Night Talk and Ice Cream

3.4K 356 10
                                        


Malam itu Bintang tidak bisa tertidur setelah menerima perasaan Adrian. Untuk beberapa saat, Bintang merasa kalau hal tersebut hanya keinginan hatinya, bukan keinginan sepenuhnya dari dirinya.

Jujur saja, ia senang. Tetapi ia merasa sesuatu yang tidak benar. Dan Bintang tidak tahu jawaban akan sesuatu.

Bintang merasa tersesat untuk beberapa saat, namun ia tidak tahu mengapa merasa demikian.

Ingin rasanya ia menghilangkan segala perasaan yang mengganggunya, tapi tidak semudah itu.

Bintang bangkit dari posisinya lalu berjalan untuk mengambil baju hangat. Ia berniat untuk jalan kaki beberapa saat, berharap hal tersebut bisa mengundang rasa kantuknya.

Selama beberapa saat ia berjalan, ia berbicara pada dirinya sendiri.

Apa yang terjadi padanya, mengapa ia masih merasa kosong, mengapa ia merasa bahagia tetapi juga merasa sendu, mengapa semua ini terjadi.

Terlalu banyak yang ia pikirkan. Terlalu banyak pertanyaan yang bermunculan. Bintang hanya butuh satu jawaban. Tetapi tidak mudah menemukan jawaban atas pertanyaan itu.

Bintang mengalah dengan otaknya. Ia membiarkan tubuhnya untuk menghirup udara malam itu.

Bintang duduk di salah satu bangku taman. Ia mengadahkan kepalanya, berharap hal itu bisa mengeluarkan semua pikiran yang mengganggunya. Ia memposisikan dirinya tengah mendengar alunan piano yang dimainkan ibunya. Ia rindu ibunya, dan rasa rindu itu menenangkan.

Sudah lama ia ingin menghubungi ibunya, tetapi selalu ada suatu rasa untuk mencegahnya.

Begitu mudah Bintang merasa tenang, dan begitu mudah rasa tenang itu hilang saat ia merasakan seseorang duduk di sebelahnya.

Kepala Bintang tadi yang mengadah pun turun. Ia menoleh ke arah seseorang itu lalu tatapannya kosong.

Bintang melihat Bastian tengah tersenyum padanya.

"Lo kenapa? Gak bisa tidur?" tanya Bastian seolah ia mengerti Bintang saat itu.

Bintang mengangguk. "Lo kenapa? Juga?"

"Gue baru balik dari apartemen Mia."

Bintang tidak bereaksi apa-apa. Seolah mendengar nama Mia dari mulut Bastian sudah bukan masalah lagi baginya.

Bastian menatap Bintang. "Lagi banyak pikiran, ya?"

Bintang kembali menatap Bastian takjub. "Tahu dari mana?"

Telunjuk Bastian menyentuh dahi Bintang. "Tertulis aja di jidat lo 'lagi banyak pikiran'."

Bintang tertawa pada lelucon Bastian. "Suka-suka lo, deh."

Bastian lega setelah melihat tawa Bintang. Lalu ia menyibukan diri dengan kantong plastik berisi makanan. Ia mengambil 2 es krim lalu memberinya satu untuk Bintang.

"Kali aja bisa bantu," ucap Bastian. Bintang dengan senang menerimanya.

"Makasih, Bastian."

Bastian kembali tersenyum di sela ia melahap es krim. Bagaimana ia menyukai Bintang menyebut namanya dengan lengkap. Kalau diingat, hanya Bintang yang memanggilnya 'Bastian' bukannya 'Bas'.

"Lo boleh cerita ke gue kok," ucap Bastian membuat Bintang menoleh kepadanya. "Tapi gue gak maksa, kok."

Bintang melahap habis es krimnya habis lalu mulai bercerita. "Malam ini, Adrian minta gue jadi pacarnya."

Bastian yang tadi tengah santai pun menegakan posisinya. "Terus?"

"Gue terima," ucap Bintang. Namun tidak ada ekspresi apapun di wajahnya, dan itu mengundang pertanyaan Bastian.

"Harusnya lo senang."

Bintang tersenyum getir, bagaimana ia merasa sedih saat tahu Bastia mengerti dengan keadaannya.

"Bukannya gue gak senang. Jujur, gue senang. Banget. Gue Cuma merasa sesuatu. Something is not right, I don't know why."

Bastian yang tadi terkejut beberapa waktu merasa lega dengan perasaan Bintang. Bukannya ia bahagia atas perasaan sendu Bintang, ia hanya lega menyimpulkan Bintang tidak begitu senang setelah bersama Adrian.

"Gue mau bantu, tapi gue juga gak ngerti. gue..."

Bintang tersenyum tipis pada Bastian. "Lo gak harus bantu gue, kok. Lo udah mau dengar gue aja...gue udah senang. Thanks."

"Sory..." ucap Bastian lirih. Ia merasa tidak berguna untuk beberapa waktu.

"No, please. Gue benar udah lega kok lo udah mau dengar gue." Bintang berhenti sejenak. "Lo sama Mia gimana?"

"We are...fine. Just fine."

"Syukurlah..."

Ketika Bastian mendekat Bintang secara dekat, ia menangkap mata perempuan itu sayu.

"Lo udah ngantuk tuh, balik yuk?"

Bintang mengangguk lalu mengikuti langkah Bastian dari belakang.

Bastian berjalan membelakangai Bintang.

Bintang merasa sendu tiba-tiba, ia ingin menangis, tapi tidak bisa. Hal itu membuatnya kesal.

Semakin langkah mereka mendekati apartemen, perasaan Bintang semakin tidak enak.

Di dalam lift, Bintang mencoba untuk menghindari tatapan Bastian.

Tetapi, Bastian bukanlah seseorang yang tidak peduli dengan sekitarnya.

Lift yang membawa mereka akhirnya berhenti. Saat langkah mereka mendekati apartemen, mereka mengucapkan salam begitu saja.

Namun, saat Bintang tengah menekan kode akses apartemennya, Bastian menahan lengannya hingga Bintang berhadapan dengannya.

Bastian melihat bulir air mata mengalir di wajah Bintang.

Ibu jari Bastian dengan lembut mengusap wajah Bintang. Detik berikutnya, Bastian mendekap tubuh Bintang.

Hanya beberapa saat, Bintang menangis diam-diam dalam dekapan Bastian.

Bastian melepas dirinya. Dilihatnya Bintang. "Jangan marah ya. Gue tadi peluk elo, di lift dari tadi lihat lo tahan nangis, niatnya mau tenangin elo, sebagai teman yang baik. Lo gak kesal kan sama gue?"

Bintang memberi Bastian senyum tipis. "Makasih ya."

Detik selanjutnya Bintang memasuki apartemennya. Di balik pintu itu ia melanjutkan apa yang ia lakukan tadi.

Bintang nangis semaunya.

Sebagai teman yang baik?

Bintang senang dengan perlakuan Bastian, tetapi perlakuan itu bukan membuatnya membaik, justru Bintang semakin kesal.

***

Author note:

Gak ngerti kenapa bisa seperti ini ya, but hope you like it! 

o

Brisbane: RunawayTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang