Bintang berjalan dalam diam menuju apartemen. Diamya karena terlalu banyak pertanyaan melayang di otaknya.
Begitu banyak kejadian yang masih sulit untuk ia cerna.
Salah satunya kejadian yang baru saja terekam oleh matanya. Kejadian di mana seorang perempuan memeluk Adrian. Begitu erat. Ditambah tatapan perempuan itu menyaratkan rasa rindu.
Bintang pernah melihat rupa perempuan itu saat melihat beberapa foto di ponsel Adrian. Ada rasa cemburu, tetapi Bintang tidak pernah berprasangka buruk terhadap Adrian. Bintang begitu mempercayai Adrian. Ia pun tidak memaksa Adrian untuk bercerita jika lelaki itu ingin.
Bintang awalnya tidak peduli dengan kehadiran perempuan itu, namun semakin ia menghiraukan, semakin tidak enak perasaan Bintang.
Tanpa Bintang sadari, langkahnya sudah memasuki apartemennya. Sedari tadi ia ingin menangis, tetapi tidak ada yang bisa Bintang lakukan. Air mata yang ia tahan tadi seolah sudah hilang saja. Dan itu sukses membuatnya kesal.
Suasana hati Bintang semakin memburuk saat ia mendengar suara perutnya. Ia baru ingat bahwa ia tidak sempat makan saat bersama Adrian tadi.
Bintang mengambil beberapa uang tunai dan meninggalkan tasnya di sofa. Sudah tengah malam, Bintang hanya akan membeli makanan instan yang tersedia di 7-11.
Tepat saat Bintang keluar dari apartemen, saat itu pula ia melihat Bastian dengan baju hangat dan keringat di wajahnya baru keluar dari lift.
"Hai Bintang." Bastian sempat merekam penampilan Bintang. Ia masih ingat pakaian Bintang tidak berubah. "Lo baru pulang udah mau pergi lagi?"
Bintang mengangguk. "Kenapa? Masalah?"
"Gak masalah sih sekarang. Tapi lo bakal dapat masalah nanti. Lumayan dingin loh malam ini, dan lo gak pakai baju hangat."
"Gue juga bentar kok ke 7-11. I'll be fine. Lo lanjut balik aja, gue dulu ya."
Bintang berjalan meninggalkan Bastian. Saat Bintang memasuki lift dan pintu lift akan tertutup, pintu itu kembali terbukan dan Bintang kembali menemukan Bastian.
Bintang menatap Bastian heran. "Lo gak bakal pencet tombol berapa?"
Bastian tidak menekan tombol lantai apa yang ia tuju karena tujuannya sama dengan Bintang.
"Tujuan kita sama, kok."
Tanpa Bintang sadari, ia tersenyum tipis karena ia tidak pergi sendirian malam itu.
Saat mereka keluar dari lift, tidak ada satupun dari mereka bersuara.
Langkah mereka memasuki 7-11, di saat itu pula arah langkah mereka berlawanan satu sama lain.
Di saat Bintang tengah memilih mi instan untuk makan tengah malam itu, Bastian tengah membeli kopi hangat.
Bintang membayar terlebih dahulu kemudian memilih duduk di luar. Detik berikutnya ia melihat Bastian duduk di seberangnya.
Dugaan Bintang benar, bahwa Bastian akan mengganggunya. Tetapi, saat itu Bintang suka Bastian mengganggunya.
Bastian meneguk kopinya sebelum pandangannya fokus pada Bintang yang tengah lahap makan mi instan.
"Gue takjub deh sama lo, Bintang."
Tanpa mengalihkan pandangannya Bintang pun bertanya. "Kenapa?"
"Takjub aja. Di saat perempuan lain menghindari makan tengah malam karena alasan tertentu. Lo malah makan tengah malam. Mi instan lagi."
Bintang menyelesaikan kunyahannya lalu fokus pada Bastian. "Berarti gue bukan salah satu dari cewek lain itu. Simpel."
Bastian tersenyum setelah mendengar jawaban Bintang. Terkadang sikap santai seorang Bintang membuat seorang Bastian terkagum.
Sudah lama, atau mungkin tidak pernah ia menemui perempuan sesimpel Bintang.
Bintang saat itu pula merasa sudah banyak melahap mi instan, namun ia melihat masih banyak mi instan yang tersisa.
Melihat Bintang berhenti makan, membuat Bastian bertanya. "Kenapa? Gak habis?"
Bintang mengangguk dengan wajah memelas.
Bastian mengambil alih mi instan Bintang. Dengan gerakan cepat ia melahap mi instan sisa Bintang.
Bintang tidak bisa menahan senyumnya saat itu. "Tapi lo habis olah raga malam, Bastian."
"Masa bodoh sama olahraga malam gue. Dari tadi gue melihat lo makan mi, lahap banget. Ya, gue gak tahan. Mau beli, mager. Ditambah, gue punya firasat kalau lo gak bakal habisin makanan lo."
Kini, giliran Bintang mengambil alih kopi Bastian. "Kita impas, ya."
Bastian mengangguk lalu mengangkat mi instan Bintang yang tertinggal kuah. "Habisin aja. Lagian gue udah dapat penggantinya." Dengan cepat ia menelah semuanya hingga tak bersisa.
Bintang dan Bastian melanjutkan langkah mereka untuk kembali ke apartemen. Di pertengahan jalan, tanpa Bintang sadari ia mengusap lengannya yang tak terlindungi apapun. Bastian yang melihat itu tanpa basa-basi memakaikan jaketnya di bahu Bintang.
Bintang menoleh. "Lo gak harus kasih ini juga, kali."
Bastian tersenyum. Ia tahu Bintang akan berkata demikian. "Gak apa-apa kali, gue gak masalah kok."
"Gue yang masalah." Bintang mengendus. "Jaket lo bau keringat tau!"
Senyum Bastian berganti dengan tawa. "Ih! Gak segitunya juga ya, Bintang. Bau gue gak separah itu."
Bintang ikut tertawa. "Siapa bilang? Gue yang cium ini." Tentu saja Bintang berbohong. Ucapannya tadi juga tidak serius.
Bastian benar tentang baunya. Yang ada, bau yang keluar dari jaket itu membuat Bintang mabuk beberapa saat.
Setelah suasana berubah, Bastian akhirnya menanyakan apa yang ia tahan.
"Lo ada masalah, lagi?"
Bintang terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan Bastian.
Saat Bastian bertanya demikian, rasanya air mata yang Bintang tahan tadi kembali. Namun dengan sekuat tenaga Bintang kembali menahan.
Malam itu, Bintang tidak ingin menunjukan emosi apapun di hadapan Bastian.
Beberapa detik berlalu, Bastian menahan bahu Bintang.
Bastian merekam wajah Bintang tengah menahan tangis. Hal terlihat semakin buruk saat Bastian melihat Bintang menggigit bibir bawahnya. Bastian tahu Bintang menahan air mata yang sudah ada di pelupuk matanya.
Bastian menangkup waja Bintang. "Lo tahu apa, Bintang?" Ibu jari Bastian membebaskan bibir bawah Bintang yang hampir luka.
"Gue gak akan maksa lo bersuara. Lo boleh cerita, boleh nangis, boleh marah. Tapi satu hal yang harus lo ingat. Jangan sakiti diri lo sendiri."
Akhirnya, detik itu juga air mata Bintang jatuh. Sebelum Bastian mendekap dirinya, Bintang terlebih dahulu melingkarkan lengannya di leher Bastian.
"I am tired, Bastian. So tired."
Bastian beberapa saat merasa tidak tahan dengan suara lirih Bintang.
Lengan Bastian kembali merengkuh badan Bintang. Bibirnya mengecup puncak kepala Bintang. Berharap hal itu bisa membuat Bintang tenang.
"You'll be fine, Bintang. You wil."
KAMU SEDANG MEMBACA
Brisbane: Runaway
RomanceJarak belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Namun nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi pada suatu tempat, suatu sudut West Brisbane. Ini kisah mereka dengan tujuan be...
