Semua manusia pasti memiliki masa lalu. Entah itu masa lalu yang indah ataupun masa lalu yang kelam. Disini Iqbaal mempunyai masa lalu yang kelam, masa lalu yang membuat hidupnya menjadi berantakan.
Iqbaal sekarang sudah tidak muda lagi seperti dulu, seperti saat ia datang mengunjungi klub untuk bersenang-senang dan berganti-ganti pasangan kencan. Sekarang Iqbaal sudah menjadi seorang pria dewasa--bahkan seorang ayah. Tanggung jawab Iqbaal ada untuk keluarga kecilnya. Keluarga yang menjadi alasan di setiap hembus nafasnya.
Hari ini Iqbaal memberitahu Raveno tentang kebenaran yang selama ini ia sembunyikan. Iqbaal tidak akan terkejut jika Raveno tak menganggapnya sebagai ayah lagi. Iqbaal sangat mengakui kesalahannya dan Iqbaal sudah muak untuk menutupi masa kelam di masa lalunya. Iqbaal bukanlah orang suci yang mampu menjadi baik seumur hidupnya. Iqbaal merasa dirinya adalah bentuk sebuah kesalahan yang hadir di dunia ini. Iqbaal membenci dirinya, hidupnya dan takdirnya.
Dengan penuh ketulusan Iqbaal menggendong Ochi, memeluknya lalu mengecupnya dengan penuh kasih sayang seorang ayah. Walau Iqbaal tidak dapat memberi kehangatan seperti yang (Namakamu) berikan terhadap Ochi saat (Namakamu) menggendong Ochi, namun Iqbaal berharap putri kecilnya ini tidak keberatan berada di pelukannya.
Iqbaal menimang Ochi, matanya terpejam dan meneteskan airmta..
"Papa akan selalu menyayangimu.., tumbuhlah menjadi gadis kecil yang kuat dan pemberani.."
Iqbaal merasa ada sesuatu seperti saat ini menusuk hatinya. Iqbaal merasa dadanya sesak, kekuatannya dan ketegarannya sekarang tidak lagi ia pedulikan karena saat ini Iqbaal sudah mengakui jika ia bukanlah seorang ayah yang mampu bersikap kuat kapanpun itu. Iqbaal menangis sambil memeluk putri kecilnya yang baru berusia satu bulan.
"Raveno sudah membenci papa dan itu sudah cukup membuat papa kehilangan ketegaran papa. Dan jika suatu hari nanti, saat kau tumbuh dan dapat berbicara lalu kau juga mengatakan jika kau membenci papa itu akan menjadi alasan papa untuk segera mengakhiri hidup papa."
Iqbaal putus asa. Saat ini Iqbaal benar-benar terlihat menyedihkan. Perlahan Iqbaal membawa Ochi, ia duduk di sofa dan memandangi wajah damai Ochi yang sedang terlelap pulas. Iqbaal gemetar takut saat membayangkan suatu hari nanti Ochi akan membencinya dan tidak mau mengakuinya sebagai ayah..
Iqbaal menunduk, aimatanya masih terus berderai di wajah tampannya yang saat ini terlihat pucat.
"Berjanjilah untuk tidak membenci papa, berjanjilah untuk tidak membenci papa...berjanjilah...berjanjilah..."
Iqbaal memegang tangan mungil Ochi. Pergerakannya membuat tidur Ochi terusik hingga kedua mata itu terbuka, menatap sang papa yang sekarang sedang menangis.
Iqbaal langsung menghapus airmatanya seperti orang bodoh. Iqbaal lalu tersenyum, mencoba mengusir kelemahannya. Iqbaal membiarkan jemari mungil Ochi mengengam jari telunjuknya..
"Apa kau melihat papa? maaf karena papa menangis seperti--"
Belum sempat Iqbaal melanjutkan perkatannya kini tangisan Ochi sudah memenuhi kamar. Iqbaal panik dan langsung berdiri, menggendong Ochi dan mencoba menghentikan tangisan Ochi. Putri kecilnya tidak boleh menangis.
Iqbaal mencoba segala cara untuk membuat Ochi berhenti menangis, namun semua cara yang ia lakukan tidak bisa membuat putri kecilnya itu berhenti menangis. Akhirnya Iqbaal memutuskan untuk langsung mencari (Namakamu)---Iqbaal yakin cara yang terakhir ini pasti mampu membuat Ochi berhenti menangis.
Iqbaal menemukan (Namakamu) di kamar, disana (Namakamu) terdiam sambil menangis pilu. Kehadiran Iqbaal yang datang membawa Ochi langsung mengalihkan perhatian (Namakamu). Iqbaal lalu meminta (Namakamu) untuk memberikan Ochi Asi dan (Namakamu) langsung melakukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Please Save Me"
RomanceKehidupan kelam yang begitu menyelimuti hidupnya membuat Pria bermata hazel ini ingin segera mengakhiri hidupnya. Tanggung jawab sebagai seorang CEO sudah cukup membuatnya merasa jengah, terlebih dengan kejadian dimana ia begitu bodoh terjerumus dal...
