Ada banyak sekali pertanyaan yang sekarang memenuhi pikiran (Namakamu) soal perkataan Raveno. (Namakamu) tidak tahu harus merespon bagaimana saat tahu bahwa Raveno ternyata sudah mengetahui hubungan Iqbaal dan Vanesha di masa lalu, jadi tanpa menanggapi perkataan Raveno mengenai hal tersebut (Namakamu) memutuskan untuk pergi. Dalam hati ada sedikit rasa perih karena tak rela Raveno mengetahui hal itu, namun di sisi lain ada juga perasaan bersalah karena harus meminta Raveno menjauhi Ruby hanya karena masa lalu yang terjadi antara Iqbaal dan Vanesha.
Sekarang (Namakamu) berada di kamar, ia hanya diam sambil sibuk dengan pikirannya. Pintu kamar tiba-tib terbuka menampilkan Iqbaal yang datang dengan segelas susu hangat di tangannya. Iqbaal tersenyum menatap (Namakamu) lalu menghampiri (Namakamu) dan duduk di sampingnya.
"Minum." Iqbaal memberikan susu hangat itu untuk (Namakamu). Apa yang Iqbaal ucapkan adalah perintah. Tanpa bicara (Namakamu) mengambil susu itu dan meminumnya sedikit.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu." (Namakamu) menatap Iqbaal dengan tatapan serius. Sebelum melanjutkan ucapannya (Namakamu) meletakan segelas susu itu di atas nakas. Kini perhatian (Namakamu) sepenuhnya tertuju pada Iqbaal.
"Apa kau memberitahu Raveno soal masa lalumu dengan Vanesha?" tanya (Namakamu).
Iqbaal menggeleng. "Menurutmu apa aku sebodoh itu memberitahu putraku tentang percintaan yang terjadi antara aku dan ibu temannya, aku masih memiliki akal sehat (Namakamu)."
(Namakamu) menghela napas, wajahnya tiba-tiba terlihat kesal. "Sebaiknya kau jujur! lalu jika bukan kau yang memberitahu Raveno lalu siapa?!" (Namakamu) sudah kehilangan kendali akan rasa kesalnya terhadap Iqbaal.
Melihat kekesalan yang (Namakamu) luapkan Iqbaal terdiam sesaat sebelum akhirnya terkekeh. Kekehan Iqbaal tentu menambah rasa kesal (Namkaamu). Iqbaal terlihat duakali lipat menyebalkan sekarang ini.
Iqbaal membelai rambut (Namakamu) dengan penuh kelembutan, lalu mengecup pipi (Namakamu) secara tiba-tiba. "Apa aku pernah mengatakan kalau kau sangat menggemaskan saat sedang marah? tapi sayangnya kemarahanmu tidak seharusnya kau luapkan pada suamimu yang jelas-jelas tidak melakukan apa yang kau tuduhkan tadi. Bukan aku yang memberitahu Raveno, aku bersumpah." ucap Iqbaal menatap dalam sepasang mata (Namakamu) mencoba meyakinkan (Namakamu) yang sekarang terlihat sedikit lebih tenang. Iqbaal lalu menarik (Namakamu) ke dalam pelukannya, kemudian kembali memberikan kecupan di wajah (Namakamu).
Dalam hati (Namakamu) mengutuk diri Iqbaal yang teramat sempurna hingga membuatnya sangat cepat luluh hanya dengan di berikan tatapan tulus dan kecupan ringan di pipinya. Pesona Iqbaal adalah kelemahan terbesar (Namakamu) saat sedang marah. Hanya dengan hal-hal kecil yang Iqbaal berikan akan melunturkan semua rasa kesal dan amarah (Namakamu). Sangat menyebalkan bukan?
(Namakamu) mengusap lengan Iqbaal yang melingkari pinggang rampingnya. "Kau curang."
Iqbaal tampak bingung. "Curang?"
(Namakamu) mengangguk. "Kau menggunakan pesonamu untuk meruntuhkan kemarahanku." cibir (Namakamu) sambil cemberut.
Iqbaal tersenyum sombong. "Itulah nasib yang harus kau terima jika memiliki suami yang sangat tampan." dan kali ini ingin sekali rasanya (Namakamu) memberi pukulan di kepala Iqbaal kerena sikap Iqbaal yang terlalu percaya diri.
"Tapi aku kali ini serius. Aku kecewa saat tahu Raveno ternyata sudah mengetahui hubunganmu dengan Vanesha,." kali ini topik pembicaraan kembali seperti semula.
Iqbaal mendengus. "Apa yang membuatmu kecewa hnm? Mungkin memang sudah waktunya Raveno tahu." ucap Iqbaal santai.
(Namakamu) memasang wajah murung. "Aku hanya tidak mau dia membencimu karena kau pernah menjalin hubungan dengan ibu dari perempuan yang dia sukai." ucap (Namkamu) dengan nada sedih.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Please Save Me"
RomanceKehidupan kelam yang begitu menyelimuti hidupnya membuat Pria bermata hazel ini ingin segera mengakhiri hidupnya. Tanggung jawab sebagai seorang CEO sudah cukup membuatnya merasa jengah, terlebih dengan kejadian dimana ia begitu bodoh terjerumus dal...
