Part 7

2.2K 195 22
                                        

Bel istirahat sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Seperti kebanyakan anak lainnya, Letta dan Mira sedang menghabiskan waktu istirahat mereka di kantin. Apalagi setelah jam pelajaran Pak Tugiyo, guru fisika yang membuat kepalanya hampir pecah karena banyaknya rumus yang tidak ia ketahui dan tak bisa ia pahami.

Kadang Letta suka berpikir buat apa rumus-rumus itu dipelajari, toh nantinya kalau cewek juga bakalan jadi ibu rumah tangga. Jadi gak ada gunanya.

"Lo masih hutang penjelasan ke gue, Ta." kata Mira sambil memakan baksonya.

"Penjelasan apa?" Letta yang sudah habis makanannya hanya bisa menyeruput es teh miliknya sampai tandas.

"Yang tadi pagi. Gak usah pura-pura lupa."

"Oh yang itu. Gak ada yang perlu gue jelasin ke lo."

"Kebiasaan banget sih buat orang lain penasaran. Udah spoiler tapi gak mau lanjutin cerita." sungut Mira kesal.

Keduanya sekarang sudah selesai acara makannya. Hanya saja bel masuk belum berbunyi jadi lebih baik duduk-duduk santai di kantin.

"Siapa sih cowok nyebelin yang lo bilang tadi pagi?"

"Bukan siapa-siapa." jawab Letta cuek.

Letta enggan membahasnya dengan Mira karena ia tahu sahabatnya ini pasti akan berpikir yang macam-macam dan jauh dari kenyataan. Pernah dulu Letta bercerita tentang Asep, Mira dengan semangat mengira kalau Asep itu gebetannya Letta. Padahal Asep kan tukang ojek barunya Letta buat sekolah tepat ketika Hami tidak bisa berangkat bersamanya lagi. Mira ini terlalu mendukungnya mencari pengganti Hami.

"Cakep gak anaknya?" Mira menopang dagunya dengan tangan.

Letta mengernyit, ia lalu membayangkan wajah Alex. Sial, harus Letta akui kalau Alex memang cakep, tapi masa iya dia bilang kalau Alex cakep ke Mira. Bisa-bisa Mira semakin berpikir yang aneh-aneh. Dan juga sikapnya Alex yang kelewat nyebelin sama sekali gak cocok sama mukanya.

Tadi pagi aja dia dibohongi Alex, walaupun ia malah bersyukur karena Letta jadi ingat untuk cepat-cepat sekolah. Bersyukur lagi karena guru piketnya belum ke gerbang, ditambah guru yang mengajar jam pertama belum masuk. Kurang beruntung apa coba.

"Enggak sih, wajahnya biasa aja. Masih cakepan juga Hami." jawab Letta pada akhirnya.

"Ampun dah, Hami lagi Hami lagi. Lo gak ingat apa tadi malem udah dipatahin lagi hatinya sama dia. Lo lupa kalau lo nangis-nangis kemarin malem."

"Ya namanya juga suka mau disakitin berapa kalipun masih terima aja."

"Tapi kan nggak gitu juga kali, Ta."

"Lagian yah, Mir, gue yakin kalau itu yang upload fotonya bukan Hami. Palingan hpnya dibajak sama Ajeng."

"Alasannya?"

"Lo tahu sendiri kalau Hami gak suka ngumbar apapun di sosial media. Masa iya tiba-tiba dia upload foto dia sama pacarnya."

"Yang namanya juga orang pacaran mah bebas mau ngapain."

"Udahlah, jangan bahas dia lagi. Orangnya baru ke kantin tuh."

Mira mengalihkan pandangannya dan benar saja Hami dan juga Ajeng baru masuk kantin. Kebiasaan banget. Selama ini mereka berdua selalu ke kantin saat jam masuk sudah akan berbunyi. Letta tak terlalu memusingkan apa yang mereka berdua lakukan saat istirahat sampai-sampai ke kantin saat jam sudah mepet seperti sekarang ini.

"Ta, dia mau datengin lo lagi tuh." bisik Mira yang melihat Hami berjalan ke arah mereka.

Letta yang duduk membelakangi Hami hanya bisa menggeram kesal. Apa tidak cukup kemarin Hami mengusik ketenangannya saat di kantin dan malamnya malah upoad foto dirinya dan Ajeng. Sekarang malah Hami dengan terang-terangan mau mendatanginya lagi.

Mischievous BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang