Cokelat hangat dan satu toples biskuit rendah lemak menemani Adrian dan Bintang yang sedang berbincang. Mereka membicarakan segala hal. Tetapi, Adriam mendominan percakapan dengan lelucon. Tak sengaja mata Bintang melirik jam dinding yang tergantung di sudut ruang tengah.
"It's 11 o'clock already!" ucap Bintang heboh. Ia seolah tidak percaya telah berbincang begitu lama dengan Adrian.
Adrian mendengar pekikan Bintang membalik tubuh untuk melihat jam dinding. Benar, jam 11 malam. Waktu tidak terasa juga baginya.
"Jadi kenapa kalau udah jam 11 malam Bee, udah mau pulang ya?"
Bintang mengangkat bahunya. "Gak juga sih sebenarnya. But, I have morning class tomorrow."
Adrian mengulum senyum. "That's too bad."
Bintang bingung. "Kenapa bad?"
"Because I still want to talk...with you."
Pernyataan Adrian barusan mengundang senyum di wajah Bintang. "Masih ada hari esok kali. Emang menurut lo apa? Setelah gue pulang besok gue gak mau ngomong lagi sama lo?"
Kali ini Adrian tersenyum lebar. "Gak gitu sih. Gimana ya. However, gue terlanjur senang aja kalau udah ada teman ngobrol. Lo sendiri tahu kan gimana rasanya tinggal sendiri. Kosong banget. Gue aja bosan. Ya, gak perlu gue jelasin kan lo sendiri udah tahu gimana rasanya."
Bintang mengangguk mengerti apa yang dimaksud oleh Adrian. "Ngerti kok gue. Ngerti banget. Tapi nanti juga terbiasa. Apalagi kalau lo sibuk sama kegiatan kampus. Makanya gue ikut organisasi teater di kampus. Biar gak mono aja pulang ngampus langsung ke apartemen."
"Kalau gitu gue ikut organisasi yang ada lo aja ya?"
Bintang tersenyum. Tampak ia begitu senang mendengar pernyataan Adrian. "Serius? Lo mau gabung sama organisasi gue?"
Adrian mengangguk. "Serius. Gue mau ikut. Udah buka pendaftaran belum?"
"Seriusan? Belum sih. Tapi kenapa lo mau gabung?"
"Biar gak bosan aja, seperti yang lo bilang tadi." Biar gue ada alasan buat ketemu lo tiap hari, Bintang.
Bintang sibuk dengan ponselnya untuk beberapa menit. "Kalau gak akhir bulan ini, berarti awal bulan depan. Nanti kalau beneran udah buka gue kabari lo deh."
Senyum kembali mengembang di wajah Adrian saat melihat Bintang begitu semangat memberinya informasi. Bagaimana pun sikap Bintang seolah-olah ia menginginkan Adrian berada di dekatnya, dan itu membuat Adrian salah sangka atas sikap Bintang.
"Gue bakal tunggu kabar dari lo."
Bintang menoleh ke Adrian kemudian memberinya senyuman. "Gue benar-benar harus pulang."
Adrian bisa melihat wajah Bintang yang begitu lelah. Mau tidak mau, sesi obrolan mereka harus berakhir. "Gue anterin lo pulang."
***
Tidak terhitung berapa kali Bastian keluar masuk apartemen, mencuri pandang ke apartemen Bintang, dan menekan bel apartemen Bintang.
Tidak ada jawaban.
Ditambah dengan Bintang yang tidak menjawab panggilannya sama sekali.
Bastian tidak merindukannya. Hanya saja, ia ingin menagih penjelasan yang sejelas-jelasnya apa terjadi dengan dirinya dan Bintang. Ia tidak akan bisa tidur sebelum bertemu dan berbicara dengan Bintang.
Badan Bastian terasa lelah, tetapi matanya mengantuk. Segala cara ia coba agar bisa tertidur, tetap tidak bisa. Hingga ia memutuskan cara terakhir yaitu berlari mengitari Brisbane Park.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brisbane: Runaway
RomanceJarak belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Namun nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi pada suatu tempat, suatu sudut West Brisbane. Ini kisah mereka dengan tujuan be...
