Tidak mungkin seseorang yang sudah meninggal dapat hidup kembali. Iqbaal terdiam dengan pandangan tidak percaya menatap pria yang tengah bertengkar dengan seorang wanita itu. Iqbaal mencoba memastikan jika apa yang ia lihat sekarang benar-benar nyata bahwa pria yang ada di hadapannya adalah Alvaro Maldini.
Iqbaal beranjak dari duduknya, langkahnya terburu dengan raut wajah sedikit tegang. Iqbaal mendekat ke arah pria dan wanita itu, dengan jarak hanya sekitar dua langkah Iqbaal dapat melihat wajah pria itu dengan sangat jelas. Apakah Aldi benar-benar hidup kembali?
Kehadiran Iqbaal dengan tatapan aneh di hadapan pria yang mirip seperti Aldi itu tentu mengundang tanda tanya. Siapa Iqbaal? dan kenapa Iqbaal memasang tatapan aneh seperti itu padanya.
"Aldi?"
Nama Aldi lolos begitu saja dari bibir Iqbaal membuat pria yang mirip dengan Aldi itu kini benar-benar menatap kehadirannya dengan sorot mata tajam. Medengar nama itu pria itu menaikan sebelah alisnya dan mulai menunjukan wajah heran.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Dan pria itu mulai menanggapi Iqbaal dengan bertanya apakah ia dan Iqbaal pernah bertemu sebelumnya. Pertanyaan itu sontak membuat Iqbaal semakin terjebak dalam ketidak percayaan.
"Apa kau benar-benar Aldi?"
Iqbaal berharap pria ini bukanlah Aldi. Iqbaal harap pria ini hanya seseorang yang kebetulan mirip dengan sosok Aldi.
Pria itu terlihat menghela napas lalu menyeringai singkat sebelum akhirnya membuka mulut. "Apa kau dengar apa yang aku katakan tadi, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya pria itu lagi kepada Iqbaal.
Iqbaal tertegun dengan pandangan yang masih tertuju pada wajah pria itu. Melihat Iqbaal yang hanya diam membuat pria itu jengah dan akhirnya memutuskan untuk bersikap tidak peduli. Pria itu menarik wanita di sampingnya untuk pergi, masalah mereka akan mereka selesaikan di tempat lain.
Iqbaal tidak bisa berbuat apapun. Dadanya sesak, pikirannya kembali pada masa lalu saat ia menghabisi nyawa Aldi dengan begitu mudah. Tiba-tiba tubuh Iqbaal gemetar dan wajahnya mulai pucat serta keringat mulai bermunculan di sekitar wajahnya. Iqbaal ketakutan, Iqbaal tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Sungguh, Iqbaal harap pria itu bukanlah Aldi.
Iqbaal keluar dari dalam cafe dengan sangat cepat. Iqbaal harus sembunyi sekarang ini, jangan sampai Iqbaal bertemu dengan pria itu lagi karena Iqbaal sangat ketakutan.
Iqbaal berlari, napasnya terengah-engah, beberapa orang melihatnya dengan pandangan heran pasalnya Iqbaal seperti seorang pencuri yang sedang di kejar polisi saat ini. Iqbaal menghentikan sebuah taxi dan meminta supir taxi itu untuk melaju dengan kecepatan penuh menuju apartemennya.
**
Meskipun belasan tahun sudah terlewati namun Iqbaal masih mengingat jelas bagaimana dulu ia membunuh Aldi dengan tangannya sendiri. Waktu itu tubuh Aldi berlumuran darah, Iqbaal memukulinya sekaligus menusuknya tanpa perasaan. Iqbaal juga tidak pernah lupa reaksi (Namakamu) saat menemukan jasad Aldi, saat itu Iqbaal melihat (Namakamu) yang benar-benar merasa hancur begitu kehilangan sosok Aldi.
Iqbaal berdiam diri di dalam apartemennya dengan pikiran terus memikirkan pertemuannya dengan seseorang yang mirip Aldi hari ini. Iqbaal merasa sangat kacau, rasa takut yang ia rasakan belum juga hilang dan bahkan justru ketakutan itu semakin menyiksa Iqbaal.
Iqbaal mulai berpikir bagaimana caranya agar ia tidak bertemu lagi dengan pria itu. Iqbaal tidak mungkin tetap tinggal di kota ini karena Iqbaal tidak mau bertemu dengan pria itu untuk yang kedua kalinya. Iqbaal mengusap singkat wajah pucatnya, tangannya kini sibuk dengan ponselnya sampai akhirnya Iqbaal memutuskan untuk mengubungi seseorang.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Please Save Me"
RomanceKehidupan kelam yang begitu menyelimuti hidupnya membuat Pria bermata hazel ini ingin segera mengakhiri hidupnya. Tanggung jawab sebagai seorang CEO sudah cukup membuatnya merasa jengah, terlebih dengan kejadian dimana ia begitu bodoh terjerumus dal...
