Bagi Bintang, tempat itu terkutuk.
Unit apartemen sebelah itu sangat membuatnya kesal. Bukan salah dari apartemen itu, melainkan pemilik baru dari apartemen tersebut. Bintang harusnya tidak pernah berurusan dengan lelaki itu. Atau seharusnya dia pindah jauh dari unit apartemen yang pernah ia tinggali dulu. Bukannya pindah tepat di unit sebelah.
Bastian is calling.
Bintang mengumpat beberapa saat sebelum menjawab panggilan tersebut.
"Lo butuh apa lagi?" Bintang dapat mendengar respon terkejut Bastian dari ponselnya.
"Whoa, chill babe. Begitu perhatiannya sama gue langsung nanya apa yang gue butuh."
Lagi-lagi, lelaki itu memanggilnya Babe untuk kesekian kalinya. Bintang hanya bisa mengalah dengan sikap Bastian. Terserah lelaki itu ingin memanggilnya apa.
"I don't really have time for your bullshit. What do you want?"
Tanpa jeda waktu yang berarti Bastian menjawab. "I want you."
Tamat sudah. Bintang menutup panggilan dari lelaki itu sebelum dirinya benar-benar kesal. Gadis itu kemudian dengan enggan berlalu ke tempat di mana lelaki itu membutuhkan.
"I already make you a breakfast before you wake up. Lo bisa makan pakai tangan kiri lo kan? Sekarang apa lagi?" seru Bintang setelah langkahnya memasuki unit apartemen Bastian.
Bastian tertawa dalam hatinya. Mendengar kecerewetan seorang Bintang di pagi hari selalu membuatnya bahagia.
"Gue kangen lo," jawab Bastian singkat. Tentu saja ia tidak sepenuhnya merindukan gadis yang selalu ia temui setiap jadwal makannya.
Bintang memutar kedua bola matanya. "Really? I don't have time for—"
"my bullshit." Bastian memotong kalimat Bintang. Ia begitu tahu bagaimana gadis itu akan meresponnya karena itulah yang selalu ia dengar setiap kali Bintang kesal terhadapnya. "I know you would say that."
"You know me so well." Bintang menyindir tidak lupa tersenyum sinis.
Bastian menyeringai. "Lo tahu hari ini hari apa?"
"Hari Senin."
"And then?"
Bintang terlihat kesal. "Oh come on, you know that I don't have time for your bullshit."
Bastian tertawa usil. "Lo begitu gak sabaran sama gue ya?" godanya. "Hari ini bertepatan 1 minggu setelah kita bertemu."
Bintang merasa benar-benar harus terbiasa dengan hal tidak penting yang akan keluar dari mulut lelaki itu. "Dan itu penting?"
"Bukan itu yang terpenting."
Kali ini Bintang memfokuskan perhatiannya kepada Bastian. "And then what?"
"Kalau lo penasaran dekat sini dong sama gue. Berita baik gak boleh terlalu diumbar."
Bintang dengan mudahnya menuruti perintah Bastian. Seolah ia lupa bagaimana posisinya dengan lelaki itu. Dalam hati, Bintang memaki dirinya sendiri.
Bastian mendapati dirinya tersenyum saat mendengar pintu apartemen terbuka lalu melihat Bintang berjalan mendekatinya dan duduk di sebelah. Dalam pikirannya, masih banyak lagi ide gila bagaimana menjahili Bintang.
"This close, enough?" tanya Bintang yang disambut oleh anggukan Bastian.
Wajah Bastian mendekati pipi kiri Bintang dalam waktu yang ia perlambat sendiri. Lelaki itu kemudian mengeluarkan angin dari mulutnya, meniup telinga Bintang.
"Lo mau mati sekarang—" kalimat Bintang terhenti saat ia memalingkan wajahnya dan tidak sengaja bibirnya menyentuh bibir lelaki yang baru saja menjahilinya.
Bibir mereka hanya bertemu untuk beberapa detik karena Bintang langsung menjauhi wajahnya dari Bastian.
"I can't believe this shit just happend. Twice," ucap Bintang dengan wajahnya terlihat kesal. Atau tidak.
Bastian menyeringai. "Lagian gue belum selesai cerita, lo udah memalingkan wajah lo ke gue, ya gak sengaja kita ciuman. Lagi."
"Gak sengaja? Terus maksud lo kenapa—"
"Oh come on, don't be over acting. It just a kiss."
Bintang hanya terlihat takjub setelah mendengar jawaban Bastian.
Just a kiss katanya? Gila kali ya tu orang? Pikir Bintang.
"Lagian bukan ciuman juga sih tadi. Bibir gue gak sengaja ketemu bibir lo untuk beberapa detik. Cuma nempel gitu aja. Gak lebih."
Bintang dalam hati menyetujui pernyataan Bastian barusan. Bibir mereka hanya bertemu untuk beberapa detik. Tidak lebih dari itu.
"Benar kan kata gue?" ucap Bastian seolah bisa membaca pikiran Bintang. "Atau lo emang mau kita ciuman beneran seperti pertemuan kita pertama kali—"
"ENOUGH!!! Teriak Bintang sekaligus menolak Bastian. "Just tell me what you want to say."
"Gue baru dapat pesan dari dr.John kalau gue harus konsultasi lengan gue, dan kemungkinan perban gue juga dilepas hari ini. Jadi lo harus antar gue ke sana," ucap Bastian dengan wajah datar.
"Serius lo? Syukurlah," ucap Bintang tanpa menyadari lengannya sudah mengalungi leher Bastian yang satu detik kemudian ia lepas. "Congratulation then, gue siap-siap dulu." Bintang kemudian berlalu meninggalkan Bastian.
Setelah memasuki unit apartemennya, Bintang merasa kalut. Ia tidak mengerti dengan apa saja yang baru terjadi.
Jantungnya sedari berdegup begitu kencang.
Mungkin karena gue berlarian dari unit apartemen sebelah kali ya? Batinnya.
Namun, satu hal yang Bintang syukuri saat itu adalah....
"YES!!! I AM FREE!!!" teriak Bintang mengingat ucapan Bastian bahwa lelaki itu akan sembuh.
Ia tersenyum beberapa detik, kemudian wajahnya kembali datar.
Ia merasa bahagia sekaligus sedih. Tanpa alasan.
What the hell just happened to me? Tanyanya dalam hati.
***
Xx~
KAMU SEDANG MEMBACA
Brisbane: Runaway
RomansaJarak belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Namun nyatanya, semua itu harus ia temukan lagi pada suatu tempat, suatu sudut West Brisbane. Ini kisah mereka dengan tujuan be...
