"Jadi, alasan kenapa lo gak jadi susul ke Subway, apa?" tanya Bastian setelah menghabiskan nasi goreng.
Belum sempat Bintang bersuara, Bastian kembali bersuara. "Sebelum lo jawab, gue mau ambil nasi goreng yang masih tersisa sedikit di dapur."
Bintang menggeleng melihat tingkah Bastian. Ia kembali menyantap nasi gorengnya sembari menunggu Bastian kembali.
"Oke, lanjut. Kenapa lo gak jadi susul gue ke Subway tadi?" tanya Bastian kembali setelah ia menempati tempat duduknya tadi.
"Tadi, setelah gue keluar dari kelas dan dapat pesan dari lo, gue udah mau jalan ke Subway." Bintang berhenti untuk minum. "Tiba-tiba Adrian muncul dan bilang kalau dia mau ngomong sama gue."
Bastian berhenti sejenak saat mendengar Adrian dari mulut Bintang. "Terus, kalian bicara apa aja?"
"Apa aja ya. Pokoknya gitu deh. Alasan kenapa gue menjaga jarak dari dia beberapa hari ini. Alasan sikap gue aneh belakangan ini. Alasan kenapa hubungan gue sama dia mulai berubah. Alasan ini alasan itu. You know, lah."
"Terus, lo kasih dia alasan apa aja?"
Bintang mendesah. "Gue jawab semua pertanyaan Adrian, tapi..."
"Tapi apa, Bintang?"
"Lo jadi penasaran gitu sih, Bastian?"
Seolah tidak ingin membuat Bintang salah sangka, Bastian kembali melanjutkan makan malamnya. "Ya, itu terserah lo sih mau cerita apa engga."
Tampak bibir Bintang mengerucut. "Lo tadi minta gue cerita, sekarang terserah. Mau lo apa sih?" ucap Bintang dengan kesal.
Bastian menyelesaikan kunyahannya sebelum membalas ucapan Bintang. "Ya Tuhan. Tadi lo mau cerita, ya gue tanya. Habis gue tanya, lo malah tanya gue balik. Girls..." lanjut Bastian tidak kalah kesalnya. "Ya Tuhan, kenapa yang namanya perempuan kalau ditanya malah ditanya balik."
"Lo kok jadi mempermasalahkan perempuan sih?"
"Lo mau cerita apa engga, sih?"
Bintang menghela napasnya dalam. "Oke, gue lanjut ya. Gue emang kasih jawaban setiap pertanyaan Adrian, tapi gue jawabnya setengah-setengah."
Ucapan Bintang seolah sulit dimengerti oleh Bastian. "Maksud lo setengah-setengah? Lo gak cerita semuanya ke dia?"
"Bingo!" teriak Bintang saat mendengar jawaban Bastian. Seolah lelaki itu baru saja benar menjawab salah satu soal kuis. "Seperti gue jawab dia itu gak bohong, tapi gak juga jujur."
"Seperti lo setengah berbohong setengah jujur, gitu?"
"Teng tong teng! Pintar juga lo ternyata, Bastian."
Bukannya senang, Bastian memberi Bintang tatapan datar. "Biasa aja kali. Lo itu mudah ketebak sih orangnya. Kalau kehidupan lo jadi soal ujian, mungkin gue dapat nilai tinggi."
"Gak usah lebay deh," ucap Bintang dengan kesal tetapi ia malah tersenyum. "Emang lo begitu tahunya kehidupan gue dengan baik?"
Bastian memutar bola mata, tampak seolah ia tengah berpikir. "Mungkin belum sepenuhnya sekarang, nanti perlahan gue juga tahu."
Bintang terdiam mendengar ucapan Bastian. Ia tidak pernah menyangka kalau Bastian tertarik dengan kehidupannya.
"Kenapa diam? Terharu ya lo gue ngomong tadi.." goda Bastian setelah Bintang tidak menjawabnya.
"Sedikit," ucap Bintang dengan jujur. "Tapi gue lebih takut daripada terharu, for your information."
Sebelum Bastian larut dengan perasaanya, ia mengubah pembicaraan. "Jadi, gimana lo sama Adrian? Baik-baik aja?"
"Jujur, maunya gue sih baik-baik aja. Tapi..." kalimat Bintang tergantung. Ia tidak tahu harus bercerita lagi. Untuk beberapa saat, ia tidak ingin mengingat apa yang mengganggunya.
"Lo gak harus cerita kalau lo gak mau."
Ucapan Bastian cukup membuat Bintang lega. Ditatapnya Bastian lalu tersenyum.
"Thanks, Bastian. Thank you so much."
Bastian kembali tersenyum untuk Bintang.
"It's okay. Because, what are friends for?"
Senyum yang tadi tampak di wajah Bintang pun memudar. Wajahnya tampak datar.
Tidak tahu kenapa saat Bastian berkata demikian, ada yang mengganjal perasaan Bintang.
What are friends for? Ulang Bintang dalam hati.
Tanpa Bintang ketahui, ada sedikit perasaan tidak rela dari Bastian saat berkata demikian.
What are friends for? Ulang Bastian dalam hati.
Detik berikut Bastian menjatuhkan pandangannya pada Bintang yang tengah melamun.
Lalu ia kembali berbicara pada dirinya sendiri.
We are friend for now, but who knows what we are tomorrow?
***
Author note:
Actually, rencananya gak bakal post seperti ini. So, like I said, cerita ini bakal berakhir di part 50-lebih, jadi aku mulai berpikir tentang work baru, which is mean, membuat fokus ku terbagi. Mungkin aku harus menyelesaikan satu persatu baru melanjutkan lainnya *le cry*.
g~dه
KAMU SEDANG MEMBACA
Brisbane: Runaway
RomanceJarak belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Namun nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi pada suatu tempat, suatu sudut West Brisbane. Ini kisah mereka dengan tujuan be...
