---'Aku tidak menyangka sebentar lagi aku akan sekolah. Terimakasih Tuhan akhirnya aku bisa merasakan kebahagiaan, saat berada di rumah ini aku merasa seperti memiliki keluarga. Aku merasa memiliki papa saat melihat om Iqbaal, dan aku merasa memiliki mama saat melihat tante (namakamu), aku menyayangi mereka. Aku harap mereka bisa menerima keberadaanku di rumah ini, terutama om Iqbaal...semoga dia setuju jika aku sekolah. Aku akan berusaha untuk menajdi anak yang pintar dan sukses agar bisa sehebat om iqbaal, aku juga ingin punya ruang kerja seperti ini saat sudah dewasa nanti..
-R.D' ---
Iqbaal terdiam sesaat sebelum meletakan kembali kertas itu. Iqbaal lalu melangkah menuju sofa, kedatangannya kesini untuk istirahat bukan untuk berubah pikiran dan setuju agar Fakhri sekolah hanya karena selembar kertas tak berguna itu. Iqbaal tidak mau ambil risiko dengan mengurus masalah pendidikan anak jalanan seperti Fakhri. Bagi Iqbaal itu hanya membuang-buang waktu.
Iqbaal memejamkan matanya, akhirnya ia bisa tidur dengan nyaman disini meski ia sedikit terganggu dengan adanya Fakhri yang juga tidur di ruang kerjanya.
**
Pagi hari di sambut dengan tangisan dari langit. Pagi ini hujan. Udara pagi yang biasanya sejuk sekarang menjadi sedingin es hingga terasa menusuk sampai ke tulang. Tentu saja Iqbaal memilih untuk tetap berada di rumah sambil bersembunyi di balik selimut dan kembali menikmati mimpinya yang sempat terputus saat ia memutuskan untuk pindah ke kamar setelah semalaman tertidur di ruang kerjanya. Iqbaal benar-benar tidak mau repot memikirkan dimana (Namakamu) sekarang karena kondisi kamar sepi tanpa kehadiran wanita tercintanya itu saat ia datang.
Belum ada lima menit Iqbaal kembali tidur kini suara pintu terbuka yang di susul suara panggilan dari (Namakamu) benar-benar menganggu Iqbaal. Penuh kesal Iqbaal menyembulkan kepalanya dari balik selimut dan melihat istrinya itu yang sekarang datang dengan membawa semangkuk sup.
Awalnya Iqbaal ingin mengutarakan rasa kesalnya karena (Namakamu) mengganggunya tidur, namun setelah melihat (Namakamu) datang dengan membawa sup di tangannya Iqbaal memutuskan untuk menyimpan rasa kesalnya. Iqbaal mengubah posisinya menjadi duduk saat (Namakamu) sudah berada di dekatnya.
"Aku buatkan kau sup." ucap (Namakamu) menatap Iqbaal yang sekarang terlihat masih mengantuk.
Iqbaal hanya mengangguk singkat lalu meraih mangkuk sup itu dari tangan (Namakamu). Iqbaal tidak mau percaya diri jika (Namakamu) akan menyuapinya, maka dari itu Iqbaal memutuskan untuk menikmati sendiri sup yang (Namakamu) bawakan. Iqbaal melihat (Namakamu) tersenyum lalu meraih kembali sup itu dari tangannya, sepertinya dugaan Iqbaal salah. (Namakamu) berniat menyuapinya.
"Sepertinya ada yang aneh." Iqbaal menatap (Namakamu) mencoba membaca maksud (Namakamu) sebenarnya. Tentu saja Iqbaal merasa ini aneh karena semalam ia dan (Namakamu) sempat bertengkar.
(Namakamu) terdiam sesaat sebelum kemudian mulai menyodorkan sesendok sup itu ke mulut Iqbaal. Iqbaal membuka mulutnya lalu menikamati rasa nikmat yang sup itu berikan di indra pengecapnya.
"Bukannya tadi malam kau marah? apa sup ini memiliki maksud lain sampai kau--"
"Tega sekali kau mencurigai istrimu, aku buatkan kau sup karena pagi ini sangat dingin dan aku rasa membuat sup untuk suamiku adalah hal yang tepat, tapi kau mencurigaiku. Kau benar-benar suami brengsek! "
KAMU SEDANG MEMBACA
"Please Save Me"
Roman d'amourKehidupan kelam yang begitu menyelimuti hidupnya membuat Pria bermata hazel ini ingin segera mengakhiri hidupnya. Tanggung jawab sebagai seorang CEO sudah cukup membuatnya merasa jengah, terlebih dengan kejadian dimana ia begitu bodoh terjerumus dal...
