Setelah kejadian Letta dan Alex memergoki percakapannya Indra dan Mira, Letta belum melihat Mira lagi. Mira tiba-tiba menghilang dan tidak masuk ke kelas bahkan sampai bel pulang berbunyi setengah jam yang lalu. Hal ini tentu saja membuat Letta cemas dan khawatir akan kemana perginya temannya itu. Letta berdoa semoga tidak ada hal yang buruk terjadi pada temannya.
Letta berdiri dari kursinya dan hendak mengajak Alex untuk pulang ketika ia mendengar suara langkah kaki di koridor mulai mendekat. Suasana sekolah yang sudah sepi membuat langkah orang itu lebih jelas terdengar. Bisa Letta pastikan itu langkah anak cewek, karena dari suaranya tidak terdengar tegas.
"Menurut lo itu Mira atau bukan?" tanya Alex yang juga ikutan berdiri dan Letta menggeleng tidak tahu sebagai jawaban.
Namun, pertanyaan Alex terjawab beberapa detik kemudian karena orang itu masuk kelasnya mereka. Dan itu memang benar Mira. Mira terkesiap begitu mendapati Letta dan Alex masih berada di dalam kelas. Tidak jauh dengan Mira, Letta juga terkejut ketika mendapati mata Mira memerah dan sembab. Itu artinya Mira habis menangis.
"Mira, lo kenapa?" tanya Letta khawatir dan langsung menghampiri Mira yang justru terdiam di depan pintu.
Mira tampak bingung akan menjawab apa. Tapi lalu ia tersenyum ke Letta dan menggelengkan kepalanya. "Gak apa-apa. Emang gue kenapa?"
Kening Letta mengernyit. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan temannya ini. Namun Letta tidak akan memaksa Mira untuk jujur dulu, karena ia tahu ada baiknya ia memberikan Mira privasi sendiri. Mungkin besok-besok ia akan bertanya lagi.
"Tapi mata lo merah, lo habis nangis kan." tebak Letta yang lebih terdengar sebagai pernyataan, bukan pertanyaan.
Wajah Mira memucat tapi sedetik kemudian tiba-tiba tertawa dan Mira menggelengkan kepalanya geli. "Ya ampun, Ta. Mana mungkin gue nangis. Gue tadi cuma ketiduran di belakang sekolah."
"Di belakang sekolah?" Letta jadi semakin curiga dengan apa yang disembunyikan Mira. Karena ia tahu mana mungkin temannya ini bisa sampai tertidur di sekolah. Sejauh ia kenal dengan Mira, Mira tidak pernah sampai begitu.
Mira mengangguk cepat. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Iya, setelah lo dengar percakapan gue sama Indra tadi dan lo pergi, Indra juga pergi. Lo tahu gue marah dan kecewa berat sama dia. Gue takut gak bisa tenang kalau ke kelas. Alhasil gue milih buat duduk di salah satu kursi yang gak kepake lagi di sana."
"Dan lo bisa sampe ketiduran?"
Lagi-lagi Mira mengangguk. "Hhmm... Gue juga gak kepikiran bisa sampe tidur di sana. Gue padahal niatnya cuma duduk-duduk sebentar sampai gue bisa tenang. Tapi lo tahu kan disana anginnya rada kencang, adem juga gitu. Yaudah, gue jatuh tetidur di sana."
Letta sebenarnya masih ragu apakah ceritanya Mira ini benar adanya. Tapi untuk kali ini ia memilih untuk percaya dulu. "Ehh... Tapi kalau gak salah waktu lo sama Indra, lo sempat nangis juga, kan?"
Mira tergagap. "I--- iya gue emang sempat nangis. Tapi seperti yang gue kasih tahu lo tadi, itu karena gue terlalu marah dan kecewa sama dia. Bisa-bisanya dia begitu sama lo dan Hami." ujar Mira, lalu ia menambahkan. "Tapi lo gak apa-apa?"
Letta memberikan pandangan seakan bertanya apa maksudnya. Kemudian Mira menjawab. "Indra kan udah jahat sama lo dengan misahin lo sama Hami." ada jeda sesaat. "Lo pasti sakit hati banget begitu tahu kalau semua ini hasil perbuatannya Indra."
"Gue emang sakit hati dan sama seperti lo, gue kecewa sama Indra. Tapi setelah gue pikir lagi, sekarang udah gak apa." kemudian Letta menoleh ke belakang ke arah Alex yang sedang sibuk bermain dengan ponselnya. Mira pun mengikuti arah pandangan Letta. Begitu kembali, Letta berbisik kepadanya. "Lo tahu maksud gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mischievous Boy
Fiksi RemajaHanya karena selembar kertas DO dari sekolahnya, hidup seorang Alex menjadi berubah 180 derajat. Yang biasanya dimanjakan dengan kekayaan orang tuanya di kota, harus rela dipindahkan ayahnya ke desa tempat neneknya tinggal tanpa membawa apapun. Dan...
