Part 35

1.3K 138 17
                                        

Hari pensi tiba hari ini. Terhitung sudah tiga jam sejak pensi ini dibuka. Acara ini dihadiri oleh banyak orang, bukan hanya dari SMA Prisma saja, ada banyak anak sekolah lain yang juga turut hadir ikut mengisi acara memberikan pertunjukan bakat yang mereka miliki, banyak juga warga sekitar atau orang luar yang datang masuk ke sekolah. Dengan pemasaran dan iklan yang bagus dan terencana, maka tak ayal acara pensi ini sukses besar. Beberapa stand makanan dan produk lokal milik sponsor ataupun milik siswa didirikan di bagian pinggir lapangan.

Acara yang besar seperti ini membuat para pengisi acara lantas menjadi gugup, takut melakukan kesalahan. Begitupun yang dirasakan oleh Letta. Cewek itu sudah dirias oleh Bella. Bella, seseorang yang pernah ia sarankan ke guru seni budaya sebagai putri tapi ternyata perannya menjadi juru rias. Tidak salah pilih sih, hasil riasan Bella pas khas anak muda. Tidak berlebihan ataupun menor. Semua dilakukan secara apik dan rapih.

"Sentuhan terakhir, tinggal anting-antingnya." Bella mengambil anting berwarna putih di dalam kotak.

Letta diam saja ketika satu persatu anting itu dipasangkan ke telinganya.

"Coba deh dilihat." Bella menyodorkan kaca ke depan muka Letta. Letta mengambil alih kaca itu, ia menggerakkan kepalanya ke samping agar anting itu lebih terlihat dari kaca.

"Bagus, gue suka sih. Tapi, modelnya ada yang lain gak?" tanya Letta setelah meneliti model anting yang ia pakai ternyata itu model yang tak ia sukai, yang paling ia hindari.

Bella tampak mencari anting model lainnya tapi gak dapat. "Gak ada, emangnya kenapa sama yang itu? Menurut gue itu udah cocok ditambah lagi gaun yang lo pakai warnanya putih juga, dan percaya deh lo tambah kelihatan cantik."

Letta mendesah pelan. "Begini, gue takut anting ini bakalan nyangkut ke gaunnya. Gue pernah pake anting model gini beberapa kali tapi akhirnya selalu aja nyangkut ke baju gue."

Bella tertawa lalu menepuk pundak Letta. "Itu mah namanya lo yang ceroboh, gue pernah pake yang kayak gitu tapi baik-baik aja."

Letta tidak menjawab. Ia memilih melihat wajahnya yang sudah dirias di cermin. Tampak sangat berbeda dan terasa bukan dirinya. Matanya terlihat lebih tajam dengan bulu mata palsu yang membuat bulu matanya lebih lentik dari sebelumnya. Bibirnya juga warna pink cerah, tidak pucat seperti biasanya. Apakah ini memang cocok dengan dirinya? Ia takut penampilannya akan memalukan nanti.

Letta melirik ke samping ketika Bella berdiri. Lalu Bella mengatakan sesuatu sambil tersenyum. "Gue mau ngerias yang lain dulu ya. Lo gak boleh garuk muka kalau gatal, cukup ditahan, oke. Gue gak mau hasil karya gue hancur karena tangan usil lo."

Letta balas tersenyum. "Akan gue usahain, tapi gak janji."

Satu jam kemudian semua anak kelasnya Letta disuruh berkumpul membentuk sebuah lingkaran. Letta berdiri di antara Alex dan Mira. Alex berada di kanannya dan Mira di sisi kirinya. Mereka semua nantinya akan berdoa bersama terlebih dahulu demi kelancaran dan kesuksesan acara serta penampilan mereka.

Setelah diberi interupsi, anak-anak mulai saling berpegangan tangan. Dan Letta sempat menegang ketika tangan Alex yang hangat menyelimuti tangannya yang mungil. Alex dengan sengaja memberikan usapan dengan jempol cowok itu di sekitaran jemari Letta. Letta menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.

Beruntung ketua kelas segera menengahi dan mengajak untuk mulai berdoa bersama. Ketika berdoa, suasana hening tanpa ada yang bersuara. Lalu selesai dan semua anak mulai berpencar. Letta sudah melepaskan tangannya dengan Mira, tetapi tangan Alex masih terus menggenggam tangannya. Bukannya dilepaskan, Alex malah menggenggamnya semakin erat ketika Letta berusaha melepaskannya.

"Alex, lepasin." bisik Letta sambil meronta, takut ada yang melihat mereka berdua.

Tanpa butuh usaha lebih keras, nyatanya Alex segera melepaskan tangannya Letta. "Tangan lo beruntung."

Mischievous BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang