"---Justru karena lo berharga bagi gue. Orang yang selalu terlintas pertama kali di pikiran gue itu lo, Arletta Zachary."
***
Letta mengerjapkan matanya karena tidak mengerti. Jujur saja ia dibuat bingung dengan perkataan Hami, cowok ini memang suka membuat segala sesuatunya membingungkan. Bicaranya sering kali membuat Letta salah paham. Kalau dulu waktu masih dekat, Letta menganggap kalau Hami ada rasa padanya dengan memberikan perhatian lebih. Tapi kalau sudah tinggal jadi teman, maksudnya apaan coba. Apa Hami mau membuatnya baper lagi, lalu meninggalkannya seperti yang pernah cowok itu pernah lakukan.
Hahh... Coba saja lakukan kalau berani. Lagipula perasaan Letta pada Hami sudah hampir terkikis habis. Sekarang Letta sudah punya harapan baru dan tentunya dengan orang yang baru juga.
"Gue--- gak tahu maksud lo apa." kata Letta sambil menggelengkan kepalanya.
Hami tersenyum simpul menjawab. "Gak ada maksud apa-apa. Jangan terlalu dipikirin. Maaf kalau selama ini buat lo bingung."
Tuhkan, Hami aneh lagi. Hampir saja Letta memutar bola matanya. Huuhh... Tadi jelas-jelas Hami mengatakan sesuatu yang tidak bisa Letta pahami, dan ketika Letta mencari tahu artinya, Hami malah menolak memberinya jawaban. Kalau begini caranya, jangan salahkan Letta kalau punya pemikiran sendiri tentang Hami. Semisal seperti tadi, Letta menyangka Hami hanya menjadikannya sebagai ajang pelampiasan rasa bosan saja.
Tapi... Tadi Hami sudah menyangkal semuanya dan sejujurnya Letta percaya. Cowok yang sedang bersamanya ini jarang bohong, makanya dengan cepat Letta percaya. Kalau begitu, Letta harus menyingkirkan semua prasangka buruknya dulu, ia juga belum tahu maksud kedatangan Hami ke sini untuk apa, kan? Jadi Letta membuat keputusan untuk tetap santai dengan Hami.
"Kenapa lo gak nemuin Ajeng?"
Pertanyaan bagus, pikir Letta.
"Gak kepikiran."
Pacar sendiri malah gak diinget.
"Jadi karena lo udah terlanjur kesini, niatnya lo mau ngapain?"
"Ketemu lo."
"Maksud gue habis itu ngapain setelah ketemu gue."
"Entahlah, gue juga bingung. Tapi yang jelas gue pengen ketemu lo aja."
"Kangen yah sama gue." canda Letta.
Jawaban Hami selanjutnya membuat Letta menyesali candaannya tadi. "Iya, kangen banget. Sampe gak bisa tidur."
"Apaan sih lo." Letta menonjok lengan Hami berusaha tidak memikirkan perkataan Hami barusan.
Lalu ia mengajak Hami masuk ke kelasnya kalau mau ngobrol. Hami setuju, ia pun mengikuti Letta masuk ke kelas dan duduk di kursi sebelahnya Letta.
Kening Hami mengernyit melihat tas yang ada di kursi itu. Ini kan tas cowok, pikirnya. Setelah Hami duduk ia baru bertanya pada Letta. "Ini tasnya Mira?"
Letta yang sedang melipat jubahnya yang tadi ia sampirkan ke kursi segera menoleh. "Bukan, itu bukan punya Mira. Punya Mira itu disana." Letta lalu menunjuk tasnya Mira berada, di kursi yang tak jauh dari tempat duduknya.
"Terus ini punya siapa?" Hami bertanya lagi sambil memegangi tas berwarna hitam itu.
Letta yang selesai melipat jubahnya dan menyimpannya ke dalam tas baru menjawab. "Itu punya Alex."
Kontan, hal itu membuat Hami terkejut dan menoleh ke Letta dengan cepat. "Alex?"
Letta mengangguk. "Iya,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mischievous Boy
Ficção AdolescenteHanya karena selembar kertas DO dari sekolahnya, hidup seorang Alex menjadi berubah 180 derajat. Yang biasanya dimanjakan dengan kekayaan orang tuanya di kota, harus rela dipindahkan ayahnya ke desa tempat neneknya tinggal tanpa membawa apapun. Dan...
