"Please Save Me" [30] - PERMINTAAN MACAM APA ITU?

7K 503 25
                                        


Matahari telah menunjukan diri siap bersinar kembali pagi ini. Usai kejadian semalam Iqbaal dan (Namakamu) terpaksa harus membalas kesalahan mereka karena telah membohongi Kiki. Sebagai gantinya Iqbaal dan (Namakamu) harus membiarkan Kiki dan Yuna menginap di rumah mereka.

Waktu menunjukan pukul tujuh lewat tigapuluh menit dan sudah waktunya untuk bangun. (Namakamu) menatap Iqbaal yang masih terlelap pulas di sampingnya, (Namakamu) kemudian  mencoba membangunkan Iqbaal. Tangannya menampar pelan pipi Iqbaal berharap Iqbaal segera bangun. Butuh waktu sekitar tujuh menit sampai Iqbaal akhirnya benar-benar bangun dari tidur pulasnya.

Iqbaal menatap wajah cantik (Namakamu) lalu menarik  (Namakamu) dan mengecup singkat pipi (Namakamu) membuat pipi itu memerah sempurna. (Namakamu) mencubit kecil pinggang Iqbaal sebelum akhirnya menarik Iqbaal untuk enyah dari tempat tidur.

"Cepat mandi!" ucap (Namakamu)  dengan nada suara tegas. Sekarang Iqbaal bagai anak berusia sepuluh tahun yang harus dibujuk oleh ibunya agar mau mandi. Seharusnya Iqbaal tidak lupa jika hari ini ia akan kembali ke kantor setelah sekian lama.

Selama 15 tahun Iqbaal memberikan tanggung jawab perusahaan pada Angga-- satu-satunya orang yang ia percayai untuk menangani perusahannya dan hari ini Iqbaal akan kembali menjadi penanggung jawab pertama sebagai CEO di perusahaan miliknya. Iqbaal sangat berterimakasih pada Angga karena pria itu sangat jujur dan sebagai gantinya Iqbaal menempatkan Angga sebagai pemimpin di salah satu anak perusahaannya. Semua dimulai dari hari ini, dimana Iqbaal akan kembali di sibukan dengan pekerjaan kantor.

Iqbaal akhirnya menyerah dan langsung bergegas menuju kamar mandi setelah mendengar ancaman yang keluar dari bibir (Namakamu), ancaman yang istrinya suarakan menyangkut 'jatah' nya malam ini dan tentu saja Iqbaal tidak mau semua itu hilang hanya karena dirinya malas mandi. Iqbaal benar-benar tak berkutik jika sudah menyangkut hal-hal yang disukainya.

Sementara Iqbaal mandi, (Namakamu) keluar kamar hendak melihat apa Kiki dan Yuna masih ada di kamar tamu atau mereka sudah pulang. Sesampainya di kamar tamu, (Namakamu) melihat ada memo kecil yang di tempelkan di depan pintu kamar, di memo tersebut tertulis pamitan kecil dari Kiki dan Yuna yang sudah pulang sejak pukul 6 pagi tadi. Di memo juga tertulis ucapan terimakasih, (Namakamu) tersenyum lalu menghela napas sebelum akhirnya membuka pintu kamar, (Namakamu) harap Kiki dan Yuna tidak menghancurkan kamar tamu sebagai maksud balas dendam.

Sepasang mata indah (Namakamu) melihat seisi kamar yang ternyata masih bersih dan rapi, (Namakamu) tersenyum lega. Baru saja (Namakamu) ingin melangkah pergi  tiba-tiba (Namakamu) merasa sangat mual. (Namakamu) dengan cepat berlari menuju kamar mandi dengan tangan kanan membekap mulut, sesuatu yang hendak (Namakamu) muntahkan harus berakhir di depan pintu kamar mandi. (Namakamu) merasa tubuhnya lemas dan perlahan tubuhnya merosot terduduk di depan pintu kamar mandi, (Namakamu) merutuki kakinya yang payah karena terlalu lambat hingga ia harus muntah di depan pintu seperti ini. (Namakamu) kembali merasa mual, kakinya tidak lagi kuat untuk berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi hingga keset handuk tak bersalah di bawahnya kini penuh dengan cairan bening yang (Namakamu) muntahkan. Ini sungguh menyikasa (Namakamu), rasa mual ini seperti membunuh (Namakamu) secara perlahan. Terakhir kali (Namakamu) merasakan mual hebat seperti ini mungkin sudah lebih dari 15 tahun lalu dan sekarang (Namakamu) kembali merasakannya.

Perhatian (Namakamu) beralih ke arah pintu kamar yang berderit seiring dorongan seseorang yang memaksa agar pintu terbuka lebar. (Namakamu) melihat Iqbaal datang dengan pakaian kantornya namun dengan dasi yang belum terpasang rapih serta lengan kemaja yang masih di gulung sampai siku. Melihat (Namakamu) duduk di depan pintu kamar mandi, Iqbaal mengernyit bingung sebelum akhirnya melangkah mendekati (Namakamu).

"Apa terjadi sesuatu?" tanya Iqbaal membungkuk lalu membantu (Namakamu) berdiri.

(Namakamu) mengeluh kecil saat kembali merasakan mual. Tangan kanannya meremas kemeja Iqbaal membuat Iqbaal semakin di buat bingung, tidak sampai 10 detik cairan bening itu kembali (Namakamu) muntahkan dan kali ini sukses mengotori kemaja Iqbaal.

"Please Save Me"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang