Setelah dilakukan baca naskah, revisi ulang dan kembali pada pembacaan naskah, akhirnya tiba saat di mana latihan untuk pertunjukan teater dimulai.
Bintang selaku penulis naskah, mau tidak mau terlibat pada setiap adegan awal hingga akhir. Ada beberapa berjalan lancar dan ada beberapa adegan yang membutuhkan bantuan Bintang baik itu dalam menyatakan sebuah emosi maupun merubah dialog agar menjadi lebih efektif.
Saat beristirahat merupakan hal yang paling Bintang sukai. Karena saat itulah ia bisa terlepas dengan kegiatan teater yang menyita tenaga, pikiran dan juga perasaannya.
"Bintang, ternyata kamu di sini!"
Seseorang tengah berlari kecil mendekati Bintang.
"Ryan. Kamu kok di sini?"
Adrian duduk di sebelah Bintang. "Mau makan bareng, lah."
Bintang melanjutkan makan siangnya. "Makasih loh selama latihan kamu bisa improvisasi. Jadi aku bisa sedikit santai."
Adrian membuka minuman berisi susu dan memberikannya pada Bintang. "Kamu pasti capek banget, ya?"
"Yah, salah aku sih." Bintang meneguk minumannya. "Karena di pertengahan, aku nulis naskahnya juga agak hancur. Udah revisi. Masih ada yang mengganjal."
Adrian menatap Bintang sedih. Jemarinya lalu dikaitkan dengan jemari Bintang. "Tell me what can I do for you?"
Bintang tersenyum tipis lalu meremas jemari Adrian. "Just do it well. Termasuk sama Mia nanti."
Senyum Bintang hilang saat menyebut nama Mia. Bukannya ia membenci Mia, ia hanya membenci untuk mengingat apa yang harus dilakukan Adrian nantinya dengan Mia.
Adrian menghabiskan suapan terakhirnya lalu memfokuskan dirinya pada Bintang. "That kiss scene, kamu bisa tulis ulang aja gak? Aku cium Mia nanti di dahinya aja."
Bukannya menjawab Adrian, yang dilakukan Bintang hanya menatap dengan heran.
"Gak bisa gitu dong, Ryan."
Wajah Adrian memelas. "But I don't want to make my girlfriend jealous."
Bintang menegakkan kepala saat Adrian berkata demikian.
"Siapa yang cemburu sih, Ryan?"
"Kamu lah, siapa lagi." Telunjuk Adrian berhenti di dahi Bintang. "Di sana tertulis 'I am jealous'."
Bintang tidak bisa menahan tawanya. "Apa sih kamu, Ryan. Ada-ada aja!"
Baru saja Adrian akan berbicara, teleponnya terlebih dahulu berdering.
"Halo, Bas? Iya gue bentar lagi ke sana. Oke."
Adrian menatap Bintang, wajahnya tampak malas untuk beranjak. "I have to go now."
Bintang mendorong pelan tubuh Adrian. "Sana gih. Udah dicariin. Nanti ketemu lagi ya."
Dengan berat Adrian melangkahkan kakinya, namun detik berikut ia membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan ke arah Bintang.
"I forget something..."
Bintang yang tadi menunduk pun mengadah melihat Adrian kembali di hadapannya.
"Kamu lupa apa?"
Adrian mencium Bintang dengan kilat. "Dinner at my place, okay?"
Perlakuan Adrian sukses membuat suasana hati Bintang menjadi lebih baik.
***
Latihan hari itu akhirnya tiba pada adegan terakhir. Adegan yang paling ditunggu, tetapi adegan yang paling dihindari oleh Bintang.
Tetapi dengan alasan profesionalitas, Bintang harus bisa menyingkirkan perasaan tidak enaknya.
Seseorang menyentuh bahu Bintang ketika ia tengah sibuk mempertahikan panggung.
"Jealous, huh?"
Bintang malas menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bastian.
"Biasa aja tuh."
"Yakin?"
"..."
"Serius, gak cemburu?"
Merasa terganggu oleh Bastian, akhirnya Bintang menoleh.
"Gue gak cemburu, paham?"
Bastian tertawa mendengar Bintang. Perempuan itu bersuara bahwa ia tidak cemburu, padahal dari cara ia berbicara ia terlihat sangat cemburu.
"Jujur aja kali, Bintang. Posisi kita sekarang sama."
Bintang akhirnya melunak. "Terus kenapa? Kasihan ya kita?"
Bastian dengan santainya mengangguk.
Saat itu Bintang berpikir untuk menggoda Bastian. "Gak keren lo. Ngaku artis di Indonesia. Aslinya gak profesional."
Bukan Bastian jika ia tidak membalas perkataan orang. "Kaya lo profesional aja. Itu di wajah tertulis 'siap-siap cemburu' tapi sok profesional. Nanti malam gak bisa tidur."
"Ngeselin banget sih, Bastian!"
Bastian tertawa ketika menyadari ia berhasil menggoda Bintang. Bagaimana ia begitu menyukai pertemanannya dengan Bintang saat itu.
"David, I don't think I can do the last scene now because the time is up!" teriak Mia pada saat itu. Ia merasa bersyukur karena waktu menyelamatkannya dari Adrian.
"Untung lo ingat waktu, Mia." Adrian merasa lega karena Mia sekaligus menyelamatkannya juga.
"Lo lihat deh di sudut kursi penonton. Bintang sama Bastian lagi lihat kita. Gak enak gue."
Adrian mengikuti arah telunjuk Mia. Senyum mengembang di wajah Adrian karena ia sangat lega telah menyelamatkan perasaan Bintang pada saat itu.
"Alright, time is up. Be ready for the second practice, tomorrow!" teriak David membubarkan latihan pertama saat itu.
***
"Kamu mau kita masak apa pesan makanan aja?" tanya Adrian pada Bintang setelah mereka memasuki apartemen.
"Pesan aja, yuk? Aku sama kamu sekarang sama-sama capek soalnya." Di saat Bintang akan memesan, tiba-tiba perutnya terasa terlilit.
"Kamu aja yang pesan ya, Ryan? Aku mules," ucap Bintang kemudian berlalu.
Adrian tersenyum mendengar Bintang yang begitu jujur. Adrian menyukai kejujuran Bintang.
Di tengah menunggu pesanan, Adrian dan Bintang membahas latihan tadi.
Di saat bel apartemen berbunyi, Bintang dengan semangat berjalan ke pintu.
Namun, bukan pesanan makanan mereka yang datang.
Melainkan, seorang perempuan yang terlihat cantik.
Perempuan itu bersuara. "Where is Adrian?"
Bintang berlalu setelah membiarkan perempuan menunggu Adrian.
"Ryan, ada yang cari kamu."
Adrian berlalu untuk melihat siapa yang mencarinya.
Saat menemukan seseorang itu, matanya membelalak.
Detik berikutnya, lengan perempuan itu mengalungi leher Adrian.
Bintang melihat adegan barusan dari kejauhan hanya tersenyum getir.
Who is that girl?
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Brisbane: Runaway
Любовные романыJarak belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Namun nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi pada suatu tempat, suatu sudut West Brisbane. Ini kisah mereka dengan tujuan be...
