kenapa? Gak apa-apa kan?" suara Bintang terdengar sedikit khawatir.

"Lo cemas? Gue kenapa?" tanya Bastian.

Mendengar suara percaya diri Bastian bahwa dirinya khawatir akan lelaki itu, membuat Bintang kembali ke alam sadarnya.

"Lo liat aja sendiri lo kenapa." Bintang menjawab dengan dingin kemudian berlalu meninggalkan lelaki itu sendiri kebingungan.

Bintang kembali memposisikan dirinya seperti tadi, siap menyantap makanannya.

Cuma dislokasi ringan kan? Kelelahan? Juga udah dikasih vitamin sama dokter. Buat apa gue cemas?

Pada suapan ke-2, Bintang berhenti melahap makanannya. Tidak mendengar suara apapun dari Bastian, ia segera bangkit untuk memeriksa keadaan lelaki itu.

Bodohnya ia merasa khawatir. Ia hanya menemukan Bastian sedang bermain dengan ponselnya. Dengan kedua tangannya. Padahal lengan sebelah kanan tidak boleh banyak bergerak untuk sementara waktu, kata dokter.

Tanpa pikir panjang, Bintang berjalan mendekati Bastian dan mengambil alih ponsel Bastian.

Bintang duduk di sudut ranjang Bastian. Masih menahan ponselnya.

"Lo lagi sakit."

"Gue tau."

"Lengan lo gak boleh banyak bergerak. Kata dokter gitu."

Bastian tersenyum. "Kok lo jadi perhatian sama gue?"

"Bukan gue. Dokter." Bintang kemudian berlalu.

Sebelum langkah Bintang meninggalkan kamar Bastian ia bertanya.

"Chicken porridge or chicken soup?"

Bastian berpikir. "No one of them."

Bintang memutar bola matanya. Ini orang sakit kenapa banyak maunya, sih?

"I don't have time for your joke—"

"I want you." Bastian mulai dengan leluconnya.

Bintang sempat terkejut dan sedikit senang mendengar jawaban Bastian . "Lo mau mati?" Kali ini Bintang melawan.

Bastian tergelak. "Chicken soup then, happy?"

"Okay." Bintang berlalu meninggalkannya beberapa saat kemudian kembali dengan semangkuk sup ayam. Untung saja ia tadi memakan bubur ayam.

"Nih, makan." Bintang menyodorkan pesanan Bastian.

"Suapin." Pinta Bastian.

"Lo punya tangan kan?"

"Lah, lo sendiri yang bilang tangan gue gak boleh banyak bergerak."

Tangan Bintang yang bebas mengelus tengkuk lehernya. Bertingkah seolah kini ia stress menghadapi manusia satu ini.

Mau tidak mau, Bintang harus menyuapinya, enggan.

"Thanks for take care of me." Bastian bersuara ditengah ia melahap makanannya.

Bintang merasakan sesuatu yang aneh. Seharusnya dia lah yang berterima kasih kepada Bastian karena telah menyelamatkannya. Namun rasa gengsinya mengalahkan rasa luluh di hatinya.

Bintang tidak bergeming.

Lengan kiri Bastian yang bebas mengambil alih mangkuk di tangan Bintang. Menaruhnya di meja yang terletak di sebelah ranjang. Bastian mendekati Bintang, menghabiskan jarak di antara mereka berdua. Menuntun lengan Bintang agar melingkarkan lengannya di pinggang lelaki itu.

Lengan kiri Bastian memeluk pinggang Bintang erat.

Bastian tidak tahu mengapa ia terdorong untuk mendekap tubuh Bintang. Hanya saja Bastian merasakan kesepian, ditambah kondisi fisik yang kurang sehat. 

Lelaki itu bernapas di tengkuk Bintang kemudian berbisik.

"You don't have to feel bad for me. I am fine," bisiknya.

Bintang bingung.

What should I do? Batinnya.

***



Brisbane: RunawayCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang