Sudah sejam lebih Bintang berkutat dengan laptop untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Sesekali ia berhenti untuk minum vanilla frappucino kesukaannya. Bintang terlihat serius, saking seriusnya ia tidak sadar seseorang menempati tempat duduk di seberangnya. Hingga seseorang itu bersuara barulah Bintang menoleh.
"Sibuk banget sih, Bee." Adalah suara Adrian yang menyapa Bintang.
Senyum membelah wajah Bintang sebelum membalas ucapan Adrian. "Kok kamu bisa di sini?" Bintang melirik jam yang tertera di sudut kafe. "Masih jam 10 pagi, emang gak ada kelas?"
"Gak ada kabar dari kamu itu lebih penting daripada datang kelas pagi." Adrian dengan santainya berkata demikian.
"Ryan, you better not be serious with—"
"I am kidding, Bee. Kelas Mr.John emang diundur satu jam. That is why I am here."
Bintang menghela napas lega setelah mendengar alasan Adrian.
"Lagian, kenapa gak kasih kabar dari pagi sih, Bee," ucap Adrian setelah meneguk es kopinya.
"I have to finish these assignment first, dan ini membuat ku stres dan lelah, Ryan." Tampak Bintang terlihat pasrah melihat tugas yang baru saja selesai setengah.
Adrian bangkit untuk mengacak rambut Bintang. "Hobi banget sih buat tugas sehari sebelum dikumpulkan."
"Iya, kemarin itu malas banget buat tugas. Semangat menyelesaikan tugas itu emang di hari pertama sebelum dikumpulkan, on fire gitu." Bintang kemudian merapikan rambutnya. "Kamu tahu aku di sini dari mana?"
"Telepati," jawab Adrian singkat.
Kedua bola mata Bintang. "Seriously, Ryan?"
Adrian terkekeh. Ia tahu bahwa Bintang akan merespon demikian. "Ya, sebagian mungkin telepati. Tapi selebihnya aku emang lihat kamu dari luar jendela. And as always, sudut ini selalu menjadi your favorite spot."
Alasan masuk akal dari Adrian akhirnya diakui Bintang. "Kalau kamu jawab gitu kan aku ngerti."
Hening beberapa saat di antara mereka. Bintang saat itu kembali menyelesaikan tugasnya, sedangkan Adrian memainkan ponselnya sesekali beralih pada es kopi.
Beberapa menit kemudian Adrian merasa bosan, pandangannya kembali fokus pada Bintang yang masih berkutat dengan tugas.
"Bee, tugas kamu itu sulit apa banyak, sih?"
"Tugas aku itu sulit sama banyak, Ryan. Sulit, karena ini tugas esai. Banyak, karena esai ini mengharuskan aku menulis minimal seribu kata." Bintang berkata demikian tanpa mengalihkan pandangannya.
"Jadi, lebih penting tugas daripada aku?"
"Maksud kamu, aku lebih mementingkan beasiswa aku daripada kamu kali, Ryan."
Adrian menunduk setelah mendengar alasan Bintang. "Sori, Bee."
Bukannya membalas ucapan Adrian, yang dilakukan Bintang hanya tertawa kecil.
Menit berikutnya Bintang menutup setengah laptopnya lalu memandang Adrian tengah bermain dengan sedotan yang berwarna hijau. Tugasnya sudah selesai, tetapi ia tidak berniat untuk memberitahu Adrian karena ingin mengerjai lelaki itu.
"You look so bored, Ryan."
"Sebenarnya gak bosan sih, Bee. Aku hanya gak tahu mau ngapain. I just don't want to leave you here, alone."
Bintang tersenyum lalu bangkit dari tempat duduknya. Ia kembali duduk pada tempat kosong di samping Adrian. Lengannya melingkari pinggang lelaki itu dan kepalanya bersandar pada bahu Adrian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brisbane: Runaway
RomanceJarak belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Namun nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi pada suatu tempat, suatu sudut West Brisbane. Ini kisah mereka dengan tujuan be...
