Over Nothing

2.8K 297 8
                                        


Malam itu Bintang tengah mengesap cokelat panasnya. Hal itu cukup membuatnya hangat, ditambah lagi saat ia merasakan kehadiran seseorang dari belakang, apalagi saat sebuah lengan mendekapnya.

Tidak lupa, pemandangan malam dari sudut apartemen itu selalu menyita perhatian Bintang.

"Enjoying the view without me?" bisik Adrian. Napasnya menyentuh tengkuk Bintang membuat hidung perempuan itu mengerut.

"Lagian, pemandangan sisi lain Brisbane dari sudut apartemen kamu ini bagus banget!"

Adrian melepaskan dirinya dari Bintang sesaat. Ia memposisikan dirinya di sebelah Bintang. Lengannya yang bebas kembali merangkul Bintang dari samping.

"Bagus sih, saking bagusnya kamu fokus ke sini melulu," ucap Adrian setengah cemburu.

Bintang menoleh setelah mendengar ucapan Adrian. "Ryan, are you jealous?" tanya Bintang yang dibalas anggukan oleh Adrian. "Over this view? Seriously?"

"Iya, Bee. Emang kalau cemburu harus sama orang?"

Saat itu, Bintang memikirkan sesuatu. "Berarti aku juga boleh cemburu sama pemandangan juga dong?"

Pertanyaan Bintang membuat dahi Adrian mengerut. "Emang kamu pernah cemburu sama pemandangan?"

"Pernah lah! Pemandangan waktu latihan! Waktu kamu sama Mia..." Bintang tidak kuat melanjutkan kalimatnya. Bibirnya mengerut saat itu.

Adrian menarik Bintang hingga habis jarak diantara mereka. "Kan itu cuma akting. Melakoni sebuah peran. Not for real."

"Tapi kan tetap aja aku gak suka lihatnya," ucap Bintang dengan bibir masih mengerut.

Melihat sikap Bintang membuat Adrian tidak bisa menahan perasaannya. Adrian mengecup bibir singkat. "It's different the way I kissed her and they way I kissed you." Adrian berbisik dan napasnya menggelitik wajah Bintang.

Bintang meletakkan gelas kosong yang tadinya berisi cokelat panas di meja yang letaknya tidak jauh. Saat tangannya kosong, ia pun mengalungkan lengannya pada leher Adrian. "Diffrent? Maksud kamu?" goda Bintang.

"Berbeda lah, Bee. How to tell you that..."Adrian mengernyitkan dahi. Fokusnya jatuh pada bibir Bintang. Satu detik berikutnya Adrian kembali mencium singkat bibir Bintang.

Bintang menerima perlakuan Adrian padanya dengan senyuman.

Saat Adrian melepaskan ciuman singkat itu, dahinya masih mengerut. "Masih belum ketemu jawabannya. Maybe I should try again."

Awalnya Adrian mengecup bibir Bintang, namun Bintang membalas ciuman Adrian saat itu. Kecupan lembut, dua bibir saling melepas lalu kembali bertemu. Mereka seolah saling mengungkapkan perasaan mereka melalui ciuman tersebut.

Adrian dan Bintang tersenyum satu sama lain setelah melepaskan diri.

"The way I kiss you, like I have a feeling. And a taste," ucap Adrian yang membingungkan Bintang.

"A taste?"

Adrian mempererat rangkulannya. "You taste like a chocolate."

Bintang tertawa renyah saat mendengar Adrian berkata demikian. "Bodoh! Aku kan habis minum cokelat panas!"

"Tapi kemarin kamu rasa vanilla."

"Kemarin aku minum vanilla frappucino."

"Kemarin satu lagi kamu rasa strawberi."

"Aku kemarin satu lagi itu habis makan es krim strawberi, Ryan."

"Kemarin kemarin lagi kamu rasa campuran?"

"Hah?" tanya Bintang lalu membuat wajah bingung.

Adrian menangkup wajah Bintang yang tengah bingung. "Kamu masih belum ngerti juga, Bee?"

Bintang menggeleng. "Tell me something I don't know."

Adrian mendesah lalu menyamakan posisi wajahnya dengan Bintang. "Sama kamu itu, I feel a lot of amazing feeling, kalau sama dia itu ya nothing. Really, nothing."

Pipi Bintang saat itu memanas, Bintang pun menenggelamkan dirinya pada Adrian, tidak ingin lelaki itu menggodanya lagi. "Gombal ih!"

Baik Bintang maupun Adrian ingin mempertahankan momen tersebut, namun momen itu hanya untuk beberapa saat karena saat itu pula mereka mendengar bel berbunyi yang menandakan Adrian kedatangan tamu.

Bintang membiarkan Adrian membukakan pintu. Saat langkah Bintang mendekati ruang tengah, ia menemukan Adrian berbicara dengan Vivi.

"Adrian, lo harus telepon balik om Bernard sekarang karena—" kalimat Vivi terhenti saat ia melihat Bintang berjalan mendekati mereka.

"Ya udah gue telepon ayah sekarang ya," ucap Adrian kemudian berlalu dan menyibukkan diri dengan panggilannya.

Bintang mengambil posisi duduk di seberang Vivi.

"Hey Bintang. Udah lama lo di sini?" tanya Vivi membuat Bintang mengadahkan kepalanya yang tadi menunduk.

"Lumayan deh. Tadi baru selesai latihan teater bareng Adrian," ucap Bintang dengan canggung. Pandangan Bintang mencari Adrian yang tengah sibuk berbicara dengan seseorang melalu telepon.

Vivi mengikuti arah pandang Bintang. "Adrian lagi ngomong sama bokapnya. Beliau rencana hari ini mau ke Brisbane, gak tau kenapa gak jadi hari ini."

Kalimat Vivi barusan membuat Bintang sedikit merasa tertekan. Raut wajahnya menyaratkan rasa khawatir. Beberapa saat ia heran mengapa Adrian tidak cerita apapun padanya.

Vivi yang melihat ekspresi wajah Bintang yang tengah kalut pun tersenyum sinis. Di sisi lain ia merasa bahagia melihat raut khawatir yang tampak pada wajah Bintang.

Ada sesuatu yang terjadi antara Bintang dan Nathanel's. Vivi tahu akan hal itu.

Bintang pun bangkit dan mengemasi barangnya. Ia ingin pulang tempatnya saat itu juga.

Adrian yang melihat gerak gerik Bintang pun menjeda panggilan itu untuk berbicara dengan Bintang.

"Bee, kamu mau pulang?"

Bintang pun beralasan. "Kamu ingat kan David kasih tahu aku buat prepare kostum untuk pertunjukkan lusa?"

Belum sempat Adrian menjawab, Bintang mengecupnya singkat di pipi lalu pamit.

"I really have to go, kita bicara besok ya."

Brisbane: RunawayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang