Apa akan terus seperti ini? cukup. Ini akan sangat membosankan jika diteruskan. Rasa sakit ini. Ketakutan yang bergaung menghantui hidupku, tidak akan ada yang berubah..
Di tempat ini (Namakamu) terdiam bersama tangisan serta rasa sakit di hatinya. Tempat ini adalah tempat dimana dulu (Namakamu) menemukan jasad pria yang dicintainya tewas. Tempat ini penuh dengan airmata dan jeritan.
Tempat ini dimana awal dirinya terseret ke dalam langkah yang semakin jauh..
"Tidak boleh. Biar bagaimanapun semua sudah berubah, Iqbaal tidak akan seperti dulu lagi..aku..nghh..tapi bagaimana jika itu benar dan aku memang harus kalah darinya? aku ingin semua ini berakhir bukan untuk sesaat lalu kembali lagi.. aku tidak ingin mengulangi masa-masa yang telah lalu..aku akan melewatinya, namun..
Apa aku bisa?"
Dalam derasnya hujan (Namakamu) mencoba meyakinkan keputusannya.
Sekuat mungkin (Namakamu) menggerakan kakinya untuk berdiri. (Namakamu) menghapus airmata yang menganak sungai di kedua pipinya, (Namakamu) tidak akan kalah. Kedatangannya ke tempat ini bukan untuk terhasut oleh penuturan menjatuhkan yang di sampaikan oleh kakak iparnya, Salsha.
Tepat pukul 2 siang tadi (Namakamu) pergi meninggalkan rumah tanpa memberitahu Iqbaal. Yang lebih fatal adalah (Namakamu) pergi tanpa memikirkan Raveno yang pasti sejak tadi menangis kehausan. (Namakamu) sadar apa yang di lakukannya hari ini pantas membuatnya mendapat gelar 'Ibu yang jahat' karena pergi meninggalkan putranya yang belum berusia satu tahun. (Namakamu) benar-benar sangat menyesal karena terpancing oleh ajakan Salsha.
Di hujan masih mengguyur deras, tetapi (Namakamu) memilih pergi menerobos hujan. (Namakamu) sama sekali tidak peduli apa yang akan ia dapatkan setelah bertemu Iqbaal nanti, yang pasti apapun hukuman yang akan Iqbaal berikan untuknya, sebisa mungkin (Namakamu) akan menerima dan tidak akan membenci perlakuan yang Iqbaal berikan. Toh, ini semua memang murni kesalahan (Namakamu). Dan hukuman pantas untuk (Namakamu) dapatkan.
Untunglah derasnya hujan tidak membuat (Namakamu) kesulitan mendapatkan taxi. Dengan cepat (Namakamu) masuk ke dalam taxi dan meminta supir itu untuk melajukan mobilnya secepat mungkin.
***
Iqbaal sudah pulang dari toko bunga Dianty. Sekarang ini Iqbaal sedang duduk di ruang utama dengan Raveno yang berada di pangkuannya. Iqbaal menatap putra kecilnya itu yang sibuk mengigiti bola karet, raut wajah Iqbaal menunjukan tatapan kasihan pada Raveno yang harus menahan lapar dan haus karena tindakan (Namakamu) yang pergi entah kemana. Iqbaal menggerakan tangannya menarik bola karet yang berada di tangan Raveno membuat bola mata bulat milik Raveno terfokus menatap Iqbaal dengan bibir yang mulai bergetar hendak merengek. Iqbaal tersenyum, kemudian mengecup pipi Raveno.
"Papa tahu kau pasti haus dan lapar, tapi bola karet ini tidak akan membuatmu kenyang jagoan."ucap Iqbaal meletakan bola karet itu di atas meja. Selanjutnya Iqbaal memanggil suster dan meminta suster untuk membawakan biskuit bayi milik Raveno.
Tidak butuh waktu sampai 1 menit, suster datang dengan membawa biskuit bayi. Iqbaal meraihnya lalu mengizinkan suster itu pergi. Iqbaal tersenyum tipis saat tangan mungil Raveno berusaha untuk menggapai kotak biskuit itu dari tangannya.
"Ambil ini."Iqbaal memberikan satu biskuit itu pada Raveno. Iqbaal mengacak gemas rambut Raveno saat Raveno memasukan biskuit itu ke dalam mulut mungilnya dan mencoba untuk mengigitnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Please Save Me"
RomanceKehidupan kelam yang begitu menyelimuti hidupnya membuat Pria bermata hazel ini ingin segera mengakhiri hidupnya. Tanggung jawab sebagai seorang CEO sudah cukup membuatnya merasa jengah, terlebih dengan kejadian dimana ia begitu bodoh terjerumus dal...
