Kissed Him Sadly

3K 266 14
                                        


"Bee, kamu taruh rangkuman MTAS 1 semester satu di mana, sih?"

Sore itu, Adrian menyempatkan diri ke apartemen Bintang untuk meminjam catatan semester 1 karena beberapa hari lagi ia akan dihadapkan dengan ujian akhir. Selain itu, Adrian memang ingin menemui Bintang karena ia merindukan perempuan itu.

"Cari aja di sudut rak buku, Ryan," teriak Bintang dari jauh. "Sudut sebelah kiri."

Adrian mengikuti ucapan Bintang dan dengan mudah menemukan catatan yang ia cari.

"Kalau Music Society 1 ada di mana Bee?"

Baru saja Bintang akan menjawab, tetapi ia ingat sesuatu. Buku yang dimaksud Adrian sebenarnya sudah ia simpan di tas karena Bastian sudah meminjam terlebih dahulu, namun lelaki itu masih belum menjemputnya.

"Oh, aku gak ada rangkuman Music Society 1, Ryan," ucap Bintang berbohong. Masalahnya bukan karena Adrian pacarnya, tetapi ia lebih memilih menepati janji dengan orang terlebih dahulu, Bastian.

"Oke deh kalau gitu." Adrian berhenti mencari di rak lalu berjalan menghampiri Bintang tengah asik menonton televisi.

Posisi Bintang setengah berbaring. Adrian kemudian ikut membaring, namun ia membaringkan kepalanya di perut Bintang. Sontak, Bintang menegakkan posisinya hingga membuat kepala Adrian turun.

Melihat Adrian tengah serius membaca, Bintang tidak tega mengganggunya. Bukannya mengusir Adrian, yang Bintang lakukan adalah membenarkan posisi kepala Adrian agar lelaki itu terasa nyaman.

Namun, sikap Bintang hanya sementar, detik berikut ia mengomeli Adrian. "Kamu mau tiduran apa belajar, satu-satu dong, Ryan." Omelan Bintang diikuti tangannya menyisir rambut Adrian.

"Kamu mau marah apa sayang sama aku, satu-satu dong, Bee."

Bintang menarik beberapa helai rambut Adrian dan membuat lelaki itu mengaduh.

"Sakit, Bee."

"Maksudnya tadi itu bikin konsentrasi, bukan sakit, Ryan."

"That was hurt, a little."

Bintang hanya tertawa mendengar Adrian.

Sedangkan Adrian hanya sibuk dengan buku yang ia baca. Hingga satu momen, ia teringat pada tujuan utamanya untuk menemui Bintang.

Adrian ingin berbicara satu hal yang sudah mengganggunya beberapa hari belakangan. Ia berharap dengan berbicara dengan Bintang, semua keadaan akan membaik.

Dengan gerakan cepat Adrian bangkit di tengah Bintang masih menyisir rambutnya.

Bintang melayangkan tatapan heran dengan sikap Adrian. Dilihatnya rambut Adrian berantakan dan itu membuatnya tertawa kecil.

"Buat rapi lagi dong Bee, bukannya ketawa."

Jemari Bintang kembali sibuk menyisir rambut Adrian agar kembali rapi.

"Udah tuh. Udah rapi. Udah ganteng lagi."

Adrian tersenyum pada ucapan Bintang. Begitu Adrian menyukai sikap Bintang terhadapnya.

"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan, Bee." Adrian berbicara dan terlihat serius.

"Sesuatu? Apa?"

Bukannya langsung menjawab Bintang, yang Adrian lakukan adalah menggenggam tangan Bintang. ibu jarinya sesekali mengusap punggung tangan perempuan itu.

"Tetapi sebelumnya, aku mau minta maaf. I am sorry, for everything, Bee."

"Ada apa, Ryan? Sorry for what?"

Adrian menghela napas begitu dalam sebelum menceritakan semua yang ia dengar dari Vivi beberapa hari yang lalu. Adrian menceritakan semuanya, tanpa melewatkan satu momen. Awalnya Adrian berbicara dengan tenang, namun semakin banyak ia bercerita, semakin mendalam rasa sedihnya.

Tanpa Adrian sadari, ia sudah menahan air mata di wajahnya.

"Aku minta maaf, Bee. Aku minta maaf atas sikap ayah. Aku minta maaf atas sikap Vivi. Terlebih lagi, aku meminta maaf atas diriku sendiri. Alasan utama mereka melakukan hal-hal tersebut karena aku. Karena mereka menginginkan yang terbaik untuk aku, yang sebenarnya mereka salah mengira. They thought that was the best thing for me, but it's not."

Bintang tanpa ia menyadari bahwa di wajahnya sudah basah oleh air mata.

Tangan kanan Bintang bebas dari genggaman Adrian. Lalu tangannya berpindah untuk menyentuh wajah Adrian.

"I am sorry Bee, I really am."

Bukannya menjawab Adrian, yang Bintang lakukan adalah menutup jarak antara dirinya dan Adrian.

Sebelum Adrian mengucapkan maaf, bibir Bintang terlebih dahulu membungkam bibir Adrian. Untuk pertama kalinya, Bintang mencium Adrian pada hari itu. Ciuman mereka hanya untuk beberapa detik karena Adrian tiba-tiba merasa sakit karena Bintang menciumnya di tengah perempuan itu menangis.

Adrian membuat Bintang menangis dan Adrian benci akan hal itu.

"You should stop saying sorry, Ryan." Ibu jari Bintang mengusap sudut mata Adrian yang sudah berair. "Mereka melakukan itu karena mereka sayang sama kamu. Terlebih lagi Vivi, she loves you, so much. And, she hates me because you love me, not her."

Kenyataannya bahwa Bintang tahu perasaan Vivi terhadap Adrian membuat lelaki itu merasa semakin bersalah.

Fokus Adrian jatuh pada tiap bulir air mata yang mengalir di wajah Bintang. Hal itu sukses menyiksanya.

Di satu sisi, Adrian ingin membuat Bintang tersiksa karena dirinya. Di sisi lain, Adrian tidak ingin melepas Bintang.

Melepaskan Bintang kemarin untuk pertama kalinya sudah lebih dari cukup. Melepaskan Bintang, hari ini bahkan besok? Tidak pernah ada di rencana Adrian bahkan setelah ia kembali bertemu Bintang di Brisbane.

Namun, satu perkara tidak mudah bagi Adrian.

Ia ingin bersama Bintang tanpa ingin menyakiti perempuan itu.

Dan ia harus mencari jawaban atas itu. Secepatnya.

Author note:

Sorry for long update! Kenapa? Karena baru ketemu ide gimana semua masalah tersampaikan tapi dengan elegan gitu/? Gak tau deh, I just want to try my best at writing. Karena cerita ini bukan draft yang aku simpan and then post. Tapi aku pikir hari itu, ngetik hari itu dan post hari itu juga.  As always, I hope you like it. And feel free to comment and vote.

Note: cerita ini bakal selesai beberapa part lagi. So...Imma be like happy and sad at the same time :(

Q:^

Brisbane: RunawayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang