Ferry tiba siang harinya setelah menemempuh waktu 10 jam dari Jakarta. Dengan cepat Ferry mengurus segala urusan imigrasi dan bagasi yang kemudian menemukan taksi dan memberikan alamat apartemen Bastian.
Sampainya di tujuan, Ferry menekan bel salah satu unit apartemen. Kaca mata hitam masih bertengger di wajahnya, dengan gusar Ferry bergerak sembari menunggu Bastian membukakan pintu.
Setelah mendengar pintu apartemen terbuka, Ferry menegakkan posisinya, dengan raut wajah yang begitu gembira untuk memberi kejutan pada anaknya, namun ekspresi bahagianya berganti dengan ekspresi bingung setelah melihat seorang perempuan muncul dari balik pintu.
"Oh. Hello young lady."
Sebelum Ferry berpikiran macam-macam tentang Bastian, ia berniat untuk menyapa siapa gadis yang ia sangka tinggal bersama Bastian.
"Ferry Deviandra?" ujar Bintang dengan wajah sedikit terkejut.
Ferry mengernyitkan dahinya setelah mendengar namanya dari mulut Bintang. "You know me?" Ferry berhenti sejenak tidak habis pikir ada seseorang mengenalnya. "I don't know that I am so famous till this recognize me here. Super sekali!" lanjut Ferry setengah berbisik.
Bintang tertawa dalam hatinya. "Saya orang Indonesia kok, pak Ferry."
Wajah Ferry yang tadi tampak senang pun berubah. "Oh, Anda orang Indonesia?" Ferry berhenti sejenak. Pandangannya memerhatikan Bintang dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Badan Indonesia banget sih. Pendeknya gitu."
Kalimat Ferry mengundang tanya Bintang. "Maksud Pak Ferry?"
"Yah, maksud saya kamu Indonesia banget kalau dilihat-lihat." Ferry hampir saja lupa untuk menanyakan Bintang sesuatu. "Kamu tinggal sama anak saya, ya?"
Ucapan Ferry sukses membuat Bintang mengerutkan dahi. "Bukan, Pak. Saya emang tinggal di sini." Telunjuk Bintang menunjuk unit apartemen sebelah. "Anak bapak tinggal di sebelahnya."
Ferry melepaskan kaca mata hitamnya. Pandangannya jatuh pada kertas selembar yang berisikan alamat Bastian.
"Oh, benar. Saya yang salah, maaf ya saya mengganggu." Ferry baru saja melangkahkan kakinya kembali berhenti dan menoleh ke Bintang. "Kamu berteman dengan anak saya? Nama kamu siapa?"
"Iya, pak. Saya berteman baik dengan Bastian. Nama saya Bintang."
Dari tadi Ferry merasa terganggu dengan Bintang memanggilnya Bapak. "Senang bertemu dengan kamu ya, Bintang. Dan jangan panggil saya bapak dong, panggil om aja, atau papa. Semua teman Bastian saya anggap anak sendiri." Ferry membenarkan posisi kopernya. "Ya sudah, om pergi ke ke sebelah yah."
Bintang menunduk. "Iya, om. Silakan."
Setelah melihat Ferry berlalu Bintang pun duduk di ruang tengah. Beberapa saat Bintang merasa takjub dengan sikap Ferry barusan.
"Gak heran sih gue kenapa Bastian sikapnya demikian. Gak jauh konyol sama papanya," ucap Bintang pada dirinya sendiri.
Baru saja Bintang bangkit dan berjalan mendekati kamarnya, ia kembali mendengar bel apartemennya berbunyi.
Dengan langkah cepat Bintang kembali membuka pintu apartemen dan menemukan Ferry lagi.
"Iya, om?"
Ferry tersenyum pada Bintang. "Sepertinya Bastian tidak ada di apartemen."
Bintang tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya, om. Bastian emang lagi geladi resik untuk pertunjukan teater besok. Mungkin sampai sore nanti."
Kalimat Bintang mengundang rasa penasaran Ferry. "Kamu sepertinya mengenal Bastian dengan baik."
KAMU SEDANG MEMBACA
Brisbane: Runaway
RomanceJarak belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Namun nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi pada suatu tempat, suatu sudut West Brisbane. Ini kisah mereka dengan tujuan be...
