Kehidupan kelam yang begitu menyelimuti hidupnya membuat Pria bermata hazel ini ingin segera mengakhiri hidupnya.
Tanggung jawab sebagai seorang CEO sudah cukup membuatnya merasa jengah, terlebih dengan kejadian dimana ia begitu bodoh terjerumus dal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
(Namakamu) menyatukan bibirnya dengan bibir Iqbaal. Keduanya mulai saling berpagutan, saling melumat membuncahkan seluruh perasaan yang saat ini membakar hati mereka.
Ciuman ini tentu harus berangsur lama dan mengesanakan karena ini ciuman penghapus masalah, ciuman yang akan menjadi awal baru hubungan Iqbaal dan juga (Namakamu). Setelah ini semua akan berlangsung seperti semula, walau hanya ada ada Iqbaal dan (Namakamu) tanpa Raveno.
Sekali lagi, Ini bukan kesalahan, ini adalah takdir Tuhan yang akan membuat Iqbaal dan (Namakamu) semakin kuat dan menghargai arti sebuah kehidupan yang sebenarnya.
Hampir lima menit Iqbaal dan (Namakamu) habiskan untuk meneransfer perasaan mereka lewat ciuman yang berlangsung. Iqbaal tersenyum singkat saat melihat istrinya itu semakin pintar memainkan permainan lidah di dalam mulutnya. Setelah ciuman berakhir, Iqbaal menarik (Namakamu) ke dalam pelukannya lalu mengecup lama kening (Namakamu). Hari ini seluruh luka di hati Iqbaal telah terobati.
(Namakamu) menetap Iqbaal yang juga menatapnya dengan tatapan penuh arti. (Namakamu) merasakan pipinya panas saat melihat Iqbaal tersenyum menunjukan ketampanannya yang luar biasa. (Namakamu) merasa seperti jatuh cinta lagi pada Iqbaal, namun sayangnya waktu untuk mereka bersama hanya tinggal beberapa menit lagi. Iqbaal harus terpisah dengan (Namakamu) setelah ini.
"Masih ada sepuluh menit, bagaimana kalau kita berciuman lagi?" ucap (Namakamu) mencoba untuk menyingkirkan rasa malunya saat meminta agar ia dan Iqbaal kembali berciuman. Iqbaal yang mendengar itu langsung menempelkan bibirnya kembali di bibir (Namakamu) dan mereka kembali berciuman.
Iqbaal mengakhiri ciumannya dan memberi kecupan singkat di bibir (Namakamu). Ini sudah waktunya Iqbaal untuk pergi. Iqbaal mengusap airmata di pipi (Namakamu) yang entah sejak kapan hadir di pipi (Namakamu), Iqbaal tentu merasa berat untuk meninggalkan istri tercintanya itu namun Iqbaal harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya selama ini.
"Aku akan menunggu."
(Namakamu) akan menunggu Iqbaal sampai Tuhan mengizinkan mereka untuk bersama lagi seperti ini.
"Terimakasih, Sayangku."
Iqbaal sangat senang karena Tuhan mengembalikan (Namakamu) lagi padanya walau Iqbaal masih merasa tidak pantas mendapatkan (Namakamu) kembali namun Iqbaal sungguh bersyukur sekarang ini.
Iqbaal dan (Namakamu) beranjak dari tempat tidur lalu melangkah keluar kamar dengan tangan yang saling menggenggam erat. Ini adalah perpisahan yang indah. Tanpa teriakan, tanpa rasa sakit dan tanpa amarah. Perpisahan ini akan selalu Iqbaal dan (Namakamu) hargai.