Tell Him The Truth

2.6K 286 8
                                        


Dari awal, Vivi tidak peduli dengan sikap aneh Adrian. Namun, sikap Adrian tersebut mengganggunya dan  hal itu mendorongnya untuk memaksa Adrian memberitahunya alasan atas sikapnya tersebut.

Hingga Adrian memberitahunya alasan sebenarnya.

Mata Vivi membulat saat melihat dua foto yang baru saja diletakan Adrian di hadapannya. Seketika, ia merasa bodoh kenapa membiarkan Adrian melihat album foto dan lupa tentang beberapa rahasia yang ia simpan di sana.

Dilihatnya kembali dua foto itu. Dua foto yang membuat Adrian penasaran, dan dua foto yang membuat Vivi takut.

"Vi, tell me something I don't know," pinta Adrian. Sikapnya masih tenang saat itu.

Vivi melihat Adrian. Tampak lelaki itu melihatnya penuh harap.

"Oke, Adrian. Gue bakal cerita, tapi janji satu hal. Gak ada yang berubah setelah gue cerita."

Sebenarnya tidak ada yang ingin Adrian janjikan, tetapi rasa penasarannya saat itu mengalahkan egonya.

"Oke. Sekarang, lo cerita ke gue apa yang lo tahu, Vi."

Vivi mendesah lalu menghela napas. Berat rasanya untuk bercerita tapi ia harus karena Adrian sudah memintanya.

Jemari Vivi mengambil satu foto dua perempuan dengan latar tangkuban perahu.

" Cewek dengan baju hangat berwarna kuning ini adalah teman dekat gue SMP dulu. Lo pasti kenal dia juga, Adrian. Dia Anya. Teman satu kelas kita sewaktu SMP. Dia yang dekat sama gue selagi lo sibuk sama teman cowok yang lainnya. Sampai sekarang gue masih temanan sama Anya. Walaupun gak dekat, tapi kami saling membantu." Vivi melirik foto dan melihat perempuan yang mengenakan baju hangat berwarna hitam. "Dan di sebelah Anya. Lo tahu pasti siapa dia tanpa gue kasih tahu." Terlihat tatapan tidak suka pada perempuan itu.

"Kalau gue lihat dari dekat, senyum Bintang memang cantik. Gak heran gue kenapa lo suka banget sama dia, Adrian."

Awalnya Adrian tidak terkejut melihat tatapan benci Vivi, namun suara getar Vivi membuat Adrian heran.

"Kenapa Anya dan Bintang bisa ketemuan, bahkan berteman? Gue sendiri gak tahu. Entah ini kebetulan yang konyol, saat gue sama Anya saling mengirim e-mail, gue ketemu e-mail Anya yang berisi foto ini. Anya pindah ke Bandung setelah lulus SMP dan kebetulan ia les piano sama nyokap Bintang dan itu membuatnya berteman dengan Bintang. Awalnya gue gak yakin dengan apa yang gue lihat, sampai gue memutuskan untuk mencetak foto itu, memastikan bahwa perempuan yang berdiri di samping Anya itu Bintang. Karena Anya tidak menyebutkan nama Bintang saat ia mengirim e-mail." Vivi berhenti sejenak kemudian mendesah. "Sampai gue yakin gue dengan apa yang gue lihat. Saat itu juga gue tertarik dengan pertemanan Anya dan Bintang."

Detik berikutnya Vivi menaruh kembali foto itu dan mengambil foto satu lagi.

"Kalau foto ini, gue gak tahu kenapa gue mencetak foto ini. Yang pasti, melihat Bintang dan perban di kepalanya seolah membuat gue sedih...dan bersalah." Ekspresi Vivi mungkin saja terlihat sedih. Namun apa yang ia ucapkan hanyalah kebohongan belaka.

"Apa yang terjadi sama Bintang waktu itu, Vi?" tanya Adrian dengan cemas.

Suara Adrian mencemaskan Bintang sangat tidak disukai Vivi. Namun, ia tidak ingin terlihat jahat di depan sahabatnya itu.

"Gue gak tahu." Lebih tepatnya gue gak peduli, ucapnya dalam hati. "Yang gue tahu Anya cerita kalau Bintang saat itu pemulihan dari tumor otak setelah operasi di Singapura. Kata Anya, tumor itu ada setelah Bintang pulih dari kecelakaan itubeberapa waktu lalu. Beberapa saat ia gegar otak. Untuk waktu yang lama Bintang menahan rasa sakit kepalanya. Dan dia berakhir demikian. Hanya itu yang gue tahu."

Adrian menyisir rambutnya gusar. Terlihat ia menahan emosinya.

"Adrian, lo janji sama gue kalau semua baik-baik aja setelah gue cerita ini, kan?"

Bukannya menjawab Vivi, Adrian menatap perempuan itu dengan serius.

"Lo tahu semua ini Vi, bahkan udah lama."

"..."

"Lo tau gimana sedih gue setelah kehilangan kabar dari Bintang, Vi?"

"..."

"Dan lo gak kasih kabar apapun ke gue. Kenapa lo jahat sama gue, Vi?"

Mendengar Adrian mengatakannya dirinya jahat membuat Vivi tidak bisa menahan emosinya. "Jahat? Gue jahat, Adrian? Lo lihat dari sudut pandang lo aja bisa bilang gue jahat. Tapi dari gue? I did my best as your best friend, Adrian."

"Sahabat? Dan lo satu-satunya sahabat yang membiarkan sahabatnya bersedih. Gitu, Vi? Lo tau gue dengan baik. Gimana gue gak bisa menahan segala emosi yang ada. Lo satu-satunya manusia yang bisa menebak emosi gue. Gue gak punya alasan untuk bohong sama lo, dan lo dengan gampangnya bohong sama gue?"

"I am sorry, then. Itu mau lo? Tapi gue gak jahat, Adrian! Gue gak jahat!" Vivi dengan segala tekadnya berbicara dengan Adrian. Ia takut dianggap jahat oleh Adrian semenjak kecelakaan beberapa tahun yang lalu. "Gue gak jahat, Adrian!" Ulangnya. Vivi tidak suka dianggap jahat, hingga ia menemukan alasan. "Bukan gue yang jahat Adrian, tapi bokap lo! Om Bernard!"

Wajah Adrian tampak bingung. "Maksud lo bawa-bawa bokap gue?"

"Percaya gue, Adrian. Bukan gue yang jahat! Waktu itu, gue gak sengaja dengar pembicaraan Om Bernard sama bokap gue. Dia cerita waktu itu, saat nyokap Bintang meminta tanggung jawab semuanya, dengan mudahnya bokap lo membeli perjuangan nyokap Bintang, termasuk menyuruh Bintang untuk pindah dari Jakarta untuk kebaikan kita. Bukan gue yang jahat, Adrian. Tapi bokap lo, yang menjauhkan Bintang dari awal. Bukan gue!"

Adrian mengerti arah pembicaraan Vivi, namun ada beberapa hal yang masih ia coba untuk mengerti. Tidak pernah ia mengira bahwa semuanya akan sekacau ini. Semua masa lalu dan kilas balik itu seolah benang kusut bagi Adrian.

Tetapi, satu hal yang Adrian ingat tentang kejadian itu.

"Bukan papa yang jahat Vi. Tapi lo, Vi."

Kalimat Adrian membuat Vivi tercengang. Tanpa ia sadari, air mata yang ia tahan akhirnya keluar perlahan.

"Kalau aja lo jujur lebih awal sama gue waktu itu. Kalau aja lo gak mengikuti emosi lo waktu itu. Kalau aja gue gak mengikuti kebodohan gue dengan mengaku semuanya adalah kelalaian gue. Kalau aja lo gak memulai semua ini, Vi..."

Vivi menangis. Biasanya Adrian akan merengkuhnya dan membuat tangisan itu berhenti. Tetapi, kali ini berbeda.

Adrian bangkit dari posisinya. "Gue mau lo berhenti menjadikan orang lain, bahkan bokap gue sebagai pertahanan lo. Sebagai tembok di mana lo akan bersembunyi. You start this whole messy things. Lo yang jahat, Vi."

Kemudian Adrian melanjutkan langkahnya, tanpa menoleh meskipun setelah ia mendengar isak tangis Vivi, sahabat terbaiknya.

Brisbane: RunawayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang