"Pelase Save Me" [37] - Malam yang sangat indah (17+)

11.1K 595 63
                                        

[(namakamu) pov]

Aku menangis memeluk erat Fakhri sambil meneriaki Iqbaal agar segera datang. Entah apa yang membuat Fakhri menghindariku dengan raut ketakutan seakan aku adalah penjahat. Aku menatap wajah Fakhri, aku merasa swperti melihat wajah putra kecilku Raveno . Aku benar-benar takut kehilangan Fakhri, aku sangat menyayangi Fakhri.

Aku melihat Iqbaal datang menuruni anak tangga dengan wajah terkejut melihat aku yang tengah menangis sambil memeluk Fakhri yang tidak sadarkan diri. Iqbaal bertanya kenapa Fakhri bisa sampai terjatuh dan aku membentak Iqbaal! ini bukan waktunya untuk bertanya! seharusnya Iqbaal menolongku sekarang menghubungi Dokter.

Aku tahu tangan Iqbaal masih di gips namun Iqbaal masih memiliki tangan kanannya yang bisa dia pakai untuk menghubungi Dokter. Iqbaal menghubungi Dokter, dan setelah itu aku susah payah membawa Fakhri menuju kamar.

Tidak lama kemudian Dokter datang dan mulai memeriksa kondisi Fakhri. Aku sangat takut benturan di kepala Fakhri akan membuat Fakhri mengalami hal yang sanggup menyayat hatiku, aku mulai membayangkan Fakhri amnesia dan gagar otak, aku sungguh takut!

Aku memeluk Iqbaal menangis penuh kekhawatiran. Iqbaal berusaha untuk menenangkanku dengan mengatakan bahwa Fakhri akan baik-baik saja.

"Syukurlah benturan di kepalanya tidak sampai menyebabkan hal yang mengkhawatirkan. Fakhri hanya harus istirahat," ucap Dokter membuatku bernapas lega.

Dokter lalu berpamit pergi usai memeriksa kondisi Fakhri. Aku dan Iqbaal keluar kamar membiarkan Fakhri istirahat, sekarang Iqbaal menuntut penjelasan dariku.

Aku mengatakan pada Iqbaal bahwa Fakhri bersikap aneh seperti orang ketakutan. Iqbaal terdiam sesaat sampai akhirnya Iqbaal kembali memintaku untuk tenang dan berhenti menangis. Setelah itu aku dan Iqbaal kembali ke kamar, aku harap saat Fakhri sadar nanti dia tidak akan bersikap aneh seperti tadi lagi.

Aku tidak akan pernah tersenyum lagi jika harus kehilangan putraku untuk yang kedua kalinya, bagiku Fakhri adalah putraku sekarang ini dan aku sangat menyayangi Fakhri.

**

Iqbaal memastikan jika (Namakamu) sudah tertidur pulas. Penuh hati-hati Iqbaal beranjak dari tempat tidur dan pergi keluar kamar, Iqbaal harus menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada Fakhri.

Sesampainya Iqbaal di kamar Fakhri, Iqbaal langsung membuka pintu kamar dan mendapati Fakhri yang ternyata sudah sadar. Fakhri terlihat sangat ketakutan saat Iqbaal mamasuki kamar, wajah Fakhri pucat dan pandangan matanya terhadap Iqbaal penuh was-was seakan Iqbaal akan melakukan hal buruk.

Iqbaal duduk di samping Fakhri lalu memfokuskan seluruh perhatiannya kepada Fakhri. "Coba ceritakan apa yang membuatmu terlihat ketakutan saat melihatku.." ucap Iqbaal tanpa basa-basi menanyakan apa yang membuat Fakhri ketakutan saat melihatnya.

Fakhri terdiam sesaat sambil mencoba untuk mengatur deru napasnya yang sekarang tidak beraruran. Iqbaal bisa melihat tangan Fakhri gemetar. "Aku..," Fakhri menggantungkan ucapannya, Fakhri tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Fakhri terlalu takut.

Iqbaal menghela napas pasrah mencoba untuk tidak terlalu menekan Fakhri untuk menjawab pertanyaan yang ia ajukan tadi. Iqbaal menepuk bahu Fakhri. "Kau itu sudah besar dan jangan jadi laki-laki pengecut. Untuk apa kau takut?
...ah, aku sekarang mengerti, apa kau menjadi seperti ini setelah tahu semua tentang diriku?" apa yang Iqbaal katakan membuat Fakhri terbelalak. Ya, itu memang benar, Fakhri seperti ini setelah tahu siapa Iqbaal sebenarnya.

"Please Save Me"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang