Laugh, Tears and Unexpected Feeling

2.8K 274 10
                                        


Fokus Bintang sedari tadi menatap langit-langit apartemennya. Tatapannya kosong. Sedangkan pikirannya melayang beribu tanda tanya yang ia sendiri tidak tahu apa saja itu. Sedangkan hatinya dikuasai oleh satu perasaan, bingung.

Semuanya masih membingungkan bagi Bintang. Memang antara dirinya dan Adrian sudah baik-baik saja. Tetapi masih ada satu hal mengganjal di hatinya.

Sebenarnya Bintang tahu apa yang membuatnya bingung. Namun, ia berusaha menyangkal dan berharap perasaannya yang goyah itu bisa hilang secepatnya.

Saat Bintang sibuk membatin dengan dirinya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Mata Bintang membelalak saat melihat satu pesan dari Bastian.

Bastian: Gue masih di Subway, by the way.

"Shit!" umpat Bintang kemudian bangkit. "How could I forget him."

Bintang keluar dari apartemen dengan cepat. Saking cepatnya ia tidak sadar menggunakan dress tanpa lengan. Ia lupa mengambil cardigan rajutan yang ia biasa pakai. Untuk kembali ke atas pun ia merasa malas. Bintang pun melanjutkan langkahnya di mana Bastian menunggu dirinya.

Setelah beberapa menit berjalan setengah berlari akhirnya langkah Bintang mendekati Subway. Belum langkahnya memasuki tempat itu, Bintang menemukan Bastian tengah menunggunya di luar.

"Bastian!" teriak Bintang sembari menghampiri Bastian setengah berlari.

Bastian yang tadi sibuk dengan ponselnya pun mengadah dan mencari sumber suara. Ia melihat Bintang tengah berlari ke arahnya.

"Sori, Bastian. Gue gak tau ya kenapa bisa lupa. Gue benar-benar..." ucap Bintang dengan napas tidak beraturan.

"Whoa, chill, Bintang." Bastian menempatkan tangannya di bahu Bintang. "Atur dulu napas lo."

Bintang mengikuti perintah Bastian. Setelah napasnya kembali normal Bintang melanjutkan kalimatnya.

"Bastian, sori...gue..."

"Udah dua kali lo bilang sori." Bastian menatap Bintang dengan serius. "Lo bilang dengan bilang sori dua kali itu cukup?"

Raut wajah Bintang menampakan bahwa dirinya terkejut saat mendengar Bastian begitu serius. Sebenarnya tidak salah Bastian bersikap demikian, hanya saja Bintang merasa takjub dengan sikap lelaki itu.

"Sori...lo mau bilang gue bilang sori berapa kali sih, Bastian?"

Bastian melipat tangannya di dada. "Seribu kali, mungkin?" lanjutnya setengah bercanda.

Saat tahu sikap Bastian hanya sebuah candaan, Bintang pun tidak mengikuti emosi lelaki itu.

"Kenapa gak lo suruh aja gue berbuat yang lain?"

"Cium gue, mau?"

Bukannya membalas ucapan Bastian, yang Bintang lakukan adalah menempatkan telapak tangannya di kedua pipi Bastian. Wajah Bintang maju beberapa senti sembari tersenyum.

Bastian yang menerima perlakuan Bintang pun setengah terkejut. Ia tidak menyangka ucapannya akan ditanggap serius oleh Bintang. Saat itu Bastian mulai berekspektasi berlebihan.

Namun, semua ekspektasi Bastian hanyalah sebatas ekspektasi. Yang dilakukan Bintang selanjutnya adalah memantulkan telapak tangannya dan pipinya beberapa kali. Awalnya tidak sakit, tetapi Bintang melakukannya hingga Bastian mengaduh.

"Stop, Bintang! Perih tahu!"

Bintang menuruti Bastian. "Kenapa minta berhenti? Lo minta cium, kan?"

Brisbane: RunawayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang