Bintang tersenyum melihat tingkah Adrian yang cukup gugup hari audisi. Tidak ia sangka seseorang tenang seperti Adrian bisa gugup seperti yang ia lihat.
"Do I look good?" tanya Adrian untuk ketiga kalinya pada Bintang.
Bintang mengacungkan jempolnya. "You look really good."
Adrian lega. Ia suka saat Bintang menenangkannya seperti tadi.
"Calm down, Adrian! You'll be fine. Mungkin lo juga calon yang bakal diterima."
Senyum Adrian mengembang saat Bintang berkata demikian.
"Kenapa gue bakal diterima begitu aja?"
Bintang berpikir sejenak, mencari alasan yang masuk akal.
"Karena lo ganteng?" ucap Bintang jujur. Memang tidak ada alasan yang ia punya selain itu. Benar-benar tidak ada.
Tidak ada yang bisa Adrian lakukan selain tersenyum untuk kesekian kalinya. "Jadi kalau gue ganteng, lo senang?"
Tidak menjawab pertanyaan Adrian, Bintang menutup jarak antara dirinya dengan Adrian. Jemarinya bermain di rambut Adrian, bertujuan untuk merapikan helaian rambut Adrian yang berantakan.
"Bukan senang. Gue bangga," ucap Bintang seraya jarinya masih sibuk merapikan rambut Adrian.
Adrian dapat melihat Bintang sedikit sulit memposisikan dirinya agar sejajar meskipun perempuan itu menggunakan sneakers dengan sol tinggi. Lengan Adrian yang bebas memeluk pinggang Bintang, bermaksud tidak ingin Bintang kesulitan atau jatuh nantinya.
Bintang sempat terkejut, tetapi ia dengan cepat mengontrol emosinya, meskipun tercuri oleh pandangan Bastian bahwa ia sedikit gugup tadinya.
Berbeda dengan Adrian yang bersikap tenang, karena ia sudah terbiasa.
"There you go, rambut lo udah rapi. Makin ganteng deh." Lengan Bintang turun dari kepala Adrian.
Tetapi setelah itu, Adrian tidak melepaskan rangkulannya.
"You can let me go now."
Adrian menggeleng. "Lo udah pegang rambut gue, masak gue gak boleh meluk lo?"
Bintang hanya tertawa kecil. Ia bukannya tidak suka dengan posisinya dengan Adrian saat itu, ia hanya takut Adrian semakin tahu bahwa dirinya bisa saja semakin tidak karuan gugupnya.
"Terus tujuan lo peluk gue apa?"
"Tujuan lo pegang rambut gue apa?"
"Tadi rambut lo berantakan, makanya."
"Ya udah. Kalau gitu biarin gue peluk karena suasana hati gue juga berantakan."
Bintang hanya menggeleng dengan sikap Adrian.
Baru saja Adrian akan berbicara sesuatu kepada Bintang, seseorang memanggil nama Bintang dari kejauhan.
"Bintang!" ternyata Mia yang memanggilnya. Dilihat Bintang perempuan itu tidak jalan sendirian, melainkan bersama seorang lelaki.
Mia bersama Bastian.
Adrian yang melihat sepasang orang itu mendekati mereka, mau tidak mau melepaskan lengannya yang merangkul pinggang Bintang.
Kali ini Bintang menjawab Mia.
"Ya, Mia?"
"Oh. Itu. Si David nanya formulir masih ada lagi gak sama lo?"
Bintang ingat, ia memang masih memegang beberapa lembar formulir yang ia terima kemarin.
"I almost forget! Ada beberapa lagi. Ya udah, gue ke David dulu. Thanks ya, Mia." Sebelum langkah Bintang meninggalkan Adrian, ia membalikan tubuhnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brisbane: Runaway
RomantikJarak belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Namun nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi pada suatu tempat, suatu sudut West Brisbane. Ini kisah mereka dengan tujuan be...
