Her Story

2.8K 317 8
                                        


Malam itu, setelah mengantar Ferry ke bandara, Bintang dan Bastian tidak langsung pulang ke apartemen masing-masing.

Saat taksi yang mereka tumpangi mendekati Brisbane Park, tiba-tiba Bintang minta supir untuk memberhentikan mereka di mini market yang tidak jauh dari apartemen.

Bastian hanya menunggu Bintang dari luar sedangkan Bintang lanjut berbelanja yang memerlukan waktu beberapa menit.

Langkah mereka kembali berjalan ke apartemen, namun saat langkah mereka mendekati taman apartemen, saat itu pula Bintang menahan lengan Bastian.

"Duduk di sini dulu, yuk," ajak Bintang.

Bastian menuruti ucapan Bintang dengan duduk di sebelah perempuan itu.

Bintang tengah mengeluarkan satu barang berbentuk ember kecil dan Bastian melihat takjub pada Bintang.

"Gue kira lo beli ember tadi, taunya es krim."

Bintang tidak menghiraukan melainkan menyibukkan dirinya untuk memutar tutup es krim agar terbuka. Tutup es krim itu terasa begitu licin sehingga membuat Bintang kesulitan.

Bastian yang melihat Bintang berjuang dengan es krim itu pun mengambil alih es krim itu dari Bintang dan membuka tutup itu dengan mudahnya.

"Yah, you are welcome," ucap Bastian sebelum Bintang berbicara.

Dengan senyum yang begitu lebar, Bintang melahap es krim dengan satu sendok penuh. Setelah sendok itu kosong, Bintang kembali mengisinya penuh dan menyodorkannya pada Bastian.

Saat itu Bastian tengah kosong dan dengan mudahnya menerima suapan es krim dari Bintang. Beberapa detik Bastian merasakan ngilu di giginya. "Kok lo tiba-tiba nyuapin gue."

"Kenapa? Gak mau?"

"Bukannya gitu. Lagian, lo mendadak banget."

"Gue cuma ingin buat suasana hati lo membaik, kok," ucap Bintang membuat Bastian menoleh ke arahnya.

"Maksud lo, Bintang?"

Bintang mengosongkan tangannya beberapa saat lalu telunjuknya mengenai wajah Bastian.

"Di dahi lo tuh tertulis 'lagi banyak pikiran'."

Bastian tertawa mendengar ucapan Bintang. "Bukan gitu, ya siapa gak sedih sih baru berpisah dari bokap."

"Oh gitu, ya gak heran sih gue." Bintang kembali menyibukkan diri dengan es krim. "Gue kira lo masih marah atau ngambek karena gue bahas tentang nyokap lo tadi."

Bastian menoleh sepenuhnya pada Bintang. "Ya enggaklah, Bintang. Gak semudah itu gue marah sama orang."

Saat itu, Bintang merasa lega. "Syukurlah."

Hening menyelimuti mereka beberapa detik.

"Tell me something I don't know. About your mom," ucap Bintang. "Kalau lo mau, kalau gak juga gak apa-apa."

"Gue mau aja kok, tapi bakal panjang nih cerita, lo mau dengar?" tanya Bastian disambut oleh anggukan Bintang.

Bastian menghela napas dalam sebelum bercerita. "Jadi..."

Bastian berbicara pada Bintang tentang masa terburuknya selama ia hidup. Pertama kali saat ia mendengar penyakit ibunya yang bagaikan mimpi buruk.

"Waktu itu gue merasa hidup gak adil banget. Mimpi terburuk bagi gue dan bokap gue, tapi saat itu nyokap malah biasa aja."

Kedua kalinya yaitu saat penyakit itu membuat kondisi ibunya memburuk.

"Saat itu gue ingin menggantikan posisi nyokap. Tapi gue bisa apa? Semua itu udah kuasa Tuhan."

Ketiga kalinya yaitu saat ibu akhirnya menyerah pada rasa sakitnya.

"Dan yang membuat gue merasa semakin menyesal, gue gak di samping ibu saat itu."

Bintang memerhatikan raut wajah Bastian ketika lelaki itu berbicara. Tidak ada perubahan ekspresi pada wajah itu.

Katanya saat orang terlalu sedih, mereka tidak menunjukkan kesedihnya.

Sebelah tangan Bintang berpindah di pundak Bastian, memberi lelaki itu sentuhan yang menenangkan.

"Lo jangan sedih, ya. Gue cerita karena lo yang mau dengar. Gue aja gak sedih," ucap Bastian membuat Bintang menampakkan senyumnya.

"Siapa yang sedih juga, biasa aja tuh." Bintang melahap satu sendok es krim. "Lagian, you're not alone, kok."

Pernyataan Bintang membuat Bastian mengerutkan dahi. "Maksud lo, Bintang?" Bastian kemudian mengambil alih es krim Bintang. "Tell me something I don't know."

Bintang sebenarnya terlalu malas untuk bercerita, tetapi ia merasa tidak adil jika hanya diam saja ketika Bastian bertanya.

"Kita beda kasus sih, Bastian." Bintang berhenti sejenak. "Kalau bokap sama nyokap gue berpisah, karena bercerai."

Bastian mendengar suara lirih Bintang. Saat Bastian akan menghentikan Bintang, tetapi perempuan itu terlebih dahulu melanjutkan ceritanya.

"Saat itu dimulai dari..."

Bintang menceritakan semua yang diceritakan Vivi pada Bastian. Dengan singkat Bintang memadukan cerita dari sudut pandangnya dan cerita dari sudut pandang Vivi. Semuanya Bintang ceritakan dengan singkat dan jelas dengan tujuan agar tidak membuat Bastian bingung.

Hening kembali menyelimuti mereka beberapa saat setelah Bintang bercerita.

Jika diam Bintang karena ia lelah bercerita.

Diam seorang Bastian adalah karena ia mencoba mencerna setiap kalimat yang dilontarkan oleh Bintang.

"Complicated juga, yah," ucap Bastian tanpa menoleh ke Bintang. Sebenarnya ia merasa tidak tahu harus berbuat apa karena ia ingin menolong Bintang saat itu.

"Awalnya, tapi sekarang gak apa-apa." Bintang meraih es krim di pangkuan Bastian. "Bastian! Lo ambil es krim tapi gak dimakan! Encer nih!" keluh Bintang saat melihat kondisi es krim itu.

"Yah. Lagian cerita lo serius banget. Otak gue mana bisa makan sambil mencerna cerita yang  rumit menyerupai soal matematika."

Bintang tertawa pada lelucon Bastian. "Siapa suruh lo tagih cerita gue."

"Jadi, karena cerita Vivi itu lo sekarang menghindari Adrian?"

Bintang mengalihkan pandangan ke Bastian. "Gue juga gak ngerti. Untuk saat ini, gue ingin gak peduli apapun. I am so tired of feeling blue, Bastian. Gue mau bahagia aja sekarang, boleh dong?" ucap Bintang lalu kembali melahap es krim dengan kesal.

Untuk alasan yang tidak jelas, Bastian tersenyum mendengar Bintang menjauhi Adrian beberapa saat.

Bastian memutar tubuh lalu memegan pundak Bintang dan memutar tubuh perempuan itu agar mereka saling berhadapan.

"Kenapa, Bastian?"

Saat itu Bastian hendak berbicara sesuatu, tetapi ia tidak tahu bagaimana akan menyampaikannya.

"Gue..."

Bintang menyuapi dirinya es krim selagi menunggu Bastian untuk berbicara.

Bukannya melanjutkan kalimatnya, Bastian menggerak tangannya dan menempelkan ibu jarinya pada mata Bintang yang sudah berair. Ibu jarinya kemudian turun dan menyeka sisa es krim di sudut bibir Bintang.

Bintang menyangka tujuan Bastian itu adalah menciumnya, namun...

"Kalau lo mau nangis, ya nangis. Kalau mau makan, ya makan. Don't hurt yourself by doing two work at the same time."

Ucapan Bastian memang benar, tetapi Bintang kesal ketika tahu tujuan Bastian bukanlah menyatukan bibirnya mereka.

Kesalnya lagi, Bintang mengharapkan itu saat ia masih bersama Adrian, dalam status hubungan yang tidak jelas.

Brisbane: RunawayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang