Saat Mia hendak pergi setelah melihat Bastian keluar dari unit apartemen Bintang, Bastian terlebih dahulu menahan lengan perempuan itu.
"Mia, kita bicara dulu."
Mia memutar tubuhnya lalu berhadapan dengan Bastian. "Oke, tapi gak di sini." Mia menjawab dengan suara bergetar.
Bastian masih menahan lengan Mia. "Oke kalau gitu." Bastian menuntun Mia agar mengikuti langkahnya.
Mereka berdua berjalan dengan diam. Langkah mereka berhenti di taman dan menduduki bangku taman.
Bastian beberapa saat merasa kalut setelah melihat Mia dan ekspresi wajahnya yang terlihat sedih. Tetapi, saat mereka berjalan tidak hentinya Bastian memikirkan cara agar membuat suasana membaik.
Baru saja Bastian akan bersuara, Mia terlebih dahulu berbicara.
"Kamu ngapain baru keluar dari apartemen Bintang?"
Bastian mengehela napas. "Bintang sakit, sebagai tetangga yang baik aku hanya membesuk dia, Mia."
Mia tertawa sinis. "Besuk katamu? Perhatian banget!"
Saat itu Bastian tahu bahwa Mia sangat kesal padanya, tetapi Bastian sendiri tidak mempunyai alasan yang tepat untuk membela dirinya. "Maksud kamu apa, Mia?"
Jemari Mia menyisir poni rambutnya ke belakang. Kepalanya mengadah, ia berusaha kuat untuk menahan air matanya yang sudah berada di pelupuk mata.
"Aku bukan orang yang ketemu kamu dari kemarin, Bas." Mia menoleh ke Bastian. "I know you, better than you know yourself."
Bastian kembali menoleh ke arah Mia. Saat itu, Bastian melihat bulir air mata di pipi Mia. "Mia, you're jealous on nothing." Bastian kembali menautkan jemarinya dengan Mia. "Nothing happen, really."
Mia untuk beberapa saat diam, tidak membalas Bastian dan membiarkan dirinya larut dengan perasaan dan air matanya.
"I don't know, Bas. Somehow, aku merasa ada sesuatu di antara kalian."
Baru saja Bastian akan membalas, Mia terlebih dahulu membungkamnya dengan kecupan. "Prove it, Bas. Kalau benar gak ada apa-apa di antara kalian. Buat aku percaya, kalau kita gak ada apa-apa. Kalau hubungan kita benar-benar belum berakhir." Mia berhenti sejenak untuk menyeka air matanya. "Kalau memang benar tujuan kamu masih aku."
Kalimat terakhir yang diucapkan Mia membuat Bastian terdiam. Tidak tahu mengapa kalimat itu membuat otaknya berpikir keras.
Kalau memang benar tujuan kamu masih aku
Bastian bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah tujuan gue adalah Mia dari awal?
***
Bintang sedari tadi merekam pemandangan dari luar jendela kafe. Tanpa ia sadari seseorang tengah berbicara dengannya. Makan siangnya pun hanya dilahap beberapa suap.
Adrian tadinya hanya ingin diam setelah melihat sikap Bintang yang berubah. Namun, ia tidak bisa menahan saat Bintang benar-benar tidak fokus terhadapnya.
"Bee, are you sure you're okay? Apa masih demam?" Adrian bersuara dan membuat Bintang menoleh ke arahnya.
"I am fine, Ryan. Really." Bintang kembali menyantap makan siangnya.
Adriah berhenti sejenak menyantap makanannya, lalu meraih jemari Bintang yang kosong. "Well, aku akui kamu masih pucat. Tetapi, kamu banyak diam, which is mean, kamu lagi mikir sesuatu. Mikirin apa, sih?"
Tatapan Bintang menyaratkan serius saat ia menoleh ke Adrian. Sebenarnya ada sebuah alasan mengapa Bintang tidak banya berbicara. Ia mengingat setiap artikel yang ia baca semalam. Artikel itu berisikan biografi seorang pianis terkenal bernama Bernard Nathanel.
Adrian Elfredo Nathanel dan Bernard Nathanel.
Tidak heran mengapa Bintang merasa familiar dengan nama Adrian, tetapi Bintang benar-benar tidak menyangka bahwa Adrian berkaitan dengan Bernard Nathanel.
Jika Bintang dipaksa untuk kilas balik dengan nama itu, mungkin rasa benci akan memenuhi perasaannya.
Tetapi kilas balik dan perasaan benci itu disingkirkan oleh Bintang saat melihat sosok Adrian yang begitu kasih pada dirinya.
Tidak ada yang bisa membuat Bintang untuk membenci Adrian sama sekali.
Hanya satu hal yang membuat Bintang tidak menyukai seorang Adrian, adalah sosok Vivi yang merupakan sahabat Adrian.
Bukannya Bintang seseorang mudah cemburu. Ia tidak pernah ingin Adrian untuk membatasi pertemanan dengan siapapun. Tetapi tidak dengan Vivi.
Karena Bintang bukanlah perempuan bodoh dan egois yang tidak sadar akan perasaan seseorang. Bintang sadar akan perasaan Vivi terhadap Adrian.
Setiap kali Vivi menatap Bintang, terselip rasa tidak suka.
Setiap kali Vivi menatap Adrian, terselip rasa ingin memiliki lelaki itu.
Perasaan itu cukup mengintimidasi Bintang. Di saat kondisi nyata bahwa Adrian adalah miilik Bintang. Tetapi Bintang merasa ada seseorang sudah memiliki Adrian sebelumnya, Vivi.
Dengan seluruh tekad yang Bintang miliki, ia berusaha menyingkir perasaan yang membebani.
Bintang ingin berbahagia dengan Adrian.
"Kamu nanya aku mikirin apa, ya?" tanya Bintang yang disambut anggukan Adrian.
Ibu jari Bintang keluar dari genggaman Adrian. Diusapnya punggung tangan Adrian.
"Aku mikirin kamu. Kenapa? Gak boleh, ya?" goda Bintang yang disambut oleh senyum manis Adrian.
"Kamu udah bisa gombal ya sekarang?"
Bintang tertawa beberapa saat. "Belajar dari siapa dulu dong?"
Adrian memutar kedua bola matanya. "Siapa ya?"
Senyum mengembang di wajah Bintang. Ia kembali menyantap makan siang dengan lahap.
Melihat suasana hati Bintang membaik, Adrian hanya bisa tersenyum. "Aku senang."
Bintang menoleh sejenak. "Senang kenapa?"
"Senang lihat senyum kamu. Senang lihat kamu makan dengan lahap. Senang...bisa sama kamu, seperti sekarang ini.
Seolah perkataan Adrian membuat Bintang melayang, tetapi Bintang tidak menunjukkan perasaannya pada Adrian. Bintang mengerutkan hidungnya. "Dasar gombal!"
)J�Xo?
KAMU SEDANG MEMBACA
Brisbane: Runaway
RomantikJarak belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Namun nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi pada suatu tempat, suatu sudut West Brisbane. Ini kisah mereka dengan tujuan be...
