"Papa...mama..."
Fakhri menatap Iqbaal dan (Namakamu) yang sekarang terdiam saat ia mengucapkan panggilan itu.
"Terimakasih banyak karena om Iqbaal dan tante (Namakamu) sudah memberikan aku kasih sayang yang selama ini tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Kasih sayang ini seperti kasih sayang dari papa dan juga mama.."
Perkataan Fakhri membuat sudut bibir Iqbaa terangkat membentuk sebuah senyum. Sementara (Namakamu) sudah sejak tadi tersenyum dan tidak bisa menutupi airmata bahagianya. Iqbaal bisa melihat bagaimana (Namakamu) sangat menyayangi Fakhri. Entah sejak kapan Iqbaal telah melupakan rasa kesalnya terhadap Fakhri dan entah sejak kapan juga Iqbaal mulai bisa menerima kehadiran Fakhri yang berada di antara dirinya dan (Namaakamu). Apa yang Fakhri katakan berhasil membuat Iqbaal merasa seperti menjadi seorang ayah kembali untuk putranya yang selama ini telah pergi. Sepertinya Fakhri berhasil menyingkirkan gunung es yang menutupi hati Iqbaal.
Iqbaal mengacak gemas rambut Fakhri sambil menatap Fakhri dengan tatapan yang sama seperti Iqbaal menatap Raveno dulu. Tatapan penuh kasih sayang dan rasa bangga. Iqbaal selalu bangga karena bisa menjadi ayah untuk jagoan kecilnya Raveno walau Tuhan tidak mengizinkannya untuk melihat Raveno tumbuh dewasa. Setidaknya sekarang Iqbaal mendapatkan hal yang dulu tidak Tuhan izinkan. Sekarang Iqbaal akan melihat Fakhri tumbuh menjadi pria dewasa yang sukses dan bertanggung jawab.
"Terimakasih kembali karena kau berhasil membuatku menjadi seperti seorang ayah..lagi." ucap Iqbaal masih menunjukan tatapan yang sama.
Fakhri baru saja ingin bicara menanggapi perkataan Iqbaal yang membuat rasa senang di hatinya semakin besar namun belum sampai mulutnya mengeluarkan suara kini sebuah pelukan erat ia dapatkan dari (Namakamu) yang sepertinya sudah sejak tadi gemas. (Namakamu) sadar jika Fakhri sudah remaja dan dia melakukan hal ini bukan karena dia wanita dewasa yang punya niat kotor, namun (Namakamu) sungguh tidak tahan melihat wajah tampan Fakhri yang juga menggemaskan dan yang terpenting! (Namakamu) seperti tengah memeluk Iqbaal versi remaja.
"Kau menggemaskan sekali!" seru (Namakamu) kali ini mencubit gemas pipi Fakhri.
Fakhri mengerucutkan bibir. ",..tante aku lebih suka jika tante menyebutku tampan.." cicit Fakhri dengan suara dibuat-buat seakan tersinggung. Tentu saja! kata menggemaskan itu hanya pantas di berikan pada bayi perempuan yang sedang menghisap ibu jari dengan kepala yang dihiasi pita besar atau bayi laki-laki yang sedang mengigit bola karet. Fakhri ini sudah remaja. Usianya sudah lima belas tahun dan dia bahkan sudah tahu apa itu berpacaran walau belum pernah berpacaran sekalipun.
(Namakamu) tertawa. "Habis kau itu menggemaskan tahu, lihat bagaimana bisa putraku yang berusia lima belas tahun memiliki wajah seperti anak usia sepuluh tahun! Oh, Tuhan memberimu wajah yang sempurna nak! banyak-banyaklah bersyukur." ucap (Namakamu) sambil terus menatap wajah Fakhri.
"Maksud tante aku tidak terlihat cukup gagah sebagai remaja?" kali ini Fakhri sungguh tersinggung.
(Namakamu) langsung menggeleng. "Tentu saja bukan itu maksudku, kau itu memiliki wajah yang babyface." elak (Namakamu) menyalahkan dugaan Fakhri yang sama sekali tidak benar. Sementara itu Iqbaal hanya menggeleng mendengar percakapan antara Fakhri dan istrinya yang super cerewet itu. Jika Iqbaal ada di posisi Fakhri maka Iqbaal pun juga akan merasa tersinggung dengan perkataan (Namakamu).
Iqbaal merangkul Fakhri. "Wanita itu cerewet, mereka suka berpendapat yang tidak-tidak tentang lelaki. Nak, sebaiknya kita pergi sebelum aku juga akan di cap menggemaskan olehnya." ucap Iqbaal membuat Fakhri tertawa lepas. Apa yang Iqbaal ucapkan tidak seharusnya terucap karena sekarang (Namakamu) sudah memberikan aura membunuh yang tidak akan bisa Iqbaal hindari.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Please Save Me"
RomanceKehidupan kelam yang begitu menyelimuti hidupnya membuat Pria bermata hazel ini ingin segera mengakhiri hidupnya. Tanggung jawab sebagai seorang CEO sudah cukup membuatnya merasa jengah, terlebih dengan kejadian dimana ia begitu bodoh terjerumus dal...
