"Bintang, lo suka sama Adrian?"
Bintang tahu pertanyaan semacam itu tidak seharusnya diajukan Bastian pada permainan itu. Tetapi Bintang merasa malas untuk melawan.
Apalagi menjawab pertanyaan itu.
Ia tidak menjawab karena tidak tahu akan menjawab apa.
"Gue suka," tidak tahu apa yang mendorongnya untuk berkata demikian pada Bastian. Tetapi, dalam teori Bintang, suka bukan berarti apa-apa. Ia suka pada semua orang yang baik.
Bintang suka Adrian karena lelaki itu baik.
Saat melihat wajah Bastian, Bintang tidak mengerti ekspresi apa yang sedang ia lihat.
"Giliran gue, ya?" ucap Bintang. "Pulang yuk? Gue capek banget hari ini."
Bastian menyetujui kemudian bangkit. Ia mengulurkan tangannya kepada Bintang untuk menolong perempuan itu.
Bintang menyambut lengan Bastian.
Bastian dan Bintang kembali berjalan dalam diam.
"Selamat malam, Bintang," ucap Bastian sebelum langkah perempuan itu memasuki apartemennya.
Baru saja Bintang akan membalas ucapan itu, Bastian sudah hilang dari hadapannya.
"Selamat malam juga, Bastian."
***
Bastian mengingat kembali saat ia menanyakan Bintang apakah perempuan itu menyukainya atau tidak.
Bintang menyukai Adrian.
Awalnya Bastian membuang semua perasaan tidak nyaman saat mendengar hal itu. Tetapi secepat itu ia melupakan secepat itu pula ia ingat.
Bastian memejamkan matanya.
Ia harus melupakan perasaan aneh yang muncul antara dirinya dan Bintang.
Tidak untuk malam itu saja, tetapi selamanya.
***
Hari itu merupakan hari di mana pengumuman hasil audisi akan diberitahu pada setiap calon anggota Music, Art and Theatre atau disingkat MAT.
Bintang sudah membuat janjia dengan Adrian untuk bertemu di Schonell Theatre. Tepat pada waktu yang dijanjikan Adrian muncul di hadapan Bintang.
Adrian merangkul Bintang. "Hi, Bee. Long time no see!"
Bintang membalas kembali rangkulan Adrian sebelum mendorong pelan lelakit itu. "Long time no see? 3 hari yang lalu kita masih ketemuan, Adrian."
Adrian tampak terkejut. "3 hari? Kok ngerasa 3 tahun ya?"
Bintang tertawa mendengar ucapan Adrian barusan. "Gombal terus deh."
Adrian mengacak pelan rambut Bintang. "Siapa yang gombal, orang gue merasa demikian."
"Gombal aja terus. Hobi banget! Siapa lagi cewek kena gombal sama lo, huh?" ujar Bintang sembari merapikan rambutnya.
"Gue memang hobi gombal." Adrian berhenti sejenak. "Tapi hobi gue satu ini Cuma berlaku buat lo aja, Bee."
Bintang menangkup wajah Adrian. "Ah, masa sih? Gue terharu nih. Harus nangis atau apa?" jemarinya mencubit pelan pipi Adrian.
Adrian hanya menerima perlakuan Bintang. "Lo mau tahu lo haru apa?"
Bintang mengangguk. "Apa?"
"Cium gue aja," ucap Adrian. Saat pipinya bebas dari Bintang, telunjuknya menempel di pipi kirinya. "Di sini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Brisbane: Runaway
RomanceJarak belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Namun nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi pada suatu tempat, suatu sudut West Brisbane. Ini kisah mereka dengan tujuan be...
